Home / ACEH / PT Bumi Flora dan Kematian Gajah yang Terulang

PT Bumi Flora dan Kematian Gajah yang Terulang

Seorang anak melintasi bangkai gajah Sumatera yang ditemukan mati beberapa waktu lalu di pedalaman Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Seekor gajah liar ditemukan mati di Desa Jambo Reuhat, Kec. Banda Alam, Kab. Aceh Timur, Kamis, 12 Juli 2018 sore.

Kabar kematian gajah berjenis kelamin betina itu pertama kali diketahui dari pekerja PT Bumi Flora, yang melaporkan penemuan gajah mati itu ke Polsek Banda Alam.

“Benar, ada pekerja yang melaporkan ke Mapolsek. Lokasinya berada di areal perusahaan mereka,” kata Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro melalui Kapolsek Banda Alam Iptu Zainir kepada wartawan di lokasi.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) saat dimintai keterangannya kepada Klikkabar.com mengatakan, gajah betina liar itu diperkirakan berusia 10 tahun.

Dugaan awal, mamalia terbesar di dunia itu dikatakannya mati karena mengalami toxicosis (keracunan). Hal ini ditandai dengan adanya pendarahan pada mulut dan anus gajah, sianosis hati, paru-paru serta limpa yang berwarna kehitaman.

“Tim medis yang dibantu Mahout telah mengambil sampel hati, usus, limpa, paru serta kotoran untuk dianalisa lebih lanjut di laboratorium,” kata Sapto, Sabtu 14 Juli 2018.

Selain itu, dugaan kematian gajah akibat diracun semakin kuat karena dalam usus gajah juga ditemukan buah, kulit dan biji nangka serta kain bungkusan yang membungkus benda asing (serbuk berwarna keunguan).

Kasus Ketiga

Sapto juga menyebutkan, kasus kematian gajah kali ini menambah panjang daftar kematian gajah yang terjadi di areal PT Bumi Flora karena sejak tahun 2015 sudah ada tiga ekor gajah yang mati terbunuh di daerah itu.

Baca: Sejak 2012, Ada 44 Kasus Kematian Gajah di Aceh

Sepanjang 2017, Sembilan Ekor Gajah Mati di Aceh

“Ini hanya (sedikit) kasus yang ada di catatan kita, mungkin saja ada kasus-kasus lainnya yang tidak diketahui karena tidak ada yang melapor,” timpalnya.

Pihak BKSDA dikatakannya juga telah melakukan koordinasi dengan penyidik Polres Aceh Timur, agar memanggil pihak perusahaanuntuk dimintai keterangannya.

“Tidak bisa dibiarkan. Kita akan terus kawal kasus ini sampai tuntas,” tutup Sapto Aji Prabowo.

Sekedar diketahui, PT Bumi Flora merupakan perusahaan milik swasta yang beroperasi di Kabupaten Aceh Timur dengan luas HGU mencapai 8 ribu hektar lebih.

Nama perusahaan ini sempat beberapa kali mencuat ke permukaan. Hal yang paling diingat adalah kasus pembantaian 31 warga sipil tak berdosa pada 2001 silam yang terjadi disana.

PT Bumi Flora kembali menjadi bahan perbincangan lantaran terlibat konflik lahan dengan masyarakat serta pernah beberapa kali diberitakan media massa karena diduga tidak memenuhi hak-hak karyawannya.

Baca Juga: Dua Pembunuh Bunta Ditangkap

7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil