Home / ACEH / Secercah Harapan untuk Salma

Secercah Harapan untuk Salma

Salma, bayi gajah Sumatera yang terkena jerat pemburu saat dirawat di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Aceh Timur, Kamis (20/6/2019). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Bagi manusia, terpisah dari orangtua saat masih kecil tentu akan memberikan dampak dan pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan serta pertumbuhan sang anak. Tak terkecuali bagi binatang sekalipun.

Ini adalah salah satu kisah sedih yang datang dari Aceh Timur, dimana seekor bayi gajah Sumatera yang ditaksir usianya belum lebih dari 1 tahun, terkena jerat pemburu (diperkirakan jerat rusa) di pedalaman hutan Aceh Timur tepatnya di Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih.

Dengan usia yang masih sangat muda karena masih menyusu pada induknya, Salma, nama yang diberikan oleh sejumlah ranger Forum Konservasi Leuser (FKL) yang full power membantu proses pencarian dan evakuasi, tentu sangat rentan mengalami stres.

Field Manager FKL Resort Langsa, Nurul Hidayat Lubis kepada Klikkabar.com mengatakan, proses pencarian bayi gajah betina itu tergolong sangat heroik. Bermodalkan jejak tapak, para relawan yang dibagi kedalam 3 tim berusaha mencari keberadaan satwa dilindungi itu selama 2 hari 2 malam sejak Minggu (16/6).

Sejumlah warga melihat Salma, bayi gajah Sumatera yang terkena jerat pemburu saat dirawat di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Aceh Timur, Kamis (20/6/2019). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Baca: Bayi Gajah Terjerat di Aceh Timur

Tim gabungan FKL, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta dibantu dokter hewan dan warga setempat akhirnya berhasil menemukan Salma, yang terperosok kedalam gua bebatuan, Selasa (18/6).

“Dengan peralatan seadanya, tim kemudian berhasil mengangkat Salma menggunakan tali. Luka akibat jerat di kaki kiri bagian depan sudah infeksi, sangat parah,” kata Hidayat Lubis kepada Klikkabar.com, Kamis (20/6).

Setelah berkoordinasi dengan BKSDA Aceh, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Salma akan dibawa ke Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Aceh Timur. Hal ini untuk memudahkan proses perawatan ketimbang merawatnya di posisi semula, didalam hutan.

Rabu (19/6/2019) sore, tim berangkat dari Simpang Jernih. Setelah menuntun hingga menggotong gajah keluar dari hutan selama beberapa jam, perahu menjadi moda transportasi selanjutnya untuk mencapai Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Tim BKSDA Aceh, FKL dan tim medis mengangkat Salma dari perahu saat tiba di CRU Serbajadi, Aceh Timur, Kamis (20/6/2019). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Baca: Bayi Gajah yang Terjerat di Aceh Timur Terluka Parah

Setelah mengarungi sungai lebih kurang 2 jam, tim tiba di Langsa. Di kota bekas pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Timur (sebelum pemekaran tahun 2002), uji laboratorium dilakukan setelah mengambil sampel darah gajah.

“Hasil lab menunjukkan bahwa gajah mengalami malnutrisi dan dehidrasi berat. Selain itu gajah juga mengalami stres akibat terpisah dari induknya,” kata drh. Anhar Lubis didampingi drh. Rossa Rika Wahyuni.

Perjalanan belum berhenti sampai disitu, tim selanjutnya harus menempuh perjalanan darat kurang lebih 4 jam untuk mencapai CRU Serbajadi. Kamis (20/6) dinihari WIB, mereka pun tiba dan beristirahat di salah satu rumah warga.

Mengarungi sungai harus kembali dilakukan untuk mencapai CRU. Hal ini disebabkan akses jalan menuju camp CRU telah tertimbun longsor parah beberapa waktu lalu sehingga sungai menjadi pilihan satu-satunya.

Salma di perjalanan saat menuju ke CRU Serbajadi, Aceh Timur, Kamis (20/6/2019). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Baca: Bayi Gajah yang Terjerat di Aceh Timur Dinamai Salma

Jika berbicara soal luka, drh. Anhar meyakini bahwa luka di kaki Salma dapat disembuhkan. Namun, satu hal yang dikhawatirkannya kini adalah kemungkinan luka di bagian dalam atau organ tubuh Salma.

“Karena terperosok didalam gua, pasti gajah malang ini terjatuh dan badannya terbentur batu. Bisa dilihat, kulitnya banyak yang lecet,” timpal drh. Rossa.

Kini, Salma telah menjalani perawatan medis untuk kesembuhan luka di kakinya. Sejumlah asupan nutrisi juga telah diberikan oleh tim medis untuk mencukupi gizi yang dibutuhkan oleh Salma.

“Nafsu makannya sudah ada, namun yang namanya bayi, asupan nutrisi utamanya adalah susu dari induknya. Hal ini yang menjadi fokus perhatian kita sekarang,” tukas drh. Anhar Lubis.

Salma, bayi gajah Sumatera yang terluka akibat terkena jerat pemburu saat menjalani perawatan medis di CRU Serbajadi Aceh Timur, Aceh, Kamis (20/6/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Kabar gembira pun datang pada Sabtu (22/6) kemarin. Salma dikabarkan sudah mau minum susu dan makan makanan yang ringan, sehingga tenaga dan staminanya sudah pulih kembali.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, S.Hut, M.Si saat dikonfirmasi Klikkabar.com, Minggu (23/6) juga mengabarkan perihal kondisi kesehatan Salma yang sudah berangsur membaik.

Tim medis BKSDA dan mitra FKL dikatakannya sampai saat ini terus merawat dan memantau keadaan Salma yang kondisinya sempat kritis beberapa hari lalu.

“Alhamdulillah sudah membaik dan masalah kritis sudah terlewati. Sekarang masih dalam perawatan untuk merawat luka agar tidak terjadi infeksi,” ujarnya.

Lihat Juga: Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur