Home / ACEH / Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Lambat Karena Kurang Industri

Pertumbuhan Ekonomi di Aceh Lambat Karena Kurang Industri

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis saat membuka kegiatan Edukasi Ekonomi dan Keuangan Syariah untuk Jurnalis di Sabang, Selasa (3/9/2019). (Istimewa)

KLIKKABAR.COM, SABANG – Pertumbuhan ekonomi di Aceh masih memiliki tantangan besar. Kurangnya jumlah industri menjadi salah satu alasan pertumbuhan ekonomi di provinsi paling ujung Sumatera ini sedikit lambat.

Hal tersebut diungkapan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis dalam kegiatan Edukasi Ekonomi dan Keuangan Syariah di Sabang.

Kegiatan yang diikuti puluhan wartawan lintas media wilayah liputan Provinsi Aceh itu berlangsung sejak 3 September sampai 5 September 2019.

“Aceh memiliki industri yang masih relatif sedikit dibandingkan provinsi lain di Sumatera, kita ini lebih kurang nomor dua di belakang yang punya industri banyak,” kata Zainal.

Dia menilai pentingnya industri di Aceh, yang merupakan salah satu dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan ujungnya dapat mengurangi angka kemiskinan.

“Perlunya industri agar kita tidak menjual mentah hasil alam, seperti misalnya daerah kita yang punya nilam, sawit, gabah padi yang melimpah sampai lebih dari 2 juta ton tapi tidak dikilang dan diproses di Aceh sehingga mata rantai itu tidak ada di sini value added itu dinikmati oleh provinsi lain yang menerima komoditas-komoditas hebat tadi,” jelas Zainal.

Karena itu, kata Zainal, Aceh yang hanya butuh 16000 ton beras setiap tahun masih membeli sebagian dari luar daerah. Padahal, Aceh memiliki lahan pertanian yang cukup luas.

“Karena industri kita masih belum kuat, mata rantai industri juga belum muncul di Aceh,” ujarnya.

Bank Indonesia, ujar Zainal, mengajak semua pihak terkait untuk bersinergi membangun industri yang terkait dengan bisnis hulu dengan fokus kepada sektor yang menjadi keunggulan Aceh yaitu sektor pertanian dan perikanan.

“Misalnya padi gabah diolah menjadi beras yang kita jual, turunan berikutnya adalah bisa diolah menjadi tepung beras yang bisa dijual keluar. Ini yang sedang diupayakan karena tidak bisa sekaligus semua karena harus bertahap dan selektif, mengingat anggaran terbatas, kemampuan juga terbatas jadi kita pilih komoditas apa yang unggul punya nilai tambah lebih dan cepat menghasilkan,” pungkasnya. []

MUHAMMAD FADHIL