Sukanto Tanoto, Konglomerat Kelahiran Belawan yang Beli Istana Raja Jerman

-

- Advertisment -

Sukanto Tanoto, Konglomerat Kelahiran Belawan yang Beli Istana Raja Jerman

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Pemberitaan dalam beberapa hari terakhir ini diramaikan dengan kabar yang datang dari salah seorang pengusaha asal Indonesia, Sukanto Tanoto.

Dia dikabarkan membeli gedung Ludwigstrasse 21 atau bekas istana Raja Ludwig di Munchen, Jerman dengan nomintal yang fantastis, mencapai 350 juta euro atau hampir Rp6 triliun.

Salah satu proyek Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP), platform jurnalisme investigatif untuk menguak kasus kejahatan terorganisir dan korupsi dalam skala besar, OpenLux mengungkap fakta tersebut.

Dalam laporan OpenLux disebutkan, Tanoto bersama anaknya Andre Tanoto membeli bekas istana Raja Ludwig pada Juli 2019, beberapa bulan setelah Komisi Eropa menghentikan penggunaan minyak sawit dalam biofuel di Uni Eropa (UE).

Uni Eropa beralasan penggunaan minyak sawit berakibat pada aktivitas penebangan hutan atau deforestasi yang berlebihan di berbagai tempat. Salah satunya, Indonesia.

“Saya mengkhawatirkan bahwa seorang taipan sumber daya alam Indonesia ternyata dapat menginvestasikan ratusan juta euro di real estate Eropa melalui yuridikasi kerahasiaan, tanpa ada yang benar-benar tahu soal itu,” kata Peneliti di Auriga Nusantara Foundation, dikutip dari laman resmioccrp.org via CNN, Senin (15/2).

Lantas, siapa sosok Sukanto Tanoto sebenarnya? Berikut ini tampilan profil singkatnya, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber.

Sukanto Tanoto lahir pada 25 Desember 1949 di Belawan, Medan, Provinsi Sumatera Utara. Ayahnya adalah seorang imigran dari kota Putian, provinsi Fujian, daratan Tiongkok. Pada tahun 1966, Sukanto Tanoto terpaksa berhenti sekolah setelah sekolah Tiongkok pada waktu itu ditutup.

Sukanto Tanoto merupakan pengusaha otodidak dan tidak menyelesaikan pendidikan formal di bangku sekolah.

Dia belajar bahasa Inggris kata demi kata menggunakan kamus bahasa Tiongkok – Inggris dan akhirnya mampu mengikuti sekolah bisnis di Jakarta pada pertengahan tahun 1970 dan melanjutkan belajar di INSEAD di Fontainebleau, Prancis.

Dia tidak dapat meneruskan sekolah ke sekolah nasional juga diakibatkan ayahnya yang masih berkewarganegaraan Tiongkok. Setelah sang ayah meninggal, dia harus menjalankan bisnis keluarga.

Bisnis yang dibangun Sukanto Tanoto, berawal dari sebuah toko sederhana milik keluarga. Bermula dari sebuah rumah toko dua lantai yang kecil, yang dimanfaatkan keluarga untuk berdagang sekaligus tempat tinggal.

“Saya akhirnya tinggal di lantai atas di rumah toko tempat usaha keluarga,” kenang Sukanto Tanoto.

Secara bertahap Sukanto Tanoto mengembangkan bisnisnya mulai dari perdagangan umum hingga memenangkan kontrak-kontrak bisnis pembangunan jaringan pipa gas internasional.

Pada saat terjadi krisis minyak pada tahun 1972 yang menyebabkan harga minyak dunia melambung, Sukanto Tanoto mendapatkan keuntungan dari bisnis kliennya yang berkembang secara pesat.

Dengan tambahan modal usaha, Sukanto Tanoto mengalihkan perhatiannya pada bisnis lain yang berbeda pada tahun 1973, pada saat itu Indonesia menjadi pengekspor kayu log ke Jepang dan Taiwan untuk diolah menjadi plywood, sebelum diimpor kembali ke Indonesia dengan harga yang mahal.

Sukanto Tanoto melihat situasi tersebut sebagai peluang untuk membangun sendiri pabrik pengolahan kayu di Indonesia yang bisa didirikan dan mulai beroperasi pada 1975.

Pada tahun 1997, Sukanto Tanoto memilih menetap di Singapura bersama keluarganya, dan mendirikan kantor pusatnya di sana. Sukanto Tanoto tetap merupakan warga negara dan memegang paspor Indonesia.

Pada tahun 2013 sebagaimana dilansir dari WIkipedia, dia adalah salah satu pengusaha terkaya di Indonesia dengan nilai aset sebesar 2,3 miliar dollar. Bisnis Sukanto Tanoto dijalankan oleh kelompok usaha the Royal Golden Eagle International (RGEI), yang dulu dikenal sebagai Raja Garuda Mas.

RGEI bergerak di berbagai industri di antaranya yang terbesar yakni industri kertas dan pulp Asia Pacific Resources International Holding Ltd atau APRIL dan Asian Agri dan Apical, produsen minyak sawit terbesar di Asia.

Bisnis yang dijalankan Royal Golden Eagle pun tidak terbatas di Indonesia. Mereka telah melebarkan sayapnya hingga ke luar negeri: Singapura, Malaysia, Filipina, Finlandia, Tiongkok, Brasil, hingga Kanada. Hingga kini Royal Golden Eagle telah mampu mempekerjakan sekitar 50 ribu orang karyawan di berbagai negara.

Sukanto juga memiliki Bracell Limited di Brazil. Perusahaan ini merupakan produsen selulosa terbesar di dunia. Selulosa kerap dipakai sebagai bahan dasar berbagai macam produk, dari tisu bayi hingga es krim.

Saat pemerintah gencar mewacanakan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur, nama Sukanto Tanoto juga pernah menjadi sorotan saat pemerintah mewacanakan pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Dia disebut memiliki lahan di bawah bendera PT ITCI Hutani Manunggal (IHM) yang berada di Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kecamatan Sepaku Semoi Kabupaten Penajam Paser Utara.

PT IHM merupakan pemasok utama bahan baku kertas yang diproduksi oleh APRIL Group yang juga milik Sukanto Tanoto. Raksasa kertas itu mengelola kawasan yang masuk Hutan Tanaman Industri (HTI).

Dicatat Forbes, kekayaan Sukanto Tanoto mencapai 1,35 miliar dollar AS atau sekitar Rp 19,07 triliun. Kekayaan terbesarnya salah satunya berasal dari perkebunan sawit di bawah RGEI dan namanya bersanding dengan nama-nama besar seperti Anthony Salim, Martua Sitorus, dan Ciliandra Fangiono. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda