Home / ACEH / Implementasi Rabitah Dalam Kehidupan Sehari-hari

Implementasi Rabitah Dalam Kehidupan Sehari-hari

Tgk Helmi..

Oleh : Helmi Abu Bakar El-Langkawi

Manusia sebagai “ahsanil taqwim” merupakan sebagai makhluk yang diberi cahaya akal untuk berfikir maka langkah awal yang harus ditempuh adalah berfikir kemudian menerapkan kepada tindakan. Bayangan pikiran itu laksana seperti pohon yang tumbuh dan berkembang secara perlshsn dsn berangsur-angsur, ketika panen tiba menghasilkan buah yang manis atau pahit.

Suatu bentuk bayangan pikiran yang baik adalah merupakan benih yang akan menghasilkan buah “amaliah” yang “hasanah”, lezat dan harum. Tentu saja aplikasinya dengan senantiasa memelihara bayangan pikiran yang baik, seiring berputarnya dimensi waktu, mereka melarikan akar-akar mereka di seluruh penjuru jiwanya dan tumbuh menjadi sosok pohon besar dan kuat.

Prosesi rabithah itu juga dapat diumpamakan seperti bercermin. Kita bercermin aplikasi perbuatannya akan menyesuaikan diri dengan obyek yang ada di hadapannya. Meskipun watak dan karakter manusia itu telah terbentuk sulit untuk diubah, namun apabila dilkukan usaha yang tekun dan istiqamah untuk menghapus prilaku dan watak  yang tidak diinginkan itu maka akhlakul karimah dan kebaikan secara alami dan perlahan akan menghampirinya.

Untuk itu diperlukan pemusatan perhatian kepada nilai-nilai “usawatun hasanah”, termasuk bayangan kepribadian yang mampu menjadi “nasihatun nafsi”(self-suggestion) untuk bisa dikoneksikan diri dalam hubungan vertical dan horizontal yang terbungkus dalam dimensi ibadah untuk mengharapkan ridha ilahi di setiap saat dan tempat kita berada Esensi rabitah pendek katanya merupakan suatu ungkapan ikatan hati kita dengan apa yang akan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dikala seseorang membayangkan pikiran yang positif (thingking positif), maka bayangan tersebut akan mengantarkannya kepada perkara positif dan suci. Namun Sebaliknya memantapkan suatu bayangan negative (thingking negativ) dalam alam pikirannya akan mendorongnya untuk melakukan perbuatan yang negative dan tidak terpuji pula.

Menurut hemat penulis rabitah dapat dikelompokkan kepada tiga macam : pertama rabitah tabi’i. Rabitah tabi’i yaitu suatu ikatan atau pertautan yang terjadi secara kebiasaan fitrah  manusia. Fenomena ini dapat diumpamanya  ikatan hati yang terjadi dalam keluarga. Seorang suami mengingat nostalgianya bersama isterinya diawal khitbah hingga menjadi “raja sehari”, kemudin membayangkan saat-saat indah dikala pertemuan pertama yang membawa beliau dan isterinya terpautnya cinta terasa indahnya di dalam hati mereka dikala itu. Terlebih manakala sepasang suami istri yang menoleh sesekali ke foto dipelaminannya yang dipajang di dinding, pasti memori silam akan ter”close up” dengan sendirinya.

Dalam pengertiannya  seorang suami menambat hati atau mempertautkan hati dengan isterinya dan terhasillah kegembiraan dan kemanisan dihatinya disaat peristiwa manis itu terbayang masa nostalgia tersebut. Pendek kata rabitah ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi, setiap individu bisa merasakan dan mengalami secara naluri dan kefitahan manusia itu sendiri.

Kedua rabitah sufli . Rabitah sufli yaitu suatu ikatan dan pertautan hati dengan sesuatu yang bersifat rendah. Sesorang yang mempertautkan hatinya dengan harta, wanita, pangkat, kemegahan yang semuai itu pada akhirnya mendatangkan mudharat baik secara lahiriah maupun ruhaniah. Dalam hal ini Allah telah mempringatkan kita dalam firman-Nya yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9). Demikian pula Rasulullah SAW, beliau senantiasa memperingatkan kita  dari bahaya fitnah (cobaan) harta dan anak.

Di antaranya adalah hadist yang berbunyi : “Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian dan ujian terhadap umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336). Baginda nabi juga pada kesempatan yang lain pula memperingatkan kita tentang anak, Rasulullah SAW bersabda :“Sesungguhnya anak itu penyebab kekikiran dan ketakutan.” (HR. lbnu Majah no. 3666, Al-Baihaqi, 10/202, Ibnu Abi Syaibah 6/378). Bahaya inilah yang di cela oleh syara’ dan tidak memberikan manfaat rohaniah sebaliknya akan menyebabkan hati seseorang yang terpaut itu akan bertambah keras dan jauh dari Allah Ta’ala.

Ketiga rabitah ‘ulwi. Rabitah ‘ulwi merupakan suatu ikatan hati hati dengan sesuatu yang bersifat tinggi seperti mempertautkan hati dengan syiar Allah atau dengan orang-orang yang shaleh, atau dengan orang yang sudah nyata kewara’kannya, atau dengan Ulama’ yang merupakan sebagai “warisasul ambia”, dengan sahabat-sahabat nabi, serta dengan baginda nabiyullah Muhammad SAW, juga terpautan seorang pelajar dengan muallim (pengajar) dan sejenisnya. Semua pertautan hati tersebut di dunia ini merupakan dengan satu tujuan yakni  untuk mempertautkan hati dengan Allah SWT dan keridhaan-Nya dan tidak  ada tujuan yang lain walaupun sebesar atom (zarrah) sekalipun. Seandainya ada tujuan yang lain walau sedikit pun maka rabitah tersebut bertukar menjadi rabitah sufli disebabkan telah lari dari konsep Tauhid dalam ubudiyah.

Kita yang hidup diakhir zaman ini sudah pasti tidak mengenal sosok “khatimaul Ambia” yakni nabi Muhammad SAW secara fisik (jasmani), justru yang dapat kita lakukan dengan rabithah. Rabitah itu kita implementasikan dengan menghubungkan rohani kita dengan rohani ulama yang kita kenal secara jasmani, yaitu ulama yang benar-benar berkapasitas sebagai waratsah al-anbiya (ahli waris para nabi), yang kepada mereka beliau mewariskan isi rohani beliau dengan izin Allah SWT.

Seseoramg meskipun yang telah berilmu tinggi namun tidak dapat menyaksikan Allah dengan mata hatinya (bermakrifah) atau tidak yakin bahwa Allah selalu melihat segala perbuatan dan sikapnya sehingga berakhlak tidak baik maka hal tersebut menunjukkan ketidakdekatannya dengan Allah SWT. dalam sebuah hadist rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“. Seandainya kita belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan mata hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan sesuatu, ingatlah selalu perkataan Rasulullah yang merupakan sebagai manifestasi martabat ihsan yang berbunyi: Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”’ (HR Muslim, No. 11). bersambung..!

Penulis Merupakan Staf pengajar Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dan sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.

Apa Komentar Anda?

komentar