Home / ACEH / [Opini] Pilkada Aceh Jaya dalam Amatan

[Opini] Pilkada Aceh Jaya dalam Amatan

irvan

Oleh : Irvan

Sebanyak tiga pasangan calon bupati Aceh Jaya telah mendaftarkan diri ke Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Jaya, beberapa waktu yang lalu. Dengan demikian mereka yang telah mendaftarlah dipastikan akan mengisi pertandingan dalam kancah Politik Aceh Jaya pada pilkada 2017, meskipun KIP belum melakukan penetapan. Para pasangan ini telah mengikuti beberapa tahapan yang telah ditentukan oleh KIP Aceh Jaya.

Jauh-jauh hari pasangan-pasangan telah menunjukkan keinginannya untuk memajukan Aceh Jaya, keinginannya ditunjukkan oleh sikap menggalang masa agar mampu meraih suara terbanyak nantinya, dan akan keluar sebagai juara dalam kontes yang dilangsungkan secara demokrasi ini.

Menjelang pesta demokrasi pada tahap awal, para pasangan calon beserta para pendukungnya pasti akan “berperang” program sebagai bentuk kampanye, kampanye memang tidak dalam bentuk mengajak tapi menyiratkan makna terhadap ajakan memilih pasangan tertentu. Para pendukung pasti akan mengatakan bahwa “leumo lon tumbon,  leumo gob ciret” (sapi saya gemuk sapi orang sakit), begitulah proses awalnya terjadi dan hal itu adalah sebuah “keniscayaan” yang memang akan berkembang dalam pertarungan politik.

Medsos “Lapak” Kampanye

Media sosial memang sedang berada dalam pada posisi tertinggi yang digunakan oleh masyarakat tidak terkecuali masyarakat Aceh dan masyarakat Aceh Jaya. Dari anak SD sampai mahasiswa memilki akses terhadap media sosial seperti facebook, twitter, WA, Instgram, BBM dan lain sebagainya. Dengan demikian sangat tepat jika media sosial ini di jadikan lapak kampanye oleh para pasangan calon melalui tim pemengan dan pendukungnya.

Penggunaan media hampir dapat dikatakan tidak terkontrol secara efektif dalam penggunaannya, tidak hanya pada kasus politik tapi juga pada kasus lainnya secara umum, misalnya penggunaan media sosial oleh anak-anak yang masih dibawah umur. Fungsi kontrol yang kurang ini membuat media sosial menjadi area yang sangat “liberal”. “Keliberalan” ini terkadang juga akan berkibat negatif bagi penggunannya.

Perang argumen sering kali terjadi di media sosial. Jika adu argumen tersebut dilakukan secara cerdas dan santun tentu bukanlah hal yang penting untuk dibahas atau dipermasalahkan, namun dalam hal politik, faktanya berbicara lain. Banyak sekali argumen-argumen bernuansa provokasi yang dilontarkan menyebabkan sebahagian orang menjadi “sakit nya tuh disini” (sambil memegang dada) yang berdampak pada potensi konflik didalamnya.

Nada-nada provokasi ini terkadang tidak hanya dilakukan oleh orang yang punya kepentingan dalam hal politik tetapi juga oleh pihak yang melakukan secara iseng-iseng untuk bahan candaan, hal itu dapat dibenarkan mengingat media sosial adalah area bebas berargumen. Namun bagi pihak yang sedang beradu argument menganggap hal tersebut adalah hal yang sangat serius, harus di akui juga untuk mengindentifikasi mana yang serius dan iseng-iseng sangat sulit dilakukan.

Akibat argumen-argumen aneh inilah yang sarat akan potensi konflik yang nantinya akan berujung ke dunia nyata. Sosmed memang dapat menimbulkan kegaduhan secara langsung, namun sebagai kecenderungan cikal bakal terjadinya kegaduhan memang tidak dapat di elakkan, mengingat penggunaannya tidak hanya untuk orang-orang cerdas saja.

Untuk mengatisipasi hal ini, sangat bagus jika ada intelejen-intelejen dimedia sosial yang dikhususkan untuk menjaga argumen-argumen tidak etis yang memiliki potensi membuat kegaduhan. Tentunya dengan kemampuan analisa yang kuat terhadap hal tersebut, analisa yang demikian kebanyakan dimilki oleh pihak-pihak keamanan.

Belum Cerdas

Disuatu daerah terdapat berbagai elemen masyarakat. Strata-strata ini memang terbentuk secara alamiah dan bisa juga terjadi dengan cara di ciptakan. Akibatnya strata ini dapat dijadikan alat politik dan apabila dikelola dengan cara yang tidak cerdas maka akan berimbas kepada hal-hal yang negatif.

Di Aceh Jaya, pada permulaan dimulainya politik memang tidak terlalu “menggigit”, namun lamban laun dalam prosesnya menjadi semakin menarik untuk ditelusuri. Ada banyak isu yang berkembang, sehingga melahirkan keanehan-keanehan yang sebenarnya tidak diinginkan oleh masyarakat.

Sebenarnya, jauh-jauh hari dari berbagai tim pemenangan telah mengisyaratkan agar tidak melakukan intimidasi terhadap masyarakat, dan juga tidak bersikap memaksa dalam proses pilkada yang akan berlangsung, namun seruan tersebut tidak membal terhadap sebhagian oknum yang belum cerdas dalam politik.

Salah satu tujuan politik adalah menciptakan kemakmuran dan kedamaian dalam masyarakat, namun tujuan ini telah diselewengkan oleh oknum yang tidak menghargai demokrasi. Seharusnya dalam berpolitik bukan perang fisik yang ditonjolkan untuk memenangkan pasangan yang didukung melainkan program-program. Program tersebutlah yang akan dikonsumsi oleh masyarakat, setelah dicerna tentunya masyarakat akan menentukan pilihannya sendiri.

Ketidakcerdasan dalam berpolitik justru mengakibat masyarakat menjadi terkotak-kotak yang nantinya akan menimbulkan sentimen personal dalam kehidupan sosial. Membela, mendukung merupakan perbuatan yang sangat dibolehkan, tetapi perusakan atribut kampanye merupakan perbuatan yang tidak dapat ditoleril secara hukum dan juga sosial.

Fenomena ini bisa terjadi ada yang merasa di zalimi dalam berpolitik, perasaan itu tidak muncul dengan sendirinya melainkan banyak faktor yang menjadi indikasi. Kontrol emosi sangat penting dalam berpolitik, karena dengan begitu kecenderungan sikap yang berimplikasi kegaduhan, tidak akan muncul. Jika emosi mampu dikontrol justru akan melahirkan cara-cara berpolitik etis.

Jika nasi sudah menjadi bubur, apa yang hendak dilakukan?, yang sudah terjadi biarlah pihak yang berwenang yang akan memproses secara hukum. Sebagai masyarakat tidak perlu lagi mempersoalkan, begitu juga dengan para pendukung calon tertentu. Jadikan itu sebuah pengalaman berharga, sikap saling menghargai harus dikedepankan agar perpolitikan Aceh Jaya benar-benar damai dan aman.

Penulis merupakan warga Aceh Jaya. Mahasiswa program pasca sarjana UIN Ar-Raniry.

Apa Komentar Anda?

komentar