Home / ACEH / Antara Kerinduan dan Kesedihan Keluarga Korban Tsunami Aceh

Antara Kerinduan dan Kesedihan Keluarga Korban Tsunami Aceh

Seorang warga tak mampu menahan tangisnya saat berziarah di kuburan massal Ulee Lheu, Banda Aceh, Selasa, 26 Desember 2017. (Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Tepat tiga belas tahun lalu, 26 Desember 2004 saat dunia tengah bersiap berganti kalender tahunan, bencana tsunami maha dahsyat menerjang Aceh. Bencana yang kemudian didaulat sebagai salah satu yang terhebat di abad 21 ini dimulai dari gempa 9,1 SR di Samudera Hindia.

Besarnya kekuatan gempa memicu gelombang tsunami yang menghantam Aceh, Thailand, Sri Lanka, India, Maladewa, dan pesisir timur Afrika. Tsunami yang terjadi tepat pukul 07.55 WIB itu membawa jutaan liter air laut ke daratan.

Diperkirakan sekitar 280 ribu jiwa menjadi korban akibat bencana tersebut. Aceh menjadi wilayah paling parah dilanda tsunami dengan korban diperkirakan lebih dari 200 ribu jiwa.

Kesedihan yang teramat dalam dirasakan oleh keluarga korban, tanpa terkecuali bangsa Aceh. Konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan RI yang telah berlangsung puluhan tahun silam pun disikapi dengan arif oleh kedua belah pihak yaitu dengan cara berdamai tepat pada tanggl 15 Agustus 2015.

Dengan kata lain, jalur perdamaian yang ditempuh adalah satu-satunya opsi yang harus diambil pasca tsunami memporak-porandakan Aceh.

Kerinduan yang mendalam akibat kehilangan sanak keluarga, sahabat dan orang-orang yang dicintai tentu tidak mudah untuk dilupakan. Beberapa kuburan massal yang menjadi tempat peristirahatan terakhir ratusan ribu jasad korban tsunami kerap menjadi sarana pelipur lara keluarga korban, meski tidak dapat dipastikan jika itu adalah kuburan keluarga mereka.

“Saat lebaran saya juga sering berziarah ke kuburan massal ini, tidak hanya saat momentum peringatan tsunami (26 Desember_red) seperti sekarang saja,” kata Teuku Adriansyah, salah satu warga yang berziarah di kuburan massal Ulee Lheu, Banda Aceh, Selasa, 26 Desember 2017.

Teuku Adriansyah yang saat ini menjabat sebagai Keuchik Desa Punge Blang Oi itu menceritakan, ada enam anggota keluarganya yang menjadi korban keganasan tsunami. Saat kejadian, karena suatu keperluan dia tidak berada di rumah sehari sebelum tsunami sehingga berhasil selamat.

Ia juga mengaku sangat yakin jika keenam anggota keluarganya, dikuburkan bersama puluhan ribu korban tsunami lainnya di kuburan massal yang terpaut sekitar 2 kilometer dengan tempat tinggalnya ini.

Amatan Klikkabar.com, sebagian besar warga yang berziarah tidak mampu menyembunyikan kesedihan mereka. Lantunan ayat suci Al Quran dan doa yang dipanjatkan pun tidak terhenti meski tetesan air mata terus mengucur deras di wajah mereka. Setidaknya, itu adalah salah satu cara mengobati kesedihan dan kerinduan para keluarga korban tsunami.

Al Fatihah…