Home / BERITA TERBARU / 6 Kunci Sukses 2 Gubernur & 1 Wali Kota di Indonesia

6 Kunci Sukses 2 Gubernur & 1 Wali Kota di Indonesia

Oleh Bulman Satar (Antropolog dan Praktisi Pembangunan)

Apa rahasia keberhasilan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), dan Nurdin Abdulah (Mantan Bupati Bantaeng (Gubernur Sulawesi Selatan) adalah contoh kepala daerah sosok media dan public darling di Indonesia, yang dipuji dan dieluk-elukkan sebagai pemimpin yang berprestasi dan berhasil memajukan daerahnya.

Bukan hanya di level Indonesia, bahkan mereka mendapat penghargaan internasional atas prestasinya. Dengan segala prestasi dan legacy yang mereka tunjukan hingga dikenal luas oleh publik.

Maka tak mengherankan capaian-capaian ini berbanding lurus dengan karier politik mereka kemudian yang terus menanjak. Misalnya Ridwan Kamil yang berhasil sebagai walikota Bandung kemudianGubernur Jawa Barat.

Nurdin Abdullah berhasil sebagai Bupati Bantaeng kemudian terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Apa rahasia kepemimpinan mereka hingga menjadi sosok kepala daerah berprestasi?

 

Setidaknya ada 6 kombinasi kemampuan dan kualitas kepemimpinan yang mereka miliki, yaitu :

  1. Sosok visioner yang memiliki visi perubahan (mereka memiliki konsep dan arah yang jelas bagaimana mereka harus memimpin dan memajukan daerahnya)
  2. Memiliki tekad dan komitmen kuat untuk mewujudkan visi perubahan itu (bukan hanya sekadar beretorika dengan ragam janji politik yang tak pernah diwujudkan)
  3. Inovatif dengan terobosan-terobosan baru (mereka kreatif dan berani berpikir serta bertindak dengan cara berbeda)
  4. Pemimpin yang berani dan tegas (beda dengan penguasa yang arogan, mereka tegas dalam fungsi kepemimpinannya mewujudkan perubahan dan kemajuan yang lebih baik bagi daerahnya)
  5. Mereka mampu menerapkan manajemen berpikir dan dan bertindak konkrit (tidak lagi gemar bermain dengan peran-peran normatif-simbolik sebagaimana lazim menjadi watak banyak kepala daerah di negeri ini)
  6. Mereka mampu mengendalikan birokrasi (paham birokrasi dan tidak gengsi ketika harus “turun derajat” mengurusi dan meluruskan kerja-kerja aparatur birokrasi sehingga tak ada celah bagi mereka barmain dengan dengan segala mentalitas buruknya)