Home / BERITA TERBARU / Reaktualisasi Esensi Futuwwah Dalam Mewujudkan Generasi Qurani

Reaktualisasi Esensi Futuwwah Dalam Mewujudkan Generasi Qurani

P_20160417_103016_1467861485906

Oleh : Misniati Munir

Era globalisasi yang terus bergulir dengan berbagai macam teknologi dan inovasi baru, menuntut penduduk dunia untuk harus bergerilya dengan sekuat tenaga dan selektif disegala aspek kehidupan untuk membendung diri dari bergagai pengaruh nilai-nilai yang negative yang sedang dan akan dilakoni di jagad raya ini. Dalam hal ini salah satu elemen masyarakat yang harus sangat berperan dalam “berjihad” di era globalisasi saat ini adalah sang pemuda sebagai sosok the leader of tomorrow (sang pemimpin masa depan).

Banyak catatan senjarah mengukir peran pemuda dengan tinta emas sebagai pelopor kemerdekaan dan revolusi bangsa. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia pemuda mempunyai kontribusi dan eksistensi serta erannnya yang sangat besar dalam mengusir penjajahan hingga Indonesia diproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun mempertahankan dan meralisaikan kemerdekaan itu akan sia-sia tanpa partipasi semua pihak terutama pemuda.

Perjuangan mereka hingga detik ini belum usai, bahkan perjuangan sangat ini lebih menantang dan penuh lika-liku, disini peran pemuda dituntut untuk bisa menjawab tantangan zaman dengan segala kemampuan untuk aktif berkontribusi positif terhadap pembangunan, baik melalui tarbiyah, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
Dalam lintasan sejarah gerakan Budi Utomo yang lahir pada 1908 telah menyerukan dan mengumumkan nila-nilai persatuan dan kesatuan pada masyarakat supaya bangsa Indonesia pada ketika itu menjadi sebuah bangsa dengan satu kesatuan dan tidak terpetakan dalam berbagai perbedaan baik suku, ras, agama, dan lain-lain. Singkat cerita, gerakan pemuda yang tidak kalah kontributif pada tahun 1928 yang dimotori oleh pelajar Indonesia di Belanda yang membentuk Kongres Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI).

Kemudian pada bulan Agustus 1928 disusunlah susunan panitia kongres yang melibatkan berbagai organsisasi pemuda yang ada. Bukan yang hadir hanya dari kalngan PPPI, tetapai juga dari Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jog Celebes, dan seterusnya. Tokoh-tokoh seperti Sugondo Djojopuspito, Muhammad Yamin, hingga J. Leimena juga muncul dalam kepanitian tersebut. Kongres Pemuda selanjutnya berlangsung selama dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu 27-28 Oktober 1928. Para rapat penutupan di hari terakhir kongres, diperdengarkanlah lagu Indonesia Raya gubahan W.R. Supratman. Ketika itu lagu tersebut hanya dimainkan dengan biola tanpa syair.

Rumusan Sumpah Pemuda sendiri ditulis oleh Moehammad Yamin yang disetujui oleh Soegondo Djojopuspito sebagai ketua pantitia kongres. Adapun bunyi teks Sumpah Pemuda yang kita kenal yaitu: pertama, kami poetera dan poeteri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia. kedua, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. (Beritakotametro, 2014).

Indonesia merupakan salah satu negara didunia mayoritas penduduknya beragama Islam, hendaknya peran al-fata (pemuda) Islam menjadi tongkat estafet dan pioneer besar dalam pembangunan bangsa bukan hanya pembangunan fisik terlebih pembangunan spiritual dan akhlak bangsa yang semakin terinjakdan terikis dewasa ini oleh eraglobalisasi dan imformasi yang semakin canggih, disini hendakanya sosok alfata bisa menjadi the hero (pahlawan) dalam menyalamatkan bangsa ini. Realitanya dalam sejarah dari masa kemasa sosok pemuda memiliki andil serta peranan yang sangat penting terkait dengan masalah peradaban universal, seperti yang telah disebutkan diatas, termasuk dalam membangun umat.

The best agent of change merupakan frase yang paling tepat menggambarkan sepak terjang pemuda dalam perspektif sejarah Islam maupun dunia. Dalam kacamata sejarah peradaban Islam, pemuda merupakan tonggak kebangkitan umat serta sumber kekuatan pembela terhadap aqidah dan ideologi. Islam tidak dapat di lepaskan dari sosok al-fata. Pertumbuhan dan perkembangan agama Islam itu sendiri karena banyaknya peran aktif pemuda berkualitas didalamnya sebagai kader khalifah dimuka bumi ini dalam memperjuang dinul islam yang telah dicetuskan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu.

Esensi Futuwwah

Kata futuwwah merupakan bahasa arab yang berasal dari fata. Etimologinya fata itu bermakna pemuda yang tampan dan gagah berani. Futuwwah etimooginya dapat diartikan jalan hidup pejuang spiritual (spiritual warriorship). kesatriaan spiritual. Interpretasi futuwah itu sendiri sangat berkaitan dengan kepemudaan dalam interaksinya dengan kehidupan spiritual yang bersifat permanen, bukan hanya terpaut pada kepemudaan yang bersifat jasmani. Al-quranul karim sendiri juga menyinggung sosok al-fata (pemuda), diantaranya dinukilkan dalam surat Al-Kafhi ayat 10 berbunyi: (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).(QS. Al-kahfi: 10).

Dalam penafsiran ayat diatas tentang esensi pemuda diperjelas oleh riwayat dari Sulaiman bin Jafar, beliau berkata: Imam Jafar bin Muhammad berkata: Wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu? kemudian aku menjawab: ..pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda. Lantas beliau berujar kepadaku: Seperti yang engkau ketahui bahwa Ashabul Kahfi semuanya adalah orang-orang tua akan tetapi Allah SWT menyebut mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman: Barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda. Pernah dalam kesempatan yang lain Imam Jafar Ash-Shiddiq menyebutkan: Pemuda itu adalah seorang mukmin.

Berdasarkan paparan diatas bahwa esensi al-fata (pemuda) itu terletak pada kekuatan keimanan dan ketakwaan kepada sang khalik. Sosok pemuda yang berumur masih muda namun tingkah laku dan akhlaknya tidak mencerminkan sosok seperti yang digambarkan diatas, hakikatnya dia bukanlah seorang al-fata (pemuda). Intinya al-fatanya bukan standarisasinya pada umur tetapi jati diri dan spritualisme yang dimiliki oleh seseorang.

Dikisahkan dalam surat Ambia ayat 60 tentang keberanian sosok al-fata yang bernama Ibrahim dalam menghancurkan berhala yang dijadikan sebagai sesembahan pada waktu itu, ayat tersebut berbunyi: Mereka berkata: Kami telah mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (QS. Al-Ambiya: 60). Mengomentari ayat ini Syekh Ibnu Kasir dalam tafsirnya Ibnu Kasir menyebutkan sebuah riwayat yang diceritakan oleh oleh Ibu Hatim bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa tidak sesekali Allah mengutuskan seorang nabi melainkan masih berusia muda dan tidaklah seseorang dianugerahi ilmu melainkan dia selagi masih muda, setelah itu Ibnu Abbas membacakan ayat diatas. Spesifiknya kata fata itu didalam al-Quran baik dalam surat Al-Kahfi maupun dalam surat al-Ambiya diilustrasikan seorang pemuda yang berakhalak yang mulia.

Menariknya dalam mengambarkan seorang pemuda yang berakhlak tercela, Al-Quran melukiskan dengan kata “al-ghulam, inipun terdapat juga dalam surat yang sama Al-Kahfi ayat 74, 80 ketika dikisahkan pengembaraan ilmu nabi Musa bersama dengan nabi Khaidir yang menceritakan seorang anak muda yang dibunuh oleh Nabi Khidr karena dalam pandangan beliau anak tersebut berperangai buruk dan jika dibiarkan dapat menjerumus kedua orang tuanya ke dalam kesesatan dan kekafiran.
Dalam dunia tasawuf dan sufi futuwwah itu diinterpretasikan sebagai norma tingakh laku dan akhlakul karimah yang terpuji dalam meneladani para rasul dan nabi, sahabat, salafatus salih dan khalaf serta para waliyullah dan ulama sebagai warisatul ambiya. Salah seorang murid Syekh Abdullah al-Kharqani Al-Hambali yang mengarang kitab Manazil As-Sairin sebuah kitab berisi pendakian spiritual hasil karya Syekh Ismail Abdullah al-Hawari, beliau berkata: “Inti futuwwah artinya engkau tidak melihat kelebihan pada dirimu dan engkau tidak merasa memiliki hak atas manusia”.

Jelas dari pemahaman diatas setiap orang yang meneladani jalan ini juga disebut al-fata yang secara harfiah (bahasa) bermakna pemuda yang tampan (budi pekertinya) dan gagah. Suatu ketika Ja’far bin Muhammad ditanya seseorang tentang konsep futuwwah tersebut. Namun beliau tidak langsung menjawab, tetapi bertanya balik kepadanya:, “Apa pendapat kamu?”. Sang penanya pun menjawab: “Jika engkau diberi, maka engkau bersyukur, dan jika tidak diberi, maka engkau bersabar.” Kemudian Ja’far menambahkan, “Anjing pun di tempat kami juga bisa begitu.” Orang itu bertanya, “Wahai anak keturunan Rasulullah, kalau begitu apa maknanya menurut kalian?” lantas Saidina Ja’far menjawab, “Jika kami diberi, makan kami lebih suka memberikannya kepada orang lain lagi, dan jika kami tidak diberi, maka kami bersyukur.”

Rekontruksi Mewujudkan Generasi Qurani

Realita saat ini menggambaran tentang kenakalan dan keburukan moral pemuda sebuah fenomena yang harus mendapatkan perhatian penuh dari semua pihak. Ekses teknologi canggih bisa membuat komunikasi dan akses data semakin mudah didapat, sehingga jarak dan waktu kini tidak menjadi hambatan lagi dan para pemuda pun semakin bebas berekspresi. Maju dan mundurnya sebuah Negara berada ditangan pemuda. Hal ini Syekh Khudhairi Beik, pernah menyebutkan berhasil sebuah Negara, lihatlah bagaimana pemuda sangat ini. Apabila pemuda baik, maka baiklah Negara tersebut juga sebaliknya. Padahal pemuda merupakan aset paling berharga yang dimiliki suatu bangsa, termasuk Indonesia.

Diluar sana para musuh muslim telah melirik potensi berharga tersebut, mereka berusaha dan berupaya untuk merusak jati diri pemuda, khususnya moral dan sprituil generasi muda bangsa. Sebagaimana yang kita saksikan, hingga saat ini salah satu upaya mereka adalah dengan menggunakan 4 F, yaitu food, fashion, fun dan film. Eksesnya mayoritas dari elemen pemuda Indonesia terjerumus ke dalam jebakan tersebut, bahkan memuja-mujanya. Nilai dan budaya yang telah dibawa oleh rasulullah SAW terlupakan begitu saja.menjawab fenomena ini tidak boleh dibiarkan tanpa solusi dan peran aktif semua lapisan masyarakat terutama sekali sang pemuda sendiri.

Hal yang paling prinsipil yang harus dimiliki oleh generasi penerus adalah menuntut ilmu, tanpa ilmu tidak mungkin sebuah perubahan terwujud. Untuk membangun umat dan mengupayakan kembali kejayaan Islam, pemuda muslim yang akan mengambil peranan tersebut. Berdakwah dan mengajarkan adalah zakatnya ilmu. Maka wajib bagi orang yang menuntut ilmu agama termasuk pemuda untuk menyampaikan kepada umat yang lainnya, dan memberikan saham agar dapat memberikan hidayah orang kafir masuk Islam serta memberikan hidayah orang yang berbuat kemaksiatan menuju istiqamah (dalam kebaikan beragama).

Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuh kembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi.

Rasulullah SAW telah memperingatkan umatpNya tentang sangat pentingnya masa muda itu, seseorang tidak akan dapat mencicipi hidup yang sempurna di masa tua, melainkan dengan mempergunakan dan memanfaatkan masa muda seoptimal dan sebaik mungkin Bahkan bukan hanya di masa tua saja, tetapi untuk meneruskan kehidupan di negeri yang tiada negeri lainyakni di akhirat kelak. Maka Rasulullah Saw berpesan kepada kita dengan salah satu hadist beliau berbunyi: Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak. (HR Tirmidzi). Rasulullah juga mewanti kita sebgai umat-Nya, beliau bersabda,, Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, (1) waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu (HR. Al-Hakim).

Dalam lintasan sejarah Islam, banyak pemuda yang bisa dijadikan sebagai tauladan yang baik dan referensi kehidupan, diantaranya, Umar bin al Khathab 26 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Jafar bin Abi Thalib dengan usia 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazhun berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mushab bin Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, dan masih banyak lagi pemuda-pemuda dari kalangan sahabat dan lainnya yang berkontribusi yang sangat besar demi kemajuan Islam.

Seorang pemuda harus bahkan wajib memiliki dedikasi yang tinggi dalam pengembaraan pengetahuan dan rasa ingin mengetahui yang lebih besar dan harus menjadi pelopor sense of curiosity (rasa keingintahuan yang tinggi) dalam masyarakat atau dalam pepatah arab dikenal dengan slogan himmatul rizal tasqutu jibal (semangat seorang pemuda bisa menaklukan sebuah pegunungan).

Dalam menumbuhkan sikap sense of curiosity akan melahirkan iqrak (membaca) dengan talim yang dikreasikan dengan motivasi instrik. Membaca itu dikonotasikan sebagai talim (belajar). Iqrak itu pintu gerbang menuju ke samudera ilmu pengetahuan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran yang berbunyi: Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakanmanusia darisegumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq:1-5). Syekh al-Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memerintahkan kepada manusia supaya dapat membaca tersebut harus diulang-ulang, indikasinya dengan tanpa mengulang-ulang dan membiasakan dalam membaca tidak akan memberi kesan dan meresapnya ilmu dalam jiwa.

Berulang-ualng perintah Allah SWT dalam pengertian sama dengan berulang-ulang membaca. Dengan demikian membaca itu merupakan salah satu bakat dari Rasulullah SAW. Dijelaskan dalam tafsir lainnya seperti Al-Azhar bahwa nabi bukan orang yang pandai, beliau adalah ummi yang boleh dikatakan buta huruf, Namun Jibril mendesaknya untuk membaca sampai tiga kali meskipun Rasulullah tidak dapat menulis, pada akhirnya walaupun didesak tiga kali rasulullah juga dapat menghafal diluar kepala.

Dalam Al-Quran sendiri telah menggambarkan sosok tipe pemuda sense of curiosity tersebut, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi: Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung. Berikanlah kepada kami tabirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menabirkan mimpi). (QS. Yusuf [12]: 36). Interpretasi dalam ayat ini menunjukkan tentang jati diri seorang pemuda yang memiliki sense of curiosity. Makanya dengan memiliki sifat tersebut, seorang pemuda itu cenderung untuk banyak mencoba dan mempraktekan hal-hal yang berinovasi baru tentu saja yang bernilai positif.

Realita saat ini menjawab hal demikian, dikala dalam komunitas masyarakat sedang tren dengan sebuah hal baru, misalnya model pakaian, bergaya, bertingkah laku dan lainnya, maka pemuda pun mengikuti, mempraktekannya dan memakai pakaian itu. Biarpun demikian yang perlu diperhatikan secara seksama, sense of curiosity penulis maksudkan di sini adalah rasa keingintahuan yang positif dan inovatif, bukan sebaliknya, sehingga demikian sang pemuda akan menimbulkan hasrat untuk mencari, menguasai dan mentransferkan manfaatnya kepada masyarakat lainnya serta lingkungan sekitar kita.
Pemuda yang hidup di era globalisasi seperti saat ini. Harus mampu menjadikan diri pribadi yang optimis, isiqamah terhadap pekataan dan perbuatan, teguh dalam pendirian juga jangan cepat menyerah dalam berjihad.

Bukan sosok al-fata yang sejati manakala masih tergiur dengan indahnya fatamorgana dunia dan masih lemah jiwa dan keimanan dalam menghadapi musuh paling utama, yakni hawa nafsu. Terlebih hidup di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai fitnah dan kecanggihan teknologi, menjadi ujian terberat plus berbagai coraknya yang harus dijalani oleh pemuda. Saat ini beraneka ragam jenis sarana alat komunikasi canggih membuat para generasi muda semakin leluasa dan bebas dalam mengakses berbagai informasi dan data serta lainnya seperti computer, handphone, internet dan lain sebagainya. Beranjak dari media tersebut berbagai corak budaya dan hiburan di berbagai belahan dunia dapat mereka nikmati. Disini tanpa danya filter dan keimanan yang kuat, pada akhirnya fenomena tersebut akan mempengaruhi karakter dan pola pikir mereka secara keseluruhan serta akan diaktualisasikan dalam kehidupan mereka dalam masyarakat. Pemandangan seperti ini harus ada respon dan tidak lanjutnya serta tidak dapat dibiarkan begitu saja.

Kalangan dan elemen masyarakat terutama para tokoh, orang tua dan lapisan masyarakat lainnya harus bisa memahami dengan problematika yang dialami oleh pemuda, mereka diusia tersebut merupakan masa pencarian jati diri, dari sini harus ada metode pendekatan interpersonal dan intrapersonal yang tepat dan bersahabat. Mereka perlu arahan dan bimbingan yang bersifat konstruktif-familiar (membangun secara kekeluargaan) dan tidak dengan sistem otoritatif-dogmatif (memaksa dan kaku). Metode dan konsep serta manajemen dakwah yang baik dan diharapkan mampu menjawab tantangan sertaproblemantika ini yang akan dilakoni oleh masyarakat pelaku dakwah untuk meraih titel khairul ummah (the best people) seperti yang digambarkan dalam Al-Quran yang berbunyi: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar(QS.Ali Imran [3]:110).

Disamping itu peran dari pemuda itu sendiri sangat menentukan dan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam membentuk generasi qur ani yang diimpikan oleh segenap lapisan masyarakat. Sosok generasi penerus bangsa Qurani memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor dalam segala lini kehidupan terutama perubahan akhlak dan moral para pemuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya Indonesia. Dengan akhlakul karimah yang berpedoman al-Quran, generasi Qurani akan mengerti dan memahami bagaimana menyelesaikan problematika dan fenomena yang dialami oleh generasi muda lainnya.

Walhasil pembangunan spiritual dan pola pikir (mindset) generasi muda lebih diutamakan dari pembangunan sarana dan prasarana seperti jembatan, sektor industri, gedung pencakar langit,. Sebuah pembangunan sarana dan prasarana negara yang maju dan modern, semua itu tidak berharga dan bernilai dibandingkan dengan hancur dan sirnanya pembangunan moral dan spiritual para generasi penerus bangsa.

Semoga generasi muda Indonesia mampu mentasbihkan diri menjadi sosok pemuda qurani, menjadikan para syuhada dan pejuang bangsa yang telah beristirahat di alam sana bisa tersenyum indah atas perjuangan mereka dulu juga diharapkan dengan peran dan andil generasi qurani dalam mewujudkan persada ini menjadi sebuah negara impian yang bernama Baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur!!! Amin ya rabbil alamin

Penulis Misniati Munir Alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga, Mahasiswi IAI Al-Aziziyah Samalanga.