Home / ACEH / Ramadhan, Fenomena Buka Bersama dan Hawa Selfie

Ramadhan, Fenomena Buka Bersama dan Hawa Selfie

irvan

Oleh : Irvan 

Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia, di antara semua bulan. Sehingga ibadah yang menjadi ciri khas di bulan terdapatnya ibadah yang sangat khusus. Dengan demikian Allah lah yang memberi balasan/pahala atas puasa yang dijalankan oleh hamba-Nya. Tidak hanya itu, kemuliaan ramadhan juga ditandai dengan turunnya kitab suci umat manusia pada umumnya dan umat Islam, secara khusus.

Dalam bulan ramadhan, juga terdapat satu malam yang sangat di idam-idamkan oleh seluruh umat Islam, yang disebut dengan malam seribu bulan atau lailatul qadar. Perihal lailatul qadar ini, bukanlah cerita dongeng untuk memotivasi umat Islam dalam beribadah di bulan mulia ini, melainkan telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Qadar dan itu merupakan janji Allah Swt.

Bagi umat Islam, kedatangan ramadhan di sambut dengan penuh suka cita. Di Aceh sendiri, suatu tradisi yang sudah mendarah daging dari dulu sampai sekarang ialah tradisi Meugang atau ma’meugang, tradisi pajoh sie (makan daging) ini dilakukan dua atau satu hari sebelum masuk bulan ramadhan. Tradisi ini menandakan bahwa antusias masyarakat Aceh dalam menyambut bulan penuh berkah ini sangat luar biasa.

Ngabuburit

Puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh umat Islam, dengan menahan dahaga dan lapar serta menahan diri dari segala yang membatalkannya. Puasa dilakukan dari imsak sampai dengan terbenamnya matahari. Terbenamnya matahari, menandakan waktu berbuka puasa telah tiba, jika diseputaran banda Aceh hal tersebut di tandai dengan berbunyinya sirena di mesjid raya, yang juga dipancarkan di hamper semua masjid melalui radio-radio di Banda Aceh.

Berbuka merupakan hal yang ditunggu oleh seluruh manusia yang menjalankan ibadah puasa, hal yang menarik diperhatikan adalah istilah “preh su tuut” (suara sirene tanda berbuka) atau ngabuburit. Kegiatan ini dilakukan dengan bermacam cara, misalnya nonton tv bersama keluarga, jalan bersama keluarga, atau yang bernuasa Islam mendengar kultum, mebaca al-Qur’an dan lain-lain sebagainya.

Bagi sebahagian kalangan, ngabuburit dilakukan dengan berpacaran di atas kereta, bersama sang kekasih yang belum ada ikatan sah dari sudut pandang agama Islam. Hal ini tentu menjadi perhatian, karna bulan ramadhan ini seharusnya bulan muhasabah justru tetap melakukan kegiatan yang tidak di anjurkan oleh Islam, bahkan dilarang.

Solusi dari fenomena ini, ialah meperkuat kembali peran orang tua dalam menjaga anak-anaknya, sehingga kesadaran dalam diri anak muda yang melakukan hal tersebut. Jika hal ini di biarkan, bayangkan generasi Aceh ke depan yang ketika meraka menjadi orang, tidak tertutup kemungkinan mereka akan melegalkan ngabuburit dengan cara yang seperti itu.

Urgensitas peran orang tua memang sangat di utamakan, namun yang menjadi pertanyan adalah bagaimana jika mereka itu jauh dari kendali orang tua?. Contohnya dapat kita lihat darimereka yang sedang dalam proses mencari ilmu pengetahuan atau yang bekerja, bukan dikampung halamannya. Nah bagaimana mengatasi hal ini?.

Buka Bersama Dan Update status

Bulan ramadhan bulan penuh berkah, pada bulan ini juga bulan memperkuat silaturahmi, dengan cara berbuka bersama. Jika dalam bulan lain kebersamaan dalam keluarga cenderung kurang terbangun, akibat kesibukan masing-masing. Si anak sibuk sekolah, si ibu dan si ayah sibuk bekerja. Namun dalam ramadhan, kesibukan seakan tak menghalangi mereka untuk mempererat tali silaturrahmi, dengan cara berbuka bersama.

Buka bareng atau buka bersama adalah hal yang sangat menyenangkan, buka bersama tersebut dapat dilakukan dengan keluarga, sahabat, teman kecil, teman satu komunitas bahkan teman seangkatan, baik di sekolah maupun di bangku kuliah.

Kalangan mahasiswa merupakan kalangan yang paling banyak melakukan kegiatan buka bersama, bagaimana tidak dimulai dari teman satu unit, satu jurusan fakultas, universitas dan komunitas lainnya. Sehingga dengan demikian ramadhan memberikan rizki lebih bagi masyarakat yang menyediakan paket berbuka, dan tempat yang paling diminati adalah tempat yang menggunakan gerai.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan dengan kegiatan buka bersama ini, namun sedikit aneh ketika semangat kebersamaan tersebut, berganti dengan semangat selfie dan juga update status. Buka bersama seharusnya mempererat silaturrahmi bukan memperbanyak selfie dan update status.

“Demam’ gadget merupakan hal yang sudah lumrah bagi kita, mulai dari BB sampai dengan android, bahkan “demam” tersebut tidak hanya menyerang kaum-kaum muda, tetapi juga kalangan-kalangan dewasa. Demam tersebut terjadi secara bervariasi. Menurut saya update status atau selfi dengan niat memamerkan ibadah puasa, hampir dapat dikatakan itu adalah riya

Ketika proses buka bersama berlangsung, biasanya tidak banyak terjadi percakapan. Hal tersebut disebabkan oleh kesibukan dengan HP geusuek nya masing-masing. Bayangkan saja, begitu banyak medsos yang dapat di akses, misalnya facebook, BBM, Path, Twitter, Istagram, Line dan lain-lain. Dengan medsos-medsos inilah, waktu yang ada terbuang, sehingga tidak digunakan untuk membangun keakraban.

Update status ini, tidak hanya dilakukan pada saat berbuka saja, bahkan untuk sebahagian orang update statusnya mulai dari bangun sahur hingga pelaksanaan ibadah shalat tarawih. Yang demikian inilah yang membuat saya berpikir bahwa update status sudah termasuk kedalam kategori riya.

Kebersamaan dalam bulan yang penuh pengampunan ini, sejatinya dibangun dengan penuh kesungguhan, sehingga ridha Allah dalam bulan ini benar-benar kita dapatkan. Selfi dan update adalah hal yang wajar namun jika dilakukan secara berlebihan juga akan berdampak kurang bagus bagi kita sendiri.

Penulis merupakan mahasiswa program pasca sarjana UIN Ar-Raniry, asal Aceh Jaya.

Apa Komentar Anda?

komentar