Pengadilan Sidang Lapangan di Lahan yang Dibakar PT Kallista

-

- Advertisment -

Pengadilan Sidang Lapangan di Lahan yang Dibakar PT Kallista

Pemeriksaan setempat atau sidang di lapangan terkait pembakaran hutan gambut Rawa Tripa yang berada di kawasan PT Kallista Alam, Nagan Raya, Senin (29/7/2019). (Muhammad Fadhil/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, NAGAN RAYA – Pengadilan Negeri (PN) Suka Makmue melakukan pemeriksaan setempat atau sidang di lapangan terkait pembakaran hutan gambut Rawa Tripa yang berada di kawasan PT Kallista Alam.
Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Arizal Anwar, Edo Juniansyah dan Rosnainah itu berlangsung di Desa Pulo Kruet, Kec. Darul Makmur, Nagan Raya, Senin (29/7/2019).
Turut hadir dalam sidang itu kuasa hukum warga selaku penggugat, kuasa hukum tergugat satu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kuasa hukum tergugat dua PT Kallista Alam serta kuasa hukum Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) selaku tergugat intervensi.
Baca Juga: Pengadilan Tunda Eksekusi PT Kalista Alam Rp366 Miliar
Sidang tersebut untuk memastikan batas tanah sebagaimana gugatan warga yang meminta agar PN Suka Makmue menunda eksekusi putusan PN Meulaboh hingga Mahkamah Agung sampai gugatan perlawanan memperoleh inkracht (kekuatan hukum yang tetap).
Untuk diketahui, sebelumnya Mahkamah Agung melalui putusan Nomor: 651 K/pdt/2015 telah menyatakan PT. Kallista Alam bersalah dan harus membayar denda sebesar Rp. 366 miliar.
Namun belakangan, masyarakat di kawasan PT Kallista mengklaim bahwa lahan yang dibakar oleh perusahaan itu, sebagian di antaranya merupakan milik mereka.
Baca Juga: Surga Kehidupan Itu Bernama Rawa Singkil
Bahkan, masyarakat mengaku lahan tersebut telah bersertifikat jauh sebelum adanya gugatan terhadap PT Kalista Alam.
Kuasa Hukum KLHK, Saifudin Akbar menyebutkan bahwa lahan warga yang diklaim tersebut tidak berada di kawasan perkebunan PT Kalista yang telah diberi peringatan untuk dieksekusi.
“Tadi sudah kita saksikan bersama, ternyata apa yang ditunjukkan masyarakat itu kalau mnurut saya menurut peta PT. Kalista itu berada di luar, semua itu di luar,” katanya.
Pengacara Yayasan HAKA, Nurul Ikhsan. (Muhammad Fadhil/Klikkabar.com)

Sementara, pengacara tergugat intervensi Yayasan HAKA, Nurul Ikhsan menilai bahwa apa yang diklaim oleh masyarakat tersebut sedikit aneh.
Sejatinya, kata Ikhsan, jika memang itu lahan mereka maka sudah ada bantahan dalam persidangan di PN Meulaboh jauh sebelum ada putusan hukum tetap (inkracht).
“Tujuan mereka ini untuk mempengaruhi keputusan inkracht oleh MA. Jadi ada perlawanan dan kita sangat prihatin juga, kenapa perlawanan mereka baru sekarang, kenapa tidak dari dulu,” kata Ikhsan. []

Lihat Juga: Kawasan Ekosistem Leuser Terus Dibakar
Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’
Yuk, Jalan-jalan ke Kawasan Ekosistem Leuser Via Google Earth

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda