Home / ACEH / Ratna Sarumpaet Suarakan Aceh

Ratna Sarumpaet Suarakan Aceh

Ratna Sarumpaet (Kumparan.com)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Sekali berbohong, seumur hidup orang tak percaya. Pribahasa ini sepertinya cocok untuk menggambarkan sosok Ratna Sarumpaet.

Ratna Sarumpaet adalah seniman berkebangsaan Indonesia yang banyak mengeluti dunia panggung teater, selain sebagai aktivis organisasi sosial dengan mendirikan Ratna Sarumpaet Crisis Centre.

Baru-baru ini, Ratna Sarumpaet menjadi sorotan publik Indonesia setelah kabar penganiayannya viral di media sosial. Ratna berbohong soal penganiayaan dirinya saat bertemu sejumlah orang di Bandung.

Namun, “nyanyian” Ratna mendapat respon beragam dari publik. Banyak yang tak percaya tentang perihal itu.

Akhirnya, hari ini, Rabu (3/10/2018), Ratna Sarumpaet mengaku merekayasa kabar penganiayaan dirinya di Bandung. Ratna meminta maaf ke banyak pihak, termasuk ke pihak yang selama ini dikritiknya.

“Saya juga meminta maaf kepada semua pihak yang selama ini mungkin dengan suara keras saya kritik dan kali ini berbalik ke saya,” kata Ratna seperti dilansir Detik.com, Rabu (3/10/2018).

Kontribusi untuk Aceh

Namun, di balik semua itu, ternyata Ratna Sarumpaet memiliki kontribusi untuk Aceh, terutama saat musibah gempa dan tsunami Aceh.

Melalui Ratna Sarumpaet Crisis Centre, Ratna mengirim relawan untuk memulihkan Aceh pasca musibah maha dahsyat itu.

Selain itu, Ratna juga pernah dielu-elukan oleh warga Aceh melalui naskah drama yang ia cipta dengan judul “Alia, Luka Serambi Mekah”.

Drama itu dengan liris menceritakan perjuangan seorang perempuan muda Aceh untuk mencapai hidup yang manusiawi. Penayangan pementasan drama ini secara nasional oleh sebuah stasiun televisi di Indonesia dan sempat dilarang tanpa alasan yang jelas.

“Alia, Luka Serambi Mekah” adalah cerita mengenai luka yang sekarang ini muncul di mana-mana di Indonesia. Alia adalah personifikasi perjuangan untuk perdamaian dan untuk rasa damai di seluruh negeri.

“Alia adalah bangunan lain yang berupaya sejajar dengan kepedihan perjuangan Cut Nyak Dhien atau Cut Nyak Meutia, para pejuang Aceh masa silam,” demikian sebuah kutipan dalam drama itu.

Agaknya sulit untuk mencari tokoh yang bijak dalam drama Alia Luka Serambi Mekah. Sepertinya semua orang gamang dalam mencari letak kebajikan, mencari diksi yang menentramkan.

Tentu saja hal seperti ini adalah sebuah strategi dari seorang Ratna Sarumpaet untuk meneror kita sebagai apresiator yang sudah dilenakan dengan dunia yang indah tanpa memikirkan bahwa realitas yang terjadi, yang sebenarnya berada tak jauh dari mata kita begitu butuh perhatian. Ratna Sarumpaet ingin menggugah kesadaran kita kendati hanya dalam media pementasan. []