Home / BERITA TERBARU / Pasca Erupsi, Anak Krakatau Bentuk Kawah Baru

Pasca Erupsi, Anak Krakatau Bentuk Kawah Baru

Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Minggu (23/12/2018). (Foto: KOMPAS)

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) menemukan fakta baru pasca erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami di perairan Selat Sunda, Sabtu (22/12/2018) lalu.

Penemuan tersebut merupakan pendangkalan dasar laut dan adanya perubahan bentuk morfologi Gunung Anak Krakatau dan diperoleh setelah KRI Rigel-933 yang merupakan kapal survei di bawah pembinaan Pushidrosal melakukan survei hidro-oseanografi dan investigasi.

Kapushidrosal Laksda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, dalam keterangannya mengatakan, dari data hasil survei hidro oseanografi Pushidrosal tahun 2016 dan data Multi Beam Echosounder (MBES) hasil Survei Tim Pushidrosal pada tgl 29 sd 30 Desember 2019, perairan di Selatan Gunung Anak Krakatau diperoleh perubahan kontur kedalaman 20 sd 40 m lebih dangkal.

“Hal ini terjadi karena tumpahan magma dan matrial longsoran Gunung Anak Krakatau yang langsung jatuh ke laut,” kata Harjo Susmoro, Selasa (1/1/2019).

Selain itu dengan pengamatan visual radar dan analisis dari citra diketemukan perubahan morfologi bentuk Anak Gunung Krakatau pada sisi sebelah barat seluas 401.000 m2 atau lebih kurang sepertiga bagian lereng sudah hilang dan menjadi cekungan kawah menyerupai teluk.

Pada cekungan kawah ini juga masih dijumpai semburan magma gunung anak Krakatau yang berasal dari bawah air laut. Survei investigasi pasca Tsunami di perairan Selat Sunda yang dilaksanakan oleh Pushidrosal merupakan tugas yang sesuai amanah dari Kepres 62 Tahun 2016 sebagai Kotama Pembinaan TNI AL dan anggota International Hidrographyc Organization (IHO).

Tim ini mempunyai tugas melaksanakan survei investigasi pada saat terjadi bencana alam maupun kecelakaan di laut untuk menjamin keselamatan navigasi dan keamanan pelayaran bagi kapal-kapal yang sedang berlayar.

Selain itu data batimetri, oseanografi, data layer dasar laut yang diperoleh dari peralatan sub bottom profiling (SBP) diharapkan dapat di teliti dan dianalisis lebih detail lagi oleh peneliti, pakar dan akedemisi sehingga mampu memberikan informasi kepada pemerintah serta masyarakat fenomena yang terjadi pasca erupsi dan Tsunami di perairan Selat Sunda.

“Semoga data hasil survei tersebut akan dapat dibuat penelitian ilmiah dan untuk pembuatan peta khusus tematik mitigasi bencana,” pungkasnya.

Baca Juga: [Foto] Refleksi Tsunami Aceh, Dulu dan Sekarang

Tak Ada Peringatan Dini Saat Tsunami Selat Sunda

Kisah Dramatis Nelayan yang Selamat di Perairan Anak Krakatau