Gerakan 212 Pengaruhi Politik Indonesia

-

- Advertisment -

Gerakan 212 Pengaruhi Politik Indonesia

Foto: IST

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Pemilu 17 April 2019 lalu menarik perhatian masyarakat internasional, terutama soal kian kentalnya penyalahgunaan isu agama dalam pemilihan presiden, baik oleh kelompok yang mendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Dalam diskusi “NU, Diplomasi Publik dan Pilpres 2019” di kantor Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pengurus besar Nahdhatul Ulama (Lakpesdam PBNU) di Jakarta, Rabu (1/5/2019), James Hoesterey, Associate Professor di Emory University di Atlanta, Amerika Serikat, mengatakan kentalnya isu agama tersebut membuat kubu petahana, Joko Widodo, tidak bisa lagi mengandalkan kampanye populis dan sekuler, seperti dilakukannya pada masa pemilihan presiden tahun 2014 lalu.
Jokowi, menurut Hoesterey, menyadari harus mencari calon wakil presiden yang dapat menggaet lebih banyak suara kaum muslim. Itulah menjadi alasan kenapa akhirnya Joko Widodo lebih memilih Ma’ruf Amin ketimbang Mahfud MD.
Hesterey mempertanyakan pemilihan Ma’ruf Amin sebagai pendamping Joko Widodo karena rekam jejaknya sebagai salah seorang tokoh anti-Syiah dan Ahmadiyah, dan bahkan sempat mendukung gerakan 212 ketika mencoba menjegal Basuki Tjahaya Purnama menjadi gubernur DKI Jakarta. Gerakan 212 menurut Hosterey telah menjadi kelompok yang saat ini sangat berpengaruh.
“Memang Alumni 212 itu sudah menjadi blok harus diakui sangat berpengaruh. Kawan-kawan saya, akademisi di luar negeri yang selalu fokus pada NU dan Muhammadiyah, mereka belum sadar ini sebentar saja pasti hilang. Nggak mungkin mereka menjadi amat berpengaruh,” ujar Hoesterey dikutip dari voaindonesia, Kamis (2/5/2019).
Gerakan 212 ini merujuk pada demonstrasi besar-besaran di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, pada 2 Desember 2012, yang diklaim dihadiri oleh sekitar tujuh juta umat Islam. Gerakan itu merupakan bentukan sejumlah pihak untuk mendesak polisi menangkap dan mengadili Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dengan tuduhan telah menghina agama Islam dalam pidatonya di Kepulauan Seribu setahun sebelumnya.
Fenomena menarik lainnya, menurut Hoesterey adalah Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menjadi sosok yang diperhitungkan dalam dinamika politik nasional karena mampu menggaet ulama yang memiliki banyak pegikut, seperti pendiri sekaligus pemimpin Pesantren Darut Tauhid Abdullah Gymnastiar.
“Kan sebelumnya masih di luar arus utama, (Habib Rizieq) dianggap keras, sweeping terus. Justeru melalui politik nasional, dia sukses untuk menjadikan dirinya sebagai tokoh utama walaupun harus lari dan masih belum kembali,” ujar Hoesterey.

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda