Home / BERITA TERBARU / “ERDOGAN VS GULEN”

“ERDOGAN VS GULEN”

13612174_10206582089099145_7269710889139082642_n

Oleh: Fakhul Rijal

Kudeta yang dilakukan oleh Militer terhadap presiden Turki Recep Tayyib Erdogan beberapa waktu yang lalu membuat Turki menjadi pusat perhatian dunia, semua dunia tertuju ke Turki. Banyak pihak menuding bahwa kudeta itu terjadi karena manuver politik dari Fethulleh Gulen. Tanpa bermaksud menjustifikasi kebenaran bahwa Gulen adalah dalang kudeta ini, sebenarnya Erdogan sangat phobia terhadap Gullen sejak sepuluh tahun terakhir, bahkan Gullen dituduhnya sebagai agen CIA, serta dituduh macam-macam di balik setiap gerakan politik yang ingin mengancam kekuasaan Erdogan.

Perseteruan ini tak kunjung selesai. Sebenarnya sangat menarik jika perseteruan politik tersebut berlangsung dalam bingkai politik demokrasi, bukan dengan cara kudeta militer. Tapi apa yang telah terjadi saat ini cukup menggambarkan ada benih-benih ketidakpuasan sebagian masyarakat Turki atas kinerja pemerintah dibawah naungan partai AKP.

Perlu disinggung sedikit siapa sosok Gulen ini. Dari beberapa referensi yang penulis jadikan rujukan bahwa Muhammad Fethulleh Gulen lahir di Erzurum, Turki Timur, 11 November 1938. Hingga kini, lebih dari 70 buku telah ia tulis dan lebih dari 1.000 kaset dan CD mengenai ceramahnya telah dipublikasikan. Salah satu aspeknya adalah pendidikan, Gulen telah banyak berkontribusi dalam pendidikan dan lembaga sosial di Turki sampai kekancah internasional, termasuk Indonesia.

Dari data yang penulis dapatkan Gulen telah mendirikan 1000 sekolah di lebih dari 100 negara di dunia; enam buah rumah sakit umum; beberapa media cetak dan elektronik; sebuah universitas; organisasi bantuan sosial internasional; organisasi dialog antar agama internasional; dan gerakan ini sudah memiliki cabang di berbagai negara di dunia, empat cabang di antaranya di Amerika.

Sikap Erdogan Pasca Kudeta

Pemerintahan Recep Tayyip Erdogan sejak 2012 pernah mengkambinghitamkan bekas sekutunya, ulama moderat Mohammed Fethullah Gulen dan gerakan Hizmet, sebagai pelaku kerusuhan di Turki. Sebagai contoh, pembersihan militer tak hanya terjadi setelah kudeta gagal akhir pekan lalu. Ternyata pada 2012, Erdogan juga pernah melakukan pembersihan di tubuh militer dengan memecat 236 tentara, mulai dari level tinggi sampai rendah. Dia menuding para tentara itu sebagai loyalis Gulen yang mencoba akan menggulingkan kekuasaanya. Bahkan, sejak 2013, Erdogan mengumumkan Gerakan Gulen sebagai kelompok teroris yang membuat banyak pengikut kelompok tersebut mencari suaka ke luar negeri.

Memang hubungan Erdogan dan Gulen pernah mesra. Tapi dunia politik sama sekali tidak bisa diukur, istilahnya tidak ada lawan dan kawan sejati dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Keretakan hubungan Antara Erdogan dan Gulen disebut-sebut mencapai puncak pada tahun 2013, di saat-saat mencuat tuduhan korupsi dalam tubuh pemerintahan Erdogan. Akan tetapi kudeta terhadap pemerintahan yang sah sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh akal sehat dan undang-undang manapun di dunia ini. Bahkan agama melarang perbuatan ini, dan menggolongkannya sebagai perbuatan bughah(pemberontak).

Erdogan adalah seorang sekuleris, dalam beberapa kesempatan ia selalu menyampaikan bahwa Turki adalah Negara sekulerisme. Jika ditelusuri secara mendalam pernyataan serta kebijakan yang pernah dilaksanakan Erdogan, sebagian besar kebijakan tersebut mengarah kepada penerapan  nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah pemimpin yang secara terang-terangan menghapus peraturan larangan berjilbab. Uniknya ia tidak menyampaikan bahwa persoalan jilbab adalah persoalan agama (baca: syariat), melainkan jilbab termasuk dalam pemenuhan hak-hak asasi manusia.

Kalau berjilbab dilarang, itu telah merusak hak-hak asasi manusia. Kecemerlangan pemikiran seperti ini disebabkan bahwa urusan agama dalam Negara tidak semua Negara menyepakatinya, apalagi Barat, yang anti terhadap penerapan syariat Islam. Lalu urusan jilbab dimasukkanlah dalam kategori hak-hak asasi manusia. Ini adalah alasan kuat untuk dilegitimasi secara universal.

Selain itu Erdogan secara tegas mendukung kemerdekaan Palestina. Ia dengan lantang berbicara dalam forum PBB bahwa Palestina berhak mengatur urusan rumah tangga sendiri di tanahnya sendiri, dan mengecam pihak-pihak (baca: Israel) yang telah menodai kedaulatan negeri para nabi itu. Bukti pernyataan Erdogan didukung oleh aksinya membantu Palestina dengan mengirim bantuan-bantuan kemanusiaan, seperti pakaian, obat-obatan, makanan dan lain sebagainya.

Fakta lain kepedulian Erdogan terhadap umat Islam adalah pengungsi Suriah. Lebih 2 juta pengungsi Turki ditampung di Negara Turki Usmani itu. Dan terbanyak diantara Negara-negara Eropa lainnya. Baginya persoalan Suriah adalah persoalan kemanusiaan, tidak semata-mata karena ada hubungan agama. Tapi bagi rata-rata umat Islam menganggap apa yang telah dilakukan oleh Erdogan adalah misi Islam.

Pernyataan Erdogan pernah tersohor dan menjadi bahan pembicaraan publik sewaktu dia mengatakan bahwa dimanapun azan dikumandangkan disitulah negaraku. Penganut Islam yang taat tentu saja mengagumi karakter pemimpin seperti ini, dan dengan karakter itulah ia dicintai oleh rakyatnya. Sampai-sampai rakyatnya rela turun ke jalan setelah mendengar seruan dari Erdogan melalui stasiun TV milik pemerintah, rakyat rela mati mempertahankan kekuasaan Erdogan dari kudeta militer gagal tersebut. Sehingga ungkapan yang paling bagus untuk melukiskan peristiwa ini adalah “rakyat Turki telah menyelamatkan Erdogan dari kekuasaannya.”

Tapi sayangnya pasca kudeta beberapa waktu yang lalu, pada hari selasa tanggal 20 Juli 2016 Erdogan dikecam oleh beberapa pihak dan dianggap sebagai pemimpin yang sangat keras bahkan dilabel sebagai presiden yang arogan dan diktator. Hal ini disebabkan Erdogan telah memberhentikan lebih puluhan ribu guru dan seluruh dekan universitas menerima pengumuman bahwa mereka harus menghadapi penangguhan. Lisensi 21.000 staf yang bekerja di sekolah swasta dicabut, lebih dari 15.000 karyawan di kementerian pendidikan dipecat, dan dewan pendidikan tinggi yang dikelola negara meminta 1.577 dekan universitas untuk mengundurkan diri.(republika:20/07/2016).

Tak hanya di bidang pendidikan, sejumlah karyawan di kementerian dan institusi lain juga diberhentikan. Karyawan yang diberhentikan itu termasuk 9.000 polisi, 2.745 hakim, 8.777 dari kementerian dalam negeri, 1.500 dari kementerian keuangan, 257 staf di kantor perdana menteri. Tak hanya itu, setidaknya 100 karyawan di Badan Intelijen Nasional MIT, 300 dari kementerian keluarga dan urusan sosial, dan 492 dari kementerian agama juga turut diberhentikan. (Telegraph, Rabu, 20/7/2016). Hal itu merupakan bagian dari upaya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk “membasmi” pendukung Gulen, ulama yang berada di AS yang dituduh mendalangi upaya kudeta Turki dengan menyusupi lembaga negara.

Menurut hemat saya, sikap Erdogan tidak boleh divonis sepihak, sebagai sikap yang diktator. Barangkali anggapan ini terlalu subjektif. Bagaimanapun kondisi Negara Turki saat ini benar-benar darurat, dan Erdogan selaku kepala tinggi Negara berkewajiban menjaga agar damai, dan benih-benih kudeta pada masa akan datang bisa dihilangkan. Karena itu, tidak serta merta kebijakan politik Erdogan ini disalahkan.

Boleh jadi sikap yang diambil Erdogan adalah alternatif jitu yang bisa saja orang lain juga melakukannya. Kita masih ingat bagaimana gerakan PKI “dibumihanguskan” di Indonesia. Pasca G 30 S PKI, hampir semua pengikut PKI dibunuh. Sejarah telah menyebutkan, kadang-kadang mereka adalah petani yang tidak terlibat langsung dalam politik PKI dibunuh juga. Ini merupakan sebuah upaya agar ideologi PKI tidak lagi berkembang.

Tidaklah sama peristiwa pemberangusan PKI dengan apa yang dilakukan Erdogan, tetapi setidaknya memiliki kesamaan jika mengharapkan kenyamanan “kursi kekuasaan” maka para pembangkang harus dibuat jera, bisa saja dengan tidak diberi wewenang untuk mengurusi administrasi-administrasi Negara.Dipecat, lebih dari itu dihukum mati dan penjara.

Sikap kita terhadap kudeta

Saya sendiri tidak berani berspekulasi apakah Gulen memang benar-benar berada dibalik kudeta. Gulenadalah sosok ulama yang benar-benar idealistik memperjuangkan hak-hak asasi manusia di panggung dunia. Namanya memang tak sebesar Ibnu Taimiyah atau Hasan Al-Banna. Namun, sekali lagi setiap zaman mempunyai orangnya, dan setiap orang memiliki zamannya.

Erdogan dan Gulen adalah dua sosok manusia yang memiliki banyak kesamaan ideologi dalam menyampaikan pesan-pesan moral dalam al-Qur’an. Bedanya, Gulen adalah “orang yang tersingkiran dalam perpolitikan di Turki” lalu “melarikan diri” ke Amerika Serikat, dan memperjuangkan Islam melalui gerakan kemanusiaan, sedangkan Erdogan adalah orang yang sedang memperjuangkan krisis umat Islam melalui jalan pemerintahan di Negara kebab itu.

Kita harus menghormati sistem demokrasi di Turki.Dan tidak boleh asal nuduh bahwa Erdogan telah menjadi pemimpin diktator. Kudeta yang terjadi di Turki semoga menjadi pelajaran penting bagi kita agar mencermati dan menghayati apa dampak positif dan negatifdari sebuah kudeta.Kita akui, apa yang terjadi di Turki akan menghambat kemajuan bangsa itu. Karenanegara akan berurusan dengan pembangun kembali negaranya dari kerusakan-kerusakan, baik kerusakan fisik dan psikis. Satu sisi Erdogan merupakan wajah besar Islam hari ini. Gerakan Islam dunia banyak berkiblat kepada Erdogan. Mari bersikap bijak!

Penulis: Fakhrul Rijal

Sekjen RADINA (Rabithah Dinul Islam Naggroe Aceh),

Mahasiswa Program Doktor UIN Ar-Raniry,dan Peneliti di LSAMA.

Email: [email protected]

Apa Komentar Anda?

komentar