Tembaki Orangutan ‘Hope’ 74 Kali, Pelaku Hanya Disanksi Sosial

-

- Advertisment -

Tembaki Orangutan ‘Hope’ 74 Kali, Pelaku Hanya Disanksi Sosial

Berita Hope yang menjadi tajuk utama di koran New York Times. (Kompas.com)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Masih ingat dengan kasus yang menimpa Hope? Orangutan Sumatera malang itu mengalami luka yang sangat mengerikan usai tubuhnya dihujani 74 butir peluru senapan angin.
Beruntungnya, satwa yang dilindungi undang-undang itu masih bisa bertahan sedangkan anaknya yang baru berusia satu bulan menghembuskan nafas terakhir di perjalanan usai berhasil dievakuasi karena kekurangan gizi.
Kasus yang menyita perhatian hingga mengundang empati dari dunia internasional itu terjadi pada 10 Maret 2019 lalu di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh.
Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, S.Hut, M.Si kepada Klikkabar.com mengatakan, Hope hingga saat ini masih menjalani perawatan untuk proses penyembuhan termasuk kondisi psikologisnya.
Hasil rontgen Hope. (Dok. YEL-SOCP)

Baca Juga: YOSL-OIC dan Para Pejuang Restorasi di Gayo Lues
“Kedua matanya buta. Saat ini, Hope masih mejalani perawatan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara,” kata Sapto kepada Klikkabar.com, Selasa (29/7).
Kedua pelaku dikatakan Sapto masih di bawah umur. Dimana pelaku AIS (17) berstatus pelajar kelas 1 SMA dan SS (16) masih berstatus pelajar kelas 3 SMP, sehingga upaya diversi harus dilakukan.
Diversi dapat diartikan sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana, meski keduanya diduga kuat melanggar pasal 21 ayat (2) huruf a Jo pasal 40 ayat (2) Undang-undang RI No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Tim medis di pusat Karantina Sibolangit, Sumatera Utara saat malakukan penanganan terhadap ‘Hope’, Rabu (13/03/2019). (Dok. YEL-SOCP)

Baca Juga: Surga Kehidupan Itu Bernama Rawa Singkil
“Menurut pengakuan mereka, Hope ditembaki dengan tujuan ingin menguasai anaknya. Namun, Orangutan pasti berusaha memperjuangkan anaknya mati-matian, sehingga (Hope) terus ditembaki,” kata Sapto.
Setelah dilakukan upaya diversi, sambungnya, tercapai kesepakatan bahwa kedua pelaku hanya dikenakan sanksi sosial. Kesepakatan itu tercapai setelah dilakukan mediasi di Polsek Sultan Daulat, Senin (29/7).
Disebutkannya, kedua pelaku diwajibkan azan Magrib dan salat Isya berjama’ah di masjid desa setempat selama 1 bulan dengan pengawasan dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Aceh Singkil dan perangkat desa.
“Jika dilanggar, maka hitungan akan dimulai lagi dari awal (nol). Selain itu, kedua pelaku juga harus membersihkan mushala dan masjid setempat serta mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada pihak terkait,” jelasnya.
“Semoga putusan ini dapat memberi efek jera bagi pihak-pihak yang ingin melakukan tindak kejahatan tumbuhan satwa liar (TSL) sekaligus menjadi penyadartahuan kepada seluruh masyarakat,” pungkas Sapto.

Lihat Juga: Secercah Harapan untuk Salma
Bayi Orangutan Dievakuasi di Aceh Timur
Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda