Eks Panglima GAM Aceh Timur Cerita Pajak Nanggroe di Sidang Irwandi

-

- Advertisment -

Eks Panglima GAM Aceh Timur Cerita Pajak Nanggroe di Sidang Irwandi

Gubernur nonaktif Aceh, Irwandi Yusuf (dua kanan) mendengarkan keterangan dua saksi meringankan pada sidang lanjutan kasus dugaan suap DOKA di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (14/3). (Indriarto Eko Suwarso/Antara Foto)

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Terdakwa Gubernur Aceh nonaktif, Irwandi Yusuf, kembali menjalani sidang lanjutan kasus dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jalan Bungur Raya Besar, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).
Dalam sidang itu, majelis hakim mendengarkan keterangan dua saksi meringankan dari terdakwa yakni mantan Komandan Operasi wilayah IV Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Aceh Timur, Angga dan mantan Sekretaris Daerah Aceh, Teuku Setiabudi.
Dalam perkara ini, Irwandi didakwa memberi suap ke Bupati Bener Meriah, Ahmadi. Selain itu Irwandi juga didakwa menerima gratifikasi senilai Rp 41,7 miliar.

Baca: Mengenal Lebih Dekat Hendri Yuzal, Staf Khusus Irwandi Yusuf

Gratifikasi itu disebut diberikan mantan Panglima GAM kawasan Sabang, Izil Azhar. Gratifikasi itu diterimanya selama lima tahun terkait proyek pembangunan Dermaga Sabang.
Menariknya, saat persidangan, Angga membenarkan perihal permintaan jatah proyek. Angga menyebut jatah proyek tersebut dengan sebutan ‘Pajak Nanggroe’.
“Secara ekonomi kami meminta. Misalnya kebun, kami datangi, kami minta kepada mereka (kontraktor). Dulu kami namakan itu Pajak Nanggroe,” sebut Angga sebagaimana dilansir dari laman Detikcom saat bersaksi dalam persidangan.
Dia kemudian menceritakan bila ‘Pajak Nanggroe’ masih dilakukan sejumlah orang dengan cara yang sopan.

Baca: Irwandi: Dakwaan Jaksa Berhalusinasi

“Saya datangi dengan cara baik, pertama minta pekerjaan. Misalnya minta subkon, tapi kadang nggak dikasih, cuma dikasih uangnya, tidak ada secara kekerasan, tidak ada kita bilang fee-fee itu,” katanya.
Menurut dia, permintaan semacam itu adalah hal yang wajar dan tidak diharuskan melaporkan ke komandannya. Salah seorang pengacara Irwandi kemudian menanyakan apakah kliennya pernah mengarahkannya untuk meminta ‘Pajak Nanggroe’.
“Pernah nggak saudara diarahkan terdakwa, ‘Ya sudah minta aja sendiri’?” tanya pengacara itu.
“Beliau ini selalu arahkan kami jangan. Hentikan bentuk yang ganggu perdamaian. Mari kita bangun Aceh dengan baik, apapun kekurangan sabar. Kami kan tau kebutuhan lapangan. Kami ngerti dan paham,” jawab Angga.

Baca Juga: KKB di Aceh Timur Diduga Bagian dari TAM
6 Peraturan di Aceh yang Bikin Heboh
Akhir Kisah Buronan Bersenjata di Aceh

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda