
Oleh : Munazir Khalis
Akhir- akhir ini, Aceh di selimuti euforia pilkada yang akan di lansungkan pada awal tahun 2017 mendatang. Pilkada kali ini akan terasa berbeda, karena kandidat yang maju notaben nya adalah pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), seperti Muzakir Manaf (Mualem). Tokoh ini tidak asing lagi di telinga masyarakat Aceh, apalagi pernah menjabat sebagai panglima GAM dimasa konflik dulu. Muzakir Manaf juga tercatat sebagai Ketua Umum Partai Aceh dan Wakil Gubernur Aceh saat ini.
Begitu juga dengan Irwandi Yusuf, pria yang akrab di sapa Tgk Agam ini juga di kenal sebagai ahli propaganda di tubuh GAM dulu, sampai- sampai aktivitasnya sebagai Dosen di Unsyiah ditinggalkannya bahkan pergerakannya di ketahui oleh aparat sehingga ia harus mendekam di penjara keudah saat itu. Pasca damai ia terpilih menjadi Gubernur Aceh periode 2007-2012. Peraih suara kedua terbanyak di pilkada 2012 yang lalu kembali mencoba peruntungan di pilkada 2017 mendatang.
Kandidat lain yaitu Gubernur Aceh saat ini, Zaini Abdullah dan mantan Menteri Pertahanan GAM Zakaria Saman. Kedua putra Pidie ini dulunya pernah sama-sama menjabat sebagai menteri di tubuh GAM. Keduanya juga pernah tercatat sebagai Tuha Peut Partai Aceh, akan tetapi seiring dengan proses pergolakan politik beberapa bulan terakhir mengakibatkan keduanya mengundurkan diri dari Partai Aceh, dan masing- masing maju sebagai Calon Gubernur Aceh lewat jalur independen.
Kontestan lain yang akan maju dalam pilkada Aceh adalah mantan Pj Gubernur Aceh Tarmizi Karim, pria asal Aceh Utara tersebut memilih Zaini Djalil sebagai pendampingnya, namun peran mantan elit GAM juga hadir di tengah- tegah kandidat ini yaitu Sofyan Dawood. Sofyan Dowood semasa konflik melanda Aceh menjabat sebagai Juru Bicara GAM. Cara komunikasinya tidak perlu diragukan lagi.
Namun ada satu nama yang di luar perkiraan untuk pertarungan calon di pilkada Aceh 2017 mendatang, yaitu Abdullah Puteh. Mantan Gubernur Aceh pasca reformasi ini sudah meminang Sayed Mustafa Usab yang juga mantan eks Tripoli, Libya.
Dari beberapa calon gubernur yang akan bertarung dalam pilkada kedepan menunjukkan bahwa peran mantan elit petinggi GAM masih sangat berpengaruh di Aceh, yang secara kasat mata mereka juga sudah menguasai kontestan Pilkada Aceh 2017 satu sama lain. Mereka juga sudah memahami situasi politik Aceh ke depan.
Hemat penulis, ini merupakan suatu langkah maju bagi para mantan kombatan GAM untuk bertarung di pilkada Aceh nantinya. Artinya pertumbuhan semangat nilai- nilai kepemimpinan dalam tubuh mantan kombatan sudah berkembang, tentu ini menjadi warna baru dalam semangat demokrasi di Aceh ke depan.
Di sisi lain, seiring dengan makin mendekatnya proses tahapan pilkada ke depan, aura dinamika politik di antara para kandidat juga mulai terasa. Perbedaan sudut pandang yang diperlihatkan para kandidat nantinya jangan hanya dilihat dari sudut pandang negatif semata, tetapi ini juga suatu dinamika politik yang seiring berjalannya waktu semakin menumbuhkan semangat kepemimpinannya serta proses kedewasaan dalam berpolitik.
Peran Timses
Peran timses juga tidak dapat di pisahkan dari kemenangan calon Gubernur ke depan. Timses setiap kandidat akan berpartisipasi mulai dari penaikan spanduk hingga menjadi saksi di tempat pemungutan suara. Tentu pekerjaan yang diemban oleh para Timses ini tidaklah mudah, apalagi di lihat dari pengalaman pilkada tahun 2012 silam, dimana banyak terjadinya penyiksaan, teror dan bahkan ancaman di tengah- tengah masyarakat sampai- sampai nyawa ikut melayang. Kita berharap tindakan teror, ancam mengancam tidak terulang lagi di pilkada 2017 ini.
Di sisi lain peran timses juga menjadi alternatif yang harus di perhitungkan, bagaimana tidak, peran mereka yang begitu terstruktur, sistematis, dan masif memberikan dampak yang begitu besar terhadap perolehan suara calon, cara penyampaian kampanye pun berbeda- beda, mulai dari “ureung tanyo” , “awak tanyo”, “bangsa tanyo”, “syara geutanyo” , dan “bijeh geutanyo” muncul dari para Timses dengan ciri khas dan gaya masing-masingnya.
Transaksi politik juga mewarnai setiap Pemilukada. Transaksi politik bukan hanya terjadi di kalangan para elit, tetapi para timses juga ikut ambil bagian, mulai dari menjanjikan proposal ayam ternak sampai mengundang investor asing.
Terlepas dari itu semua, tentunya kita berharap nilai-nilai demokrasi di pilkada Aceh nantinya bisa dijalankan oleh semua kandidat, termasuk oleh para timsesnya masing-masing. Masyarakat tentunya sangat antusias dalam melihat setiap kandidat yang maju, mereka akan memilih kandidat yang menurut mereka layak untuk memimpin Aceh kedepaan. Semoga dengan terlibatnya “civil society” menjadi awal yang baru bagi tatanan demokrasi di Aceh yaitu demokrasi yang santun, aman, dan damai. []
Penulis merupakan Ketua kaukus pemikir pemuda Aceh (KP2A). Alumni Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh.
Apa Komentar Anda?
komentar
Klikkabar.com Jujur Mengabarkan