Proses pembuatan video kreatif oleh Aceh Bergerak untuk para caleg. (Istimewa)
KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Belasan anak muda yang menamai diri dengan Aceh Bergerak memproduksi sejumlah video kreatif bagi para calon legislatif (Caleg).
Ambia Dianda, salah seorang inisiator Aceh Bergerak dalam siaran pers kepada Klikkabar.com, Sabtu (26/1/2019) mengatakan, organisasi ini hadir di tengah semaraknya kampanye yang dilakukan oleh caleg melalui baliho, brosur, billboard, papan nama serta media kampanye luar ruangan lainnya.
Video kreatif ini dirancang untuk menampung gagasan, visi, misi serta ide kreatif dari caleg untuk disampaikan ke publik melalui multiplatform media.
“Mungkin ini yang pertama dilakukan anak muda di Indonesia, cara lain menyampaikan gagasan ke publik dan ini bukan bentuk kampanye dukungan untuk para caleg,” kata Ambia.
Ambia menjelaskan, organisasi ini boleh dikatakan sebagai penyambung lidah para caleg untuk menyampaikan gagasan yang diimplementasikan melalui audio visual bernuasana konten kreatif, secara cuma-cuma alias gratis.
Selanjutnya masing-masing caleg bisa mempublikasikannya di media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp, twitter dan media sosial lainnya.
Aceh Bergerak berharap kepada pengguna media sosial untuk memanfaatkan media daring sebagai wadah penyampaian ide politik bukan untuk menyebar ujaran kebencian, lebih ironi menyebut caleg tetangga lebih buruk dan jangan saling menyalahkan di antara tim sukses para caleg.
“Kami sebenarnya menawarkan dan membuka pikiran soal cara berkampanye yang sehat, juga mudah melakukan kontrol sosial,” ujarnya.
Saat ini, kata Ambia, Aceh Bergerak sudah membuat puluhan video dari belasan calon yang mengajukan namanya untuk pembuatan konten kreatif tersebut.
Ambia menegaskan untuk caleg yang ingin membuat video tidak perlu membawa barang serta uang untuk dirinya dan tim yang bekerja.
“Kami tidak menerima pemberian caleg baik dalam bentuk uang maupun barang, jadi tidak perlu khawatir,” terangnya.
Menurut dia, cara ini diyakini akan masuk ke semua lapisan masyarakat karena hampir semua mereka memiliki koneksi dengan media sosial, bahkan di Aceh hampir rata-rata masyarakat punya smartphone.
Ambia menambahkan, untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, pihaknya siap mendatangi lokasi keberadaan caleg.
“Namun untuk di luar wilayah itu, caleg harus mengunjungi langsung markas kami di Desa Lambhuk, Ulee Kareng, Banda Aceh,” terang dia.
Salah seorang tim dari Aceh Bergerak, Eva Hazmaini menjelaskan, organisasi ini hadir di tengah fenomena saat ini yakni adanya ketidakpercayaan publik terhadap para caleg.
Bahkan, kata Eva, masyarakat pemilih hampir semua melihat apatis dan ragu-ragu kepada para caleg, lantaran setiap kampanye hanya menawarkan angin surga belaka, sehingga timbul pragmatisme para pemilih.
Menurut Eva, hal ini menyebabkan fenomena transaksi antara calon dan masyarakat di mana uang atau barang menjadi nilai lain untuk memilih calon tertentu.
“Kami menyebut rumusnya politik yakni kontak politik dan cost politik tetap matrealistis, sehingga terbesit untuk mengembalikan apa yang sudah dikeluarkan saat kampanye, ketika terpilih sebagai anggota dewan uang dikeluarkan diharap kembali,” sebut Eva.
“Kita juga menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak memilih caleg yang seperti itu karena akan berakibat fatal kepada masyarakat,” tambah mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry ini.
Selain itu, kata Eva, pihaknya juga mencoba memberikan pandangan bagi para caleg dalam berkampanye, saat mereka terpilih untuk melakukan hal-hal yang tidak melanggar aturan. Bahkan untuk masyarakat yang memiliki hak pilihnya harus menolak imbalan, uang atau bentuk sogokan lainnya dari para caleg.
Eva Hazmaini, salah seorang tim dari Aceh Bergerak. (Istimewa)
Ia menambahkan, Aceh Bergerak tidak menutup peluang untuk incumbent yang juga ingin menyampaikan gagasan politik melalui organisasi ini, artinya Aceh Bergerak membuka peluang seluas-luasnya untuk para calon legislatif yang ingin maju, tentu punya inovasi dan gagasan baru yang pro terhadap rakyat.
“Aceh Bergerak ini juga melakukan kritik bagi para caleg dengan mengkampanyekan caleg tidak menyogok serta menyebarkan berita hoax untuk mendulang suara. Serta kampanye bagi caleg yang memasang media kampanyenya di pohon,” pungkasnya.
Tim Kreatif Aceh Bergerak terdiri dari satu orang direktur, dua orang video editor, tiga camera person, serta satu orang konten creator, serta sebelas orang lainnya sebagai anggota tim. Mereka bekerja tidak dibayar dan menolak pemberian dari caleg dalam bentuk apa pun. []
KlikKabar.com Jujur Mengabarkan