Polres Gayo Lues Bongkar Sindikat Perdagangan Satwa Langka, Ratusan Organ Diamankan

-

- Advertisment -

Polres Gayo Lues Bongkar Sindikat Perdagangan Satwa Langka, Ratusan Organ Diamankan

KLIKKABAR.COM – Pihak Kepolisian Resort (Polres) Gayo Lues, Provinsi Aceh berhasil mengungkap kasus tindak pidana perdagangan satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang.

Kapolres Gayo Lues AKBP Carlie Syahputra Bustamam, SIK mengatakan, dalam kasus ini pihaknya berhasil mengamankan barang bukti tindak pidana berupa ratusan organ tubuh satwa yang dilindungi.

Disebutkan perwira menengah Polri tersebut, pengungkapan kasus ini berawal atas informasi dari masyarakat tentang akan terjadinya proses atau transaksi jual beli bagian/organ tubuh satwa liar dilindungi.

Dalam kasus ini, polisi berhasil menangkap dua tersangka di dua lokasi yang berbeda. Mereka adalah Sua alias Sardin (28), warga Kecamatan Pantan Cuaca dan Sud alias Onot (36), warga Kecamatan Pining, Gayo Lues.

“Keduanya ditangkap di tempat terpisah yakni di salah satu hotel di Kecamatan Blangkejeren serta di Kecamatan Pining,” ujar Kapolres didampingi Kasat Reskrim Iptu Irwansyah dan perwakilan BKSDA Aceh, Ali Sadikin di Mapolres setempat, Rabu (3/3).

Dijelaskan Carlie, usai menerima informasi akan adanya transaksi jual beli bagian tubuh satwa dilindungi tersebut, Unit Resmob Sat Reskrim Polres Gayo Lues dan Tim Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) langsung menuju ke lokasi.

Setibanya di lokasi, tim langsung menangkap tersangka Sua alias Sardin dan mengamankan sejumlah barang bukti 8 buah kuku beruang madu, 11 tulang gigi geraham beruang madu, 4 buah taring beruang madu, 4 buah tanduk kambing hutan dan 1 tanduk kijang.

Diakui tersangka Sua alias Sardin, bagian tubuh satwa liar dilindungi ini diperoleh dari tersangka Sud alias Onot yang tak lama kemudian juga berhasil ditangkap oleh petugas.

“Dalam penangkapan ini turut diamankan barang bukti 20 taring beruang madu, 70 kuku beruang madu, selembar kulit harimau berukuran 5,5 x 3 sentimeter serta setumpuk kotoran harimau, motor dan handphone serta lainnya,” jelas Carlie.

“Kepada petugas, Sud alias Onot mengaku kerap melakukan perburuan satwa liar dengan teknik jerat,” kata mantan Kabag Ops Polresta Banda Aceh ini lagi.

Pengembangan kasus selanjutnya dilakukan ke rumah Sud, hingga akhirnya petugas juga mengamankan barang bukti lain berupa 31 helai bulu burung Kuau Raja dan sebuah gulungan tali yang digunakan tersangka untuk menjerat buruan.

“Kini mereka masih ditahan di Mapolres Gayo Lues beserta barang bukti, tersangka dijerat Pasal 40 Ayat 2 dan 4 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” jelasnya.

Di akhir keterangannya, Carlie mengimbau warga agar tidak menangkap, memburu dan memelihara satwa langka yang dilindungi untuk menjaga kelestarian alam, flora dan fauna agar tidak punah.

Hal itu dikatakan Carlie sesuai dengan ketentuan di UU Nomor 5 Tahun 1990 yang menyatakan bahwa :

“Setiap orang dilarang untuk :

a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;

c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

“Bagi masyarakat yang masih memelihara lebih baik segera diserahkan ke pihak berwajib atau BKSDA,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda