Home / ACEH / Saat Rocky Curhat Soal Gajah Sumatera

Saat Rocky Curhat Soal Gajah Sumatera

Bunta, gajah Sumatera jinak yang mati dibunuh di CRU Serbajadi, Aceh Timur (9/6/2018). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Kasus terjeratnya tiga ekor gajah Sumatera di Kabupaten Aceh Timur, Juni – Juli 2019 (satu anak gajah dan dua induk gajah) sangat memprihatinkan. Bahkan dinilai sebagai kejahatan lingkungan yang perlu ditindaklanjuti.

“Terjeratnya tiga ekor gajah didaerah pedalaman memberi citra kurang baik bagi untuk Kabupaten Aceh Timur, baik nasional atau Internasional. Kesan yang tersirat seolah-olah kami membiarkan kelakuan kejahatan ini berlangsung di daerah ini,” kata Bupati Aceh Timur H. Hasballah HM. Thaib, SH, Selasa (30/7).

Baca Juga: Lagi, 2 Ekor Gajah Sumatera Terjerat di Aceh Timur

Berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, para pelaku yang memasang perangkat jerat diduga para pendatang dari daerah lain yang bekerjasama dengan penduduk lokal. Disisi lain, pihaknya juga melihat tingginya kasus perambahan hutan oleh para pendatang dan illegal logging menjadi faktor terusiknya satwa dilindungi di Aceh Timur.

Salma, bayi gajah Sumatera yang terkena jerat pemburu saat dirawat di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Aceh Timur, Kamis (20/6/2019). (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

“Kami meminta kepada pemerintah yang mengurusi masalah kehutanan dan konservasi untuk serius menghentikan pembunuhan gajah, pemasangan jerat satwa, perambahan hutan dan illegal logging di Aceh Timur,” pinta sosok yang akrab disapa Rocky itu.

Selain itu, pihaknya juga meminta PT. PLN (Persero) untuk menertibkan aliran listrik disejumlah kawasan perkebunan dan lahan pertanian, karena selama ini aliran listrik juga kerap dimanfaatkan oleh petani untuk memasang pagar listrik bertegangan tinggi.

Baca Juga: Bayi Gajah yang Terjerat di Aceh Timur Dinamai Salma

Bukan hanya gajah yang mati, tetapi beberapa warga Aceh Timur beberapa waktu lalu juga meninggal dunia setelah kesetrum pagar yang dialiri arus listrik.

“Saya secara pribadi berhutang budi kepada gajah dan satwa liar lainnya di hutan di Aceh Timur ini. Mereka cukup membantu kami saat masa-masa berjuang dulu, dari memberi arah jalan hingga menghancurkan jejak-jejak kami agar tidak diikuti. Sekarang melihat pembantaian gajah ini membuat hati saya sangat sedih dan terenyuh,” urai Rocky dengan nada sedih.

Gajah yang mati beberapa waktu lalu di areal PT Dwi Kencana Semesta, Aceh Timur. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Meskipun tidak berwewenang dalam perlindungan gajah, tapi pemerintah di Aceh Timur tetap memperhatikan dan berupaya dalam mitigasi konflik gajah, sehingga masyarakat yang berdampingan hidupnya dengan kawasan hutan terselamatkan dan gajah juga tetap hidup dalam habitatnya.

Baca Juga: Terkena Jerat Pemburu, Gajah Sumatera Mati di Aceh Timur

“Bahkan kami bekerjasama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) dalam membangun  24 kilometer barrier gajah berupa parit besar di Kecamatan Peunaron, Kecamatan Indra Makmur dan Kecamatan Pante Bidari,” kata Rocky.

Untuk tahap pertama telah selesai dikerjakan sepanjang 24 kilometer dari 52 kilometer yang direncanakan sebelumnya. “Sisanya merupakan tanggungjawan HGU perkebunan karena melewati wilayah HGU PT. Atakana, PT. Dwi Kencana Semesta, PTPN I dan PT. Tualang Raya hingga ke batas wilayah Kabupaten Aceh Utara,” sebutnya.

Pemerintah juga menyesali sikap perusahaan perkebunan di sekitar habitat gajah yang belum memulai membangun barrier untuk menyambung barrieryang dibangun pemerintah. “Padahal kita sudah berulang kali memanggil perusahaan ini untuk segera membangun barrier, bahkan mereka telah menandatangani surat kesediaan membangun barrier, tetapi mereka tetap tidak menindaklanjutinya,” sebut Rocky.

Deforestasi yang terjadi di pedalaman Aceh Timur. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Baca Juga: FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

Perlu diketahui bahwa Kabupaten Aceh Timur merupakan kabupaten yang memiliki keragaman hayati yang sangat tinggi dan terkenal. Disini salah satu dari dari empat kabupaten di Aceh yang masih terdapat empat spesies kunci yaitu Harimau, Gajah, Badak dan Orangutan Sumatera.

Bahkan dalam waktu dekat akan dibangun Suaka Badak Sumatera seperti yang ada di Way Kambas, Lampung. Pada tahun 2015 lalu, Pemerintah Aceh Timur menetapkan lahan untuk konservasi gajah seluas 5.000 hektar di Kecamatan Serbajadi.

Pada tahun 2016 lalu Aceh Timur juga membangun dan mengoperasikan Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi yang dibiayai oleh APBK Aceh Timur, tetapi pada tahun 2017 kegiatan ini diambil alih oleh provinsi terkait dengan peralihan kewenangan.

Salah satu potret deforestasi yang terjadi di Aceh Timur, illegal logging. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Baca Juga: Aceh Timur ‘Sumbang’ Deforestasi dan Titik Api Terbanyak di Aceh

Karena keragamanan hayati dan hutan yang luas ini pula yang mendorong lembaga-lembaga Internasional seperti IDH dan TFT untuk bekerjasama membangun Aceh Timur.

“Saya memberikan apresiasi  kepada LSM yang telah berjibaku menyelamatkan kekayaan alam dan keragaman hayati di Kabupaten Aceh Timur. Upaya yang mereka lakukan cukup berhasil untuk menurunkan angka pembunuhan gajah dalam beberapa tahun ini,” sebutnya.

Setiap tahun biasanya gajah yang mati mencapai 6 hingga 10 ekor gajah mati terbunuh akibat konflik dan perburuan. Namun untuk tahun ini belum terdeteksi adanya kematian gajah, kecuali tiga ekor individu gajah yang terjerat ini.

“Kami berharap banyak lembaga lain yang mau bekerja untuk konservasi di Aceh Timur agar dengan kekayaan hayati yang tinggi ini mampu memberi kesejahteraan bagi rakyat melalui pemanfaatkan yang lestari,” pungkasnya.

Lihat Juga: Secercah Harapan untuk Salma

Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’