Home / ACEH / Cut Nak-Cut Nyak non Aceh

Cut Nak-Cut Nyak non Aceh

Neno Warisman (kanan) bersama mantan Panglima GAM, Mualem. (Harian Aceh)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Peumulia Jamee Adat Geutanyoe, adalah sebuah kalimat yang sedang booming di Aceh, khususnya di Banda Aceh. Kalimat tersebut digunakan sebagai kata kunci pada Program Visit Banda Aceh 2011 lalu.

Hingga saat ini, kalimat itu masih digunakan. Seperti yang dilakukan oleh aktivis gerakan #2019GantiPresiden terhadap Neno Warisman di gedung Haji Yusriah Lampeneurut, Aceh Besar, Aceh, Minggu (30/9/2018) kemarin.

Neno Warisman mendapatkan gelar Laksamana Muda Cut Nyak Dien ketika acara pengukuhan komunitas #2019PrabowoSandi.

Pemberian gelar ditandai dengan penyematan selendang dan rencong kepada Neno Warisman oleh Raja Meureuhom Daya, Saifullah.

Keputusan itu menuai kontrovesi dari berbagai pihak. Banyak kalangan di Aceh yang geram terhadap keputusan itu. Padahal, begitu banyak tokoh yang selama ini peduli terhadap Aceh, tapi tak mendapat penghargaan, sebut saja Tan Sri Sanusi.

Pria berdarah Aceh ini merupakan Menteri Pembangunan Luar Bandar dan Wilayah periode 1981-1986 dan pernah memegang jabatan sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia sejak 1980 hingga 1981.

Meski sangat banyak memberi kontribusi untuk pembangunan Aceh, Sanusi tak mendapat penghargaan apapun dari Aceh hingga meninggal dunia pada Maret 2018 lalu di Kuala Lumpur.

Artinya, ini menunjukkan betapa latahnya orang Aceh memberi gelar kepada orang lain tanpa kajian dan pertimbangan yang matang.

Bukan Pertama

Ternyata gelar kehormatan dari Aceh untuk warga yang dianggap “tokoh nasional” bukan untuk Neno Warisman saja. Sebelumnya, Aceh juga memberikan gelar kepada Mbak Tutut yakni “Cut Nyak”.

Kemudian, saat Megawati datang ke Aceh. Bahkan, dia menyebut dirinya dirinya sebagai “Cut Nyak”. Lalu, Amin Rais, saat datang ke Aceh dia menyemat Rencong di pinggangnya. []