Menanti (Lagi) Korban Sumur Minyak Ilegal

-

- Advertisment -

Menanti (Lagi) Korban Sumur Minyak Ilegal

Warga melihat sumur minyak ilegal yang bocor di areal PT Padang Palma Permai di Peureulak Timur, Aceh, Kamis (1/8). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Eksplorasi dan eksploitasi minyak di Aceh Timur (Peureulak dan sekitarnya) telah dimulai sejak akhir abad ke-18 oleh kolonial Belanda.
Jauh sebelum itu, pada abad ke 14, Kerajaan Samudera Pasai memanfaatkan minyak yang ditemukan dengan mudahnya di kawasan itu untuk berperang.
Pada 1885, Belanda berhasil membuka tambang minyak di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara dan pada 1899, saluran pipa pun dibuat untuk mengalirkan minyak hasil pengeboran dari Ranto Peureulak.
Saat pendudukan Jepang, kilang minyak itu kemudian diambil alih dan Jepang mulai melakukan eksplorasi di sepanjang pantai timur Aceh hingga akhirnya dikelola oleh PT Asamera Oil asal Amerika Serikat (AS) pada 1970.
Setelah kontrak berakhir, Conoco Philip gantian mengelola sumur-sumur mi­nyak itu. Pada 2012-2013, sempat dikelola Pacific Oil & Gas hingga dikelola sepenuhnya oleh PT Pertamina.
Sejak ditemukan berabad-abad yang lalu, kekayaan alam yang berada di tanah sendiri tidak mampu membuat masyarakat sejahtera. Hal ini lah yang memicu masyarakat untuk mencari minyak dengan cara sendiri.
Kebanyakan dari mereka hanya mengandalkan kemampuan dan modal yang terbatas diatas lahan dan pekarangan rumahnya. Pengeboran yang dicap ilegal oleh pemerintah pun kian marak terjadi, sekitar 6 tahun yang lalu hingga sekarang.

Baca: 60 Korban Ledakan Sumur Minyak Dapat Santunan

Korban ledakan sumur minyak di Ranto Peureulak, Aceh Timur saat dirawat di RSUD Dr Zubir Mahmud, (28/4/2017). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Korban Jiwa Berjatuhan
Ingatan kita tentu masih segar dengan kasus ledakan sumur minyak ilegal yang terjadi pada April 2018 silam di Desa Pasir Putih, Kec. Ranto Peureulak, Kab. Aceh Timur.
Sedikitnya 29 warga tewas dan 30 lainnya luka-luka dalam musibah tersebut. Kasus ini pun menyita perhatian nasional dan internasional dimana sebagian besar media menjadikan kejadian ini sebagai tajuk utamanya.
Membahas persoalan sumur minyak ilegal di Aceh Timur seakan tidak ada habisnya. Yang jelas, ada aturan yang terkesan sengaja diabaikan dalam masalah ini.
Hal ini terbukti saat dua warga kembali menjadi korban saat sumur minyak ilegal yang ada di Desa Seuneubok Dalam, Kec. Ranto Peureulak, Kab. Aceh Timur, kembali terbakar pada Jum’at (5/7).
Kedua pekerja itu mengalami luka bakar yang cukup serius, sekitar 50 hingga 60 persen dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Teranyar, sumur minyak ilegal yang berada di areal PT Padang Palma Permai (PPP) Divisi 1 Blok A, Dusun Cinta Damai, Desa Seuneubok Lapang, Kec. Peureulak Timur, Kab. Aceh Timur, menyita perhatian setelah bocor.
Para penambang sumur minyak peninggalan PT Asamera Oil itu disebut-sebut melarikan diri dari lokasi pasca semburan gas dan air berlumpur keluar dari dalam sumur, Selasa (30/7).

Baca: Bahas Sumur Minyak, Rocky Jumpai Jokowi

Seorang warga melihat kepulan asap usai proses pemusnahan minyak ilegal di Peureulak Barat Aceh Timur Provinsi Aceh Kamis (31/1/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Terkesan Dibiarkan
Sumur minyak ilegal yang dikelola oleh masyarakat hingga saat ini terus berproduksi. Dalam dua kesempatan di tahun 2019, sebanyak 176.000 liter minyak ilegal hasil tangkapan dimusnahkan oleh pihak berwenang.
Jumlah itu tentu saja tidak sedikit. Berapa uang yang bisa didapatkan oleh masyarakat seandainya minyak sebanyak itu berhasil dijual? Sayangnya, tidak ada tindak lanjut dan solusi dari permasalahan ini.
Namun sepanjang catatan, Klikkabar.com tidak menemukan adanya kasus penutupan yang dilakukan pihak berwajib terhadap sumur minyak ilegal tersebut, hanya penangkapan saja.
Apakah hal itu sengaja dilakukan untuk menghindari konflik dengan masyarakat yang terganggu mata pencahariannya? Klikkabar.com belum mendapatkan keterangan resmi terkait hal ini.
Sementara itu, lain lagi dengan sumur minyak yang bocor di Peureulak Timur pada Selasa (30/7) lalu. Hingga Sabtu (3/8) atau hari kelima, kebocoran masih terjadi. Tekanan gas bercampur air berlumpur terus saja keluar.

Baca: Sumur Minyak Ilegal di Aceh Timur Kembali Terbakar

Tidak diketahui pasti kapan ilegal drilling di lokasi itu dilakukan, padahal itu tanggung jawab  PT Padang Palma Permai (PPP) Blang Simpo karena berada di areal mereka. Lokasinya juga tidak jauh dari akses jalan.
Semburan sumur minyak itu cukup memekakkan telinga. Saat Klikkabar.com mendatangi lokasi pada Kamis (1/8), terlihat sama sekali tidak ada petugas keamanan yang berjaga di lokasi maupun pihak perusahaan.
Hanya terlihat police line yang dipasang oleh polisi sebelumnya pada hari kedua pasca kejadian dan kertas berisi imbauan yang ditempel di pohon sawit agar tidak mendekati lokasi sumur minyak.
Di lokasi kejadian, sekitar 10 meter dari sumur juga terlihat sebuah pondok atau gubuk yang diduga sebelumnya digunakan oleh para penambang. Sejumlah perkakas termasuk selang terlihat berserakan.
Pohon sawit yang berada di sekitar sumur juga terlihat sudah memutih akibat semburan material yang mengikuti kemana arah angin bertiup. Terkadang, material itu juga mengenai warga dan anak-anak sekolah yang melintas.

Baca: Tetapkan Tersangka Kasus Sumur Minyak, Polisi Dinilai Salah Kaprah

Warga melintas di dekat areal sumur minyak ilegal yang bocor di areal PT Padang Palma Permai di Peureulak Timur, Aceh, Kamis (1/8). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Penutupan Sumur Minyak yang Bocor
Kepala Kepolisian Sektor Peureulak Timur Ipda Deny Albar kepada Klikkabar.com mengatakan, tim dari PT Medco E&P Malaka telah turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan awal pada Rabu (31/7).
Dari hasil pengecekan sesuai permintaan dari pihak perkebunan, disebutkannya kadar material yang dikeluarkan oleh sumur tersebut tidak berbahaya atau belum mampu menyulut api.
“Kadar oksigennya 209 sedangkan kadar gas nihil, namun sewaktu-waktu kadar gas tersebut bisa saja berubah atau meningkat sehingga menjadi berbahaya,” kata Deny, Kamis (1/8/2019).
Sementara itu pada Jum’at (2/8) kemarin, tim dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) juga telah datang meninjau lokasi sumur minyak serta melakukan pengecekan terhadap kadar gas yang disebut masih dalam kategori aman.
Pihak BPMA juga belum bisa memastikan kapan akan dilakukan penutupan terhadap sumur minyak tersebut. BPMA hanya melakukan peninjauan dan mengumpulkan data-data.
“Kami hanya mengumpulkan data-data untuk dilaporkan ke pemerintah daerah dan provinsi. Selain itu juga untuk mengetahui bahaya atau tidaknya semburan gas, air dan lumpur dari sumur minyak tersebut,” ujar Humas BPMA Achyar Rasyidi, ST,MM.

Lihat Juga: 116.860 Liter Minyak Ilegal Dibakar
Warga Tolak Tambang Minyak Tradisional Ditutup
Temui Jokowi, Rocky Juga Bahas Soal Korban Sumur Minyak

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda