Kamala Harris Wapres Perempuan Pertama AS

-

- Advertisment -

Kamala Harris Wapres Perempuan Pertama AS

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Senator Kamala Harris menjadi wapres perempuan pertama di AS setelah penghitungan suara memastikan dia dan calon presiden Joe Biden memenangi pemilihan, Sabtu (7/11/2020) siang waktu setempat.

Harris perempuan campuran Afrika-Asia pertama sebagai wapres AS. Saat ini dia merupakan senator mewakili California sejak 2017. Dia pernah menjabat jaksa agung di negara bagian tersebut, untuk menunjukkan bahwa Harris memang bukan orang sembarangan di jagat politik Amerika.

Ibunya, Shyamala Gopalan, lahir di Chennai, India, dan bermigrasi ke AS untuk mendapatkan gelar doktor di University of California, Berkeley. Ayahnya adalah seorang keturunan Jamaika. Harris disebut-sebut sebagai sosok pengganti Barack Obama, yang juga menorehkan sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika.

Seperti Obama, yang campuran kulit hitam dan kulit putih, riwayat keluarga ini memungkinkan Harris untuk berbaur ke berbagai kelompok identitas dan menggapai kantung-kantung suara yang lebih beragam.

“Saya sudah cukup lama mengenal Senator Kamala Harris. Dia lebih dari siap untuk menjalankan tugas ini [wakil presiden]. Dia menghabiskan karirnya untuk membela konstitusi dan orang-orang yang butuh keadilan. Ini hari yang baik untuk negara kita, dan mari kita menangkan,” tulis Obama di Twitter saat mendengar Harris dikonfrimasi sebagai pendamping Biden.

Kehadiran Harris seperti penawar melawan petahana Trump yang mengusung retorika anti-imigran. Harris bukan orang sembarangan, ditilik dari latar belakang ibunya.

Kakeknya dari garis ibu adalah salah satu pejuang kemerdekaan India dan pernah menduduki jabatan setara menteri luar negeri. Dikutip dari Beritasatu, Harris adalah cawapres perempuan ketiga di AS, setelah Geraldine Ferraro (Partai Demokrat) pada 1984 dan Sarah Palin (Partai Republik) pada 2008.

Diremehkan

Tim kampanye Trump memberi Harris julukan “phony” atau kurang lebih “tukang pura-pura”, melengkapi julukan “sleepy Joe” pada Biden.

Mereka juga pernah berusaha mengadu domba Biden dan Harris: “Belum lama berselang, Kamala Harris menyebut Biden seorang rasialis dan menuntut permintaan maaf, yang tidak pernah diterimanya.”

Tuduhan itu merujuk pada debat internal Demokrat di Miami Juni tahun lalu antara Biden melawan Harris, yang sebelumnya juga berambisi jadi capres dari partai tersebut.

Sebetulnya dalam debat tersebut Harris tidak secara eksplisit menyebut Biden seorang rasialis, tetapi mengkritik Biden karena bekerja dengan dua senator yang dikenal segregationist atau orang yang anti dengan ras lain.

Solid

Harris menyebut bahwa dia dan Biden adalah paket yang sangat solid dan tidak bisa dipecah belah.

“Joe Biden bisa mempersatukan rakyat Amerika karena dia telah menjalani hidupnya dengan berjuang demi kita. Dan sebagai seorang presiden, dia akan membangun Amerika sesuai dengan idealisme kita,” kata Harris.

“Saya merasa terhormat bisa bergabung dengannya sebagai bakal calon wakil presiden dari partai kita, dan akan melakukan apa pun untuk menjadikannya panglima tertinggi kita.”

Ketua DPR Nancy Pelosi mengatakan penunjukan Harris merupakan “tonggak bersejarah dan membanggakan bagi negara kita”.

Mantan presiden Bill Clinton menyebutnya sebagai “pilihan yang luar biasa”.

Hal senada diucapkan istrinya, Hillary, yang pernah merasakan sendiri serangan-serangan pribadi dan di luar batas dalam kontestasi politik melawan Trump pada pilpres 2016.

“Saya sangat antusias menyambut Kamala Harris yang mendapat tiket bersejarah dari Demokrat,” kata Hillary.

“Dan saya tahu dia akan menjadi mitra yang sangat tangguh untuk Joe Biden,” imbuhnya.

Berani

Harris, 55, meroket di pentas politik Demokrat setelah dia ikut “menginterogasi” para pejabat publik kontroversial yang ditunjuk Trump, seperti mantan Jaksa Agung Federal Jeff Sessions dan Hakim Agung Brett Kavanaugh.

Harris juga dengan garang memojokkan dan tidak memberi kesempatan pada Jaksa Agung William Barr untuk bisa membela diri dalam dengar pendapat Kongres dan video adegan itu sangat viral.

Dia menginterogasi para petinggi hukum itu di rapat Kongres seperti menginterogasi terdakwa di ruang sidangnya di California dulu, dengan argumen-argumen yang sulit dibantah dan pilihan kata yang sangat lugas.

Trump bahkan masih menyimpan dendam pada Harris karena interogasi yang sangat berani dan keras pada Kavanaugh, yang pernah dituduh melakukan pelecehan seksual.

“Pendapat saya, dia adalah orang paling jahat, paling mengerikan, dan paling tidak hormat pada sesama di Senat AS,” kata Trump ketika itu.

“Saya tidak akan melupakan itu.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda