AirNav Indonesia. [Foto: Kompas]
“Kami monopoli, tetapi target kami bukan mencari keuntungan melainkan fokus terhadap pelayanan, pelayanan, dan pelayanan,” ujar Novie di Jakarta, Jumat (22/2/20190).
Walaupun Airnav tidak berorientasi terhadap keuntungan, kinerja keuangan dalam enam tahun terakhir atau periode 2013-2018 tidak pernah menunjukkan rapor merah. Pada 2018, Airnav mencatat laba dan pendapatan masing-masing Rp 388 miliar dan Rp3,2 triliun.
“Intinya, dalam lima tahun terakhir sejak beroperasinya Airnav (2013), kami tidak pernah rugi,” tegasnya dikutip dari sindonews.
Airnav juga diuntungkan jika nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah menguat. Hal ini disebabkan 70% pendapatan perseroan dikontribusi oleh dolar AS.
“Bisa dibilang kami sangat diuntungkan kalau dolar AS menguat,” sambung dia.
Pada tahun ini, Airnav menganggarkan belanja modal sebesar Rp2,6 triliun. Rincian penggunaannya adalah peralatan communication adalah Rp260,4 miliar (10%), navigation Rp113,5 miliar (4%), surveillance Rp222 miliar (9%), automation Rp1,1 triliun (44%), mechanical & electrical Rp71,4 miliar (3%) serta building & supporting Rp779,7 miliar (30%).
“Salah satu penggalangan dana kami berasal dari tiket penumpang. Sekitar 1,5% biaya operasional maskapai penebangan dialokasikan untuk kami,” jelasnya.
KlikKabar.com Jujur Mengabarkan