
KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Melirik keindahan alam di Indonesia tidak akan pernah habis-habis, apalagi jika dalam waktu yang sangat singkat.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki panorama alam begitu istimewa, pemandangan yang natural membuat setiap mata tak ingin berkedip sedetikpun melihatnya. Banyak hamparan pemandangan indah terpampang di nusantara ini. Pulo Aceh salah satunya.
Pulo Aceh adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia. Pulo Aceh merupakan Daerah Administrasi Tingkat III yang memiliki beberapa pulau, diantaranya Pulau Benggala, Pulau Breueh, Pulau Nasi, Pulau Keureusek, Pulau Batee, Pulau Bunta, Pulau U, Pulau Sidom dan lainnya.
Di kawasan ini terdapat dua pulau besar yaitu Pulo Nasi dan Pulo Breuh (breuh artinya dalam bahasa Indonesia beras) serta terdapat tiga kemukiman (mukim) dan 17 gampong (desa). Tiga kemukiman tersebut yaitu Mukim Pulo Breuh Utara, Mukim Pulo Breuh Selatan, dan Mukim Pulo Nasi.
Penduduk Kecamatan Pulo Aceh yaitu berjumlah 4.385 jiwa atau sekitar 1.344 Kepala Keluarga (KK), dengan mata pencarian sebagai nelayan dan petani. Pulo Aceh terletak paling barat di Indonesia, sehingga dikatakan sebagai Pulau Terluar Indonesia.
Meskipun demikian, sebagai pulau terluar ia menjadi istimewa dalam hal wisata. Keindahan alam yang dimilikinya membuat setiap mata teduh memandangnya. Pulo ini juga menyimpan keindahan bawah laut dan terumbu karang yang masih bagus, namun belum didata secara detil titik-titik yang berpotensi untuk dijadikan daya tarik wisata di kawasan pulau terdepan Indonesia.
Apalagi jika dipandang dari puncak menara mercusuar bersejarah peningalan Belanda yaitu Mercusuar Willems Toren. Mercusuar ini berusia sekitar 139 tahun dengan ketinggian sekira 85 meter yang terdapat di Pulo Breuh.
Willems Toren yang berada di balik hutan Gampong Meulingge, Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, merupakan tower peninggalan Pemerintah Belanda yang dibangun 1875. Mercusuar ini mengadopsi nama Raja Luxemburg kala itu, Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk (Raja Willem III).

Kabarnya, menara bundar setinggi 85 meter ini hanya ada tiga di dunia. Selain di Pulo Aceh, tower serupa juga ada di Belanda dan Kepulauan Karibia. Namun yang di Belanda sudah difungsikan sebagai museum, sementara dua lainnya masih aktif.
Perjalanan menuju Willems Toren Pulo Aceh terbilang cukup menantang. Jalur utama menuju lokasi tepat berada di depan SD Negeri Meulingge. Terdapat sepotong jalan setapak yang hanya bisa dilalui kenderaan roda dua yang membelah hutan hingga ke mercusuar.
Saat Klikkabar.com bertandang ke lokasi cuacanya penuh awan, sesekali gerimis mengundang saat perjalanan menuju bangunan tua penuh misteri keindahan tersebut. Jalannya penuh tanjakan dan mulai menyempit tertutup belukar, bertabur lubang bekas kubangan dan batu cadas.
Perjalanan yang begitu rawan, sehingga tidak memungkinkan untuk mendaki dengan kenderaan. Perjalanan kaki ditempuh menuju ujung pulau tempat menara berdiri. Jarak tempuhnya kurang lebih satu jam lima puluh menit.
Perjalanan melelahkan akhirnya terbayar dengan keindahan alam di komplek Willems Toren. Setelah melewati gapura, terdapat beberapa bangunan peninggalan Belanda berwarna kusam. Di ujungnya berdiri kokoh tower raksasa merah putih menjulang tinggi dengan ketebalan dinding betonnya mencapai satu meter.
Mengunjungi lokasi menara yang dibangun sejak 1875 tersebut, dari puncak tersaji pemandangan alami nan surgawi Pulo Aceh. Hamparan laut lepas yang biru begitu menyesakkan mata. Tampak pula bangunan lama yang berada di dekat menara begitu sempurna dengan warna tuanya.
Pulau-pulau kecil bagaikan busa terapung di permukaan, melintas di depan mata ombak-ombak yang bergumul dengan karang memunculkan buih putih. “Sungguh luar biasa”, kata yang pantas untuk keindahan surga tersembunyi ini.
REPORTER: MAKSALMINA
Apa Komentar Anda?
komentar
Klikkabar.com Jujur Mengabarkan