Home / BERITA TERBARU / Hoaks Picu Serangan Jantung

Hoaks Picu Serangan Jantung

 

Ilustrasi.

KLIKKABAR.COM,  JAKARTA – Hoaks atau berita bohong dapat membahayakan kesehatan  dari trauma psikologis hingga memicu serangan jantung. Hoaks bisanya informasi yang tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Kadang-kadang hoaks dapat berupa berita benar yang sudah lama diterbitkan namun diedarkan kembali pada momen yang berkaitan untuk membesar-besarkan kondisi yang tengah terjadi.

Sering kali hoaks berupa ketegangan antar kelompok, tentang kejadian atau musibah yang menakutkan atau kesehatan. Misalnya saja mengenai isu bom yang akan menimpa suatu gedung di daerah tertentu atau akan ada tsunami yang menimpa suatu wilayah.

Karena bersifat meneror, hoaks nyatanya dapat memicu timbulnya berbagai jenis gangguan kesehatan. Oleh sebab itu, Anda harus lebih waspada setiap memperoleh informasi tertentu.

Memercayai berita atau informasi yang termasuk hoaks menyebabkan orang yang kerja, beraktivitas atau memiliki sanak keluarga yang tinggal di daerah yang diberitakan merasa takut dan cemas.

Biasanya hal ini berkaitan dengan berita tentang bencana alam. Menurut dr. Sheldon G Sheps, kecemasan dapat meningkatkan tekanan darah.

Walau tekanan darah yang naik tidak bersifat permanen, kecemasan yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah secara mendadak. Bila hal ini terjadi setiap hari (karena Anda menerima hoaks setiap hari), Anda bisa terkena serangan jantung karena kenaikan tekanan darah (hipertensi) yang mendadak.

Selain tekanan darah yang meningkat, serangan jantung juga dirasakan adanya sakit pada dada, jantung berdebar, detak jantung yang tidak seirama, sesak napas, terasa mau pingsan, dan rasa pusing.

Selain serangan jantung, cemas berlebihan dapat merusak pembuluh darah serta ginjal Anda akibat kenaikan tekanan darah yang berkepanjangan.

Kecemasan yang berlebihan ini juga bisa menuntun Anda pada kebiasaan tidak sehat untuk menghilangkan kekhawatiran, seperti merokok, minum minuman keras, makan berlebihan, yang dapat meningkatkan resiko serangan jantung. Demikian dikutip dari klikdokter, Minggu (3/2/2019).