Aceh Logistics Base untuk Migas

-

- Advertisment -

Aceh Logistics Base untuk Migas

CEO Trans Continent, Ismail Rasyid.

Oleh: Ismail Rasyid [CEO Trans Continent]
Hari ini saya membaca berita yang sangat menggelitik tentang rencana yang dikemukakan oleh kepala BPMA Aceh bahwa Talisman Andaman BV (Repsol Oil) memutuskan akan memanfaatkan Batam sebagai Logistics base untuk barang-barang yang akan mereka impor yang selanjutnya digunakan untuk mendukung operasional Repsol di Aceh (semoga hal ini masih hanya sebatas wacana dan belum terlaksana).
Namun apabila hal ini benar-benar menjadi keputusan, menurut pendapat saya ini adalah suatu keputusan yang sangat memprihatinkan dan perlu segera dibicarakan dan ditinjau ulang dan harus mengacu dan memberikan warna kepada kepentingan Aceh dan juga kenyamanan investor.
Saya pribadi sebagai pelaku bisnis yang sudah 25 tahun berkecimpung di bidang logistik baik minyak, gas, mining dan proyek-proyek lainnya, berpikir keras dengan berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran dan beberapa pandangan yaitu:
Apakah keputusan ini dilakukan oleh Repsol sepihak, tanpa komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Aceh?
Kehadiran Repsol adalah merupakan suatu berkah dan harus kita sambut dan perlakukan dengan baik  karena mereka akan menanamkan modal investasi dalam jutaan dollar untuk kegiatan mereka di Aceh, Ini adalah salah proyek besar dan strategis yang akan menjadi salah satu Obvitnas (Objek Vitas Nasional) mudah-mudahan menjadi era baru kegiatan Industri perminyakan & gas bumi di Aceh, setelah era Mobil Oil (Exxon Mobil) berakhir dan bisa segera bangkit kembali.
Pemerintah daerah dan seluruh perangkatnya, beserta masyarakat secara bersama sama harus bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi investor yang sudah mau datang dan ber investasi di Aceh. Jangan sampai keliru dalam pendekatan dan emosional dalam penanganan sehingga menjadi hambatan bagi pihak investor, namun ini hanya semata-mata untuk pertimbangan kemaslahatan kedua belah pihak.
Dulu selama Mobil Oil beroperasi, seluruh hasil di Aceh ditarik ke pusat sebagai pendapat negara dan kemudian didistribusikan kembali ke Aceh berdasarkan proporsi. Dan kontribusi yang kurang ideal namun sekarang sejak adanya BPMA kita harapkan pembagian hasil dari eksploitasi hasil migas Aceh akan lebih berkeadilan.
Sekarang pemerintah pusat juga sudah memberikan sangat banyak perhatian , peluang dan kesempatan kepada kita dengan segala kekhususan bagi Aceh, kepercayaan ini harus kita jaga dengan baik dan kita harus berjuang serta membangun komunikasi yang berkelanjutan untuk mengimplemtasikannya.
Kita harapkan Pemerintah Aceh bisa duduk kembali dengan Repsol sekaligus mengundang beberapa perusahaan pendukung yang dianggap bisa berperan untuk membantu proses /re work “ Assist “ terhadap barang-barang yang dibutuhkan dalam operasional Repsol.
Di samping itu penulis sangat yakin bahwa banyak putra-putra Aceh yang mampu dan mau melakukan investasi di bidang tersebut di Aceh, asalkan diberikan ruang waktu yang jelas dan informasi yang transparan terhadap prospek bisnis karena investasi adalah hal yang perlu dilakukan feasibility/assessment.
Di mana pemerintah Aceh dan bagaimana peran dalam berdialog untuk membantu pihak investor saat mereka akan melakukan investasi ? Pemerintah Aceh harus berperan aktif dan bisa membangun komunikasi dua arah dengan pihak investor.
Jika terlalu sibuk dan butuh percepatan maka bisa mendelegasikan tugas tersebut kepada Penasihat Bidang Ekonomi (Jika perlu segera bentuk Dewan Ekonomi Aceh ) yang nantinya akan bisa berkomunikasi dan koordinasi dengan bidang bidang terkait seperti BKPMD, Kabupaten/kota, Dewan KEK, BPKS dan laporan langsung kepada gubernur.
Sehingga Keputusan yang akan di ambil di tingkat provinsi akan sinkron dan tidak bertentangan/overlapping dengan kebijakan yang akan diambil oleh lainnya di bawah kendala gubernur termasuk BPMA yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan investasi di daerah dan bisa kembali menciptakan iklim yang tidak kondusif .
Apa alasan Repsol Oil memutuskan memakai Batam sebagai Logistics base-nya, apakah Pemerintah Aceh tidak mampu mempersiapkan lokasi/lahan SDM, perlengkapan pendukung lain atau merasa tidak aman? Dulu Batam memang ditetapkan oleh pemerintah sebagai “logistics hub“ untuk seluruh perusahaan perminyakan dan mereka wajib mengunakan Batam sebagai Base Logistics sebelum barang-barang didistribusikan ke daerah lainnya di mana mereka beroperasi.
Namun sejak 15 tahun terakhir berdasarkan pertimbangan biaya, Pemerintah indonesia memutuskan untuk mencabut status tersebut (membebaskan perusahaan perminyakan dan bisa mengangkut langsung barang dari luar negeri, langsung ke lokasi proyek sehingga bisa melakukan banyak efisiensi, ketika Batam dipakai sebagai daerah transit, seluruh biaya yang timbul dibebankan dan di-charges kembali ke pemerintah Indonesia sebagai biaya operasional yang akan menjadi beban pemerintah/cost recovery) dan ini tentunya mempunyai potensi besar terjadi penggelembungan biaya karena kurang memperhatikan efisiensi yang pada akhirnya akan membebankan pemerintah dan mengurangi profit sharing.
Kalau dilihat dari letak geografis dan teori lokasi dan pertimbangan Cost Logistics, untuk Project Repsol di Aceh maka penggunaan Batam masih sangat tidak menguntungkan karena:
a. Hingga sekarang belum ada pabrik/industri manufacture yang memproduksi drill pipe di Batam dan barang-barang keperluan primer industry perminyakan , umumnya negara-negara produsen dan supplier untuk barang-barang perminyakan masih di kawasan Eropa, USA, Australia dan sekarang China. Sedangkan industri yang banyak di Batam adalah untuk melakukan pekerjaan melengkapi atau kerjaan lanjutan seperti sandblasting, ulir head pipe, repair dan lainnya.
Jika industri sejenis ini yang dibutuhkan di Aceh untuk mensupport Industri minyak dan gas, maka sekaranglah momennya bagi Pemerintah Aceh untuk bergerak mencari, meng-approach serta mengajak beberapa investor untuk dibawa ke Aceh termasuk yang ada di Batam tersebut agar membuka kantor dan beroperasi di Aceh karena pasar mereka sudah jelas dengan adanya Repsol Oil serta beberapa perusahaan perminyakan lainnya di Aceh seperti Medco Energi, Triangle Pase , Premier Oil , Mubadallah Petroleum Indonesia, Zaratex dan lainnya.
b. Mengenai lahan, fasilitas dan perizinan dengan adanya KEK Lhokseumawe, KIA Ladong, Pelabuhan Bebas Sabang yang sudah bertahun-tahun mati suri ini adalah golden Moment buat Pemerintah Aceh untuk sebagai entry point melakukan terobosan dalam pembangunan dan mengerakkan investasi di Aceh. Untuk apa semua nama besar tersebut yang hanya tiap hari didengungkan tapi belum bisa memberikan efek buat masyarakat . Kalau industri hulunya seperti Repsol sudah pasti beroperasi maka untuk mengajak industri pendukung akan lebih mudah, apalagi diberikan fasilitas yang sama dengan yang di Batam .
c. Jika dilihat dari pertimbangan waktu dan biaya, maka penggunaan Batam sebagai Logistics Hub/ Base juga tidak lebih efisien karena akan terjadi double handling yang akan menimbulkan biaya tinggi di samping itu barang-barang itu masih jauh dengan lokasi operasional proyek dan memerlukan biaya yang masih besar untuk pengapalan lebih lanjut baik ketujuan langsung lokasi proyek maupun ke tempat penimbunan selanjutnya di Aceh. Ini bisa meningkatkan logistics cost hingga 2-3 kali lipat .
Andaipun harus memberikan opsi atas pertimbangan permintaan Repsol, pemerintah bisa menawarkan opsi sebagai berikut:
*) Sabang Free Trade Zone
*) KEK Lhok Seumawe – Pelabuhan Lhokseumawe
*) KIA Ladong (Kawasan Industri Ladong) dengan Pelabuhan Malahayati (akan dideclare sebagai salah satu Lokasi Pusat Logistik Berikat)
Semua Lokasi di atas sudah pasti mendapatkan Keringanan-keringanan pajak, kemudahan berinvestasi yang sama dengan yang mereka dapatkan di Batam dan ini lebih menguntungkan karena barang-barang sudah sangat dekat (stock) ke lokasi operasi proyek dan tidak double handling sehingga saat kita berbicara pengembangan Aceh maka sudah all out tentang Aceh
d. Perdamaian Aceh yang sangat diharapkan sudah berjalan baik. Sudah hampir 3 periode Pemerintah Aceh pascakonflik, namun belum ada kelihatan hasil nyata yang monumental yang memberikan stimulus terhadap pembangunan ekonomi masyarakat dengan dana dari pemerintah pusat yang besar. Kita berharap banyak kepada pemimpin sekarang untuk mengambil langkah-langkah berani, kritis dan bisa dipertanggungjawabkan untuk menggerakkan perekonomian masyarakat yang berkeadilan, mari kita bersama sama memikirkan Aceh secara utuh dan tidak terpecah belah .
Apa manfaat yang didapat oleh masyarakat Aceh yang tanah endatunya digaruk/dibor sementara hanya dijadikan tempat numpang lewat, tanpa ada kesempatan bagi generasi muda di Aceh untuk berpartispasi , belajar , bisa mencari rezeki dan ikut serta membangun daerahnya demi kemajuan dan masa depan aceh dengan cara melibatkan mereka dalam proses ini kita secara otomatis akan bisa membangun Nasionalisme untuk meyakinkan bahwa negara benar benar hadir untuk dalam kehidupan mereka.
Sekali lagi, jika berita tersebut benar dan sudah menjadi keputusan mutlak Repsol untuk menempatkan base logistics di Batam, maka perlu secepatnya Pemerintah Aceh untuk segera mengkaji ulang dan mengundang Repsol sebagai investor untuk membicarakan tentang hal tersebut agar dikaji ulang dan mereka harus mempertimbangkan untuk memanfaatkan wilayah teritorial Aceh sebagai Base Logistics nya, baik ON SHORE BASE ataupun Off SHORE BASE, dan pemerintah harus meyakinkan akan menyediakan fasilitas tersebut sebagaimana mereka perlukan untuk mensupport operasionalnya dan banyak opsi yang bisa dilakukan untuk membangun fasilitas tersebut dan bisa di diskusikan bersama.
Apabila keputusan itu tetap dilaksanakan di luar Aceh dan pemerintah daerah tidak melakukan apapun, maka tidak ada harapan lagi kapan akan dimulai investasi yang nyata hingga akhir kepemimpinan periode ini. Kita masih harus menunggu dan menunggu semua perencanaan tersebut. Namun akan tetap menjadi wacana saja sepanjang masa dan hanya sebatas pembicaraan di warung kopi untuk menyenangkan rakyat dengan berita dan harapan yang manis. Karena kita tidak memafaatkan momen dan peluang tersebut secara positif. Jangan pernah berharap lagi pemerintah akan mampu membawa investor lain ke Aceh , dan berharap mengisi ruang untuk KEK, KIA, Sabang dan lain-lain.
Sehubungan kehadiran Repsol sebagai investor kelas dunia di Aceh, mari kita sambut baik dan perlakukan sebagai tamu di rumah kita yang akan ikut membantu pertumbuhan perekonomian Aceh untuk bangkit kembali. Sehingga generasi muda, anak anak yatim piatu bisa belajar, berkarya dan berkiprah di Tanah Kelahirannya. Sehingga angka pengangguran pelan-pelan akan bisa kita kurangi, tingkat kriminalitas berangsur turun dan kembali kita bisa bangkitkan kebanggaan dan marwah kita sebagai orang Aceh dalam bingkai NKRI .
Perth, 17 Juli 2019

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda