Soal Listrik, Aceh Tak Bergantung Sumut

-

- Advertisment -

Soal Listrik, Aceh Tak Bergantung Sumut

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Pembangunan infrastruktur kelistrikan terus dilakukan Pemerintah di Provinsi Aceh. Berdasarkan catatan PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero), rasio elektrifikasi di Aceh mencapai 99,97 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Bisnis Regional Sumatera Kalimantan PT PLN (Persero), Wiluyo Kusdwiharto dalam acara Ngobrol Cak Ham Episode 8 dengan tema “Listrik Untuk Kemajuan Aceh”, melalui platform Zoom, Minggu (9/8/2020) malam.

“Rasio elektrisasi Aceh hingga Juni 2020 mencapai 99,97 persen,” kata Wiluyo dalam acara yang digagas oleh Industrial Practitioner Hamdani Bantasyam ini.

Disebutkan Wiluyo, dari desa di 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh, hampir semuanya telah dialiri listrik dengan persentase 100 persen.

Hanya ada dua kabupaten yang belum mencapai rasio 100 persen, yakni Kabupaten Pidie Jaya sebesar 99,44 persen dan Kabupaten Bireuen sebesar 99,9 persen.

Ditambahkan Wiluyo yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), pihaknya berharap agar tahun 2021 mendatang, persentasenya akan mencapai 100 persen.

“Kami berharap Aceh bisa maju di sisi desa berlistrik dan angka rasio kelistrikan dibanding wilayah lain di pulau Sumatera, karena Aceh berhak mendapatkan itu,” tegasnya.

Surplus Listrik

Aceh saat ini juga termasuk kedalam rangkaian Kelistrikan Sumatera Eksisting dimana terbagi menjadi dua wilayah yakni Sumatera Utara dan Aceh yang memiliki cadangan 38% dengan beban puncak 2.200 MW dan daya mampu sekitar 3.000 MW.

Sedangkan untuk Aceh, saat ini memiliki cadangan listrik sebesar 57 persen dengan beban puncak 407 MW dan daya mampu sekitar 639 MW.

“Untuk pemakaian saat beban puncak 400 MW, masih tersedia cadangan sebesar 232 MW. Aceh punya listrik, tapi seluruhnya tidak terpakai,” jelasnya.

Untuk dua pulau besar juga memiliki cadangan masing-masing Sabang sebesar 36 persen dengan beban puncak 5,3 MW dan daya mampu 7,2 MW serta Sinabang sebesar 18 persen dengan beban puncak 6,5 MW dan daya mampu sekitar 7,7 MW.

Sementara itu, Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Prof Jasman J. Ma’ruf sedikit kaget dengan data dan fakta yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

Selama ini, berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, Aceh selalu mengalami kekurangan daya listrik dan sangat bergantung terhadap Sumatera Utara.

“Ternyata pasokan listrik Aceh melebihi yang dipakai. Informasi selama ini sangat keliru dan masyarakat sejatinya perlu diedukasi terkait hal ini,” ungkapnya.

Gangguan Listrik

General Manager PLN UIW Aceh, Jefri Rosiadi dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa gangguan atau pemadaman listrik yang kerap terjadi disebabkan oleh beberapa hal.

Diantaranya disebabkan adanya gangguan dari pohon, gangguan dari laying-layang atau binatang serta bisa disebabkan oleh gangguan petir.

Tren gangguan dirincikan Jefri selama Januari dan Februari 2020 mencapai 1.822 kali, Maret dan April 2020 turun menjadi 1.676 kali dan kembali turun masing-masing di bulan Mei dan Juni menjadi 705 dan 410 kali.

“Di Juni 2020, tercatat ada gangguan sebanyak 318 kali. Kami konsisten terus bekerja untuk menurunkan frekuensi gangguan penyulang. Kami juga berharap kerja sam dari semua lapisan masyarakat untuk menjaga aset yang kita miliki saat ini karena ini adalah aset kita bersama,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda