Masjid Arkam Babu Rahman Palu, Sulawesi Tengah yang terapung di laut usai gempa bumi 7,4 SR disusul gelombang tsunami, Jum’at (28/9/2018). (Azwar Ipank/Klikkabar.com)
KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang tidak asing dengan yang namanya bencana. Ribuan kali bencana selalu menyertai Indonesia setiap tahunnya.
Bencana adalah multidisiplin, multisektor, multidimensi dan multikomplek yang saling berkaitan antara satu sama lain sehingga memerlukan penanganan komprehensif yang berkelanjutan.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, selama tahun 2018 sudah ada 1.999 kejadian bencana di Indonesia.
Jumlah ini diyakini akan terus bertambah hingga akhir 2018 mendatang, kemungkinan hampir sama dengan jumlah bencana tahun 2016 yaitu 2.306 dan 2.391 bencana pada 2017.
“Dampak yang ditimbulkan bencana sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak,” kata Sutopo seperti dilansir Sindonews, Kamis (25/10/2018).
Dia menuturkan, kerugian ekonomi yang ditimbulkan bencana cukup besar. Sebagai gambaran, gempa bumi di Lombok dan Sumbawa menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp17,13 triliun.
Begitu juga gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian dan kerusakan lebih dari Rp13,82 triliun. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah.
Selama tahun 2018, terdapat beberapa bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yaitu banjir bandang di Lampung Tengah pada Februari 2018 yang menyebabkan 7 orang meninggal dunia. Bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada Februari 2018 yang menyebabkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang.
Banjir bandang di Mandailing Natal pada Oktober 2018 menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang. Gempa bumi beruntun di Lombok dan Sumbawa pada Juli dan Agustus 2018 menyebabkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi.
Bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 menyebabkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang dan 206.219 orang mengungsi.
Selama tahun 2007 hingga 2018, kata Sutopo kejadian bencana besar yang menimbulkan korban banyak adalah pada tahun 2009, 2010 dan 2018. Pada tahun 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana.
“Dampak bencana selama tahun 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana,” ucapnya.
Pada tahun 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010 yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi dan erupsi Gunung Bromo.
Dampak yang ditimbulkan bencana selama tahun 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.
Selama tahun 2018 ini, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunung api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali.
“Gempa bumi yang merusak dan tsunami memang jarang terjadi. Namun saat terjadi gempa bumi yang merusak seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar,” jelasnya.
Saat ini wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan sedangkan gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti.
Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000-6.000 kali gempa. Gempa bumi dapat terjadi kapan saja terutama di daerah-daerah rawan gempa.
“Masyarakat diimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya,” pungkas Sutopo.
Baca Juga: Bayi Selamat 2 Minggu dari Lumpur Palu, Itu Bohong
KlikKabar.com Jujur Mengabarkan