Home / BERITA TERBARU / Aktivitas Manusia Bisa Memicu Gempa

Aktivitas Manusia Bisa Memicu Gempa

Suasana di Ballaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah. Foto diambil pada Kamis, 4 Oktober 2018. (Azwar Ipank/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Para ilmuwan mengatakan bahwa gempa yang disebabkan oleh manusia dengan istilah seismitas terinduksi (induced seismicity). Ada beberapa perbuatan maupun aktivitas manusia yang bisa memicu gempa.

Baca Juga: Gempa Kembali Guncang Aceh, Kali Ini 5,3 SR

SBY Curhat, Kenang Gempa dan Tsunami Aceh

Alat Pendeteksi Tsunami Indonesia Tak Berfungsi Sejak 2012

Dilansir dari laman detikcom seperti dikutip dari situs Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), aktivitas manusia yang bisa memicu gempa adalah injeksi (penyuntikan) cairan ke bawah tanah, penyuntikan air limbah ke bawah tanah, dan aktivitas perekahan hidrolik untuk memecah formasi bebatuan.

1. Penyuntikan Cairan Bawah Tanah

Menyuntikkan cairan ke bawah tanah dapat menyebabkan gempa. Proses ini meningkatkan tekanan cairan dalam zona sesar (patahan antara lempeng bumi satu dengan lempeng bumi lain). Bahkan zona sesar yang tak punya catatan bergerak pun bisa menjadi bergerak bila disuntik oleh cairan dengan tekanan dan kondisi tertentu. Bila sudah begitu, gempa akan terjadi.

Biasanya aktivitas seperti itu digunakan untuk membuang limbah cair, memecah struktur bebatuan, memperkaya cadangan minyak bumi, atau juga bertujuan meningkatkan sistem geotermal. Di AS, aktivitas tersebut diakui memicu gempa bumi dalam beberapa tahun terakhir.

2. Penyuntikan Limbah

Aktivitas penyuntikan air limbah juga bisa memicu gempa. Penyuntikan air limbah ke dalam bumi bertujuan supaya cairan berbahaya itu tidak mencemari sumber air bersih penduduk.

Caranya, ya dibuang ke lapisan terbawah, terletak di bawah akuifer (lapisan bumi yang menyediakan air, termasuk air minum). Biasanya, lapisan untuk membuang limbah cair berada pada kedalaman yang sama dengan lapisan tempat minyak dan gas bumi.

3. Perekahan Hidrolik

Perekahan hidrolik juga bisa mengakibatkan gempa. Perekahan ini disebut juga sebagai ‘fracking’. Caranya adalah menyuntikkan air bertekanan tinggi untuk memecah susunan bebatuan.

Dengan cara ini, cairan, minyak bumi, dan gas bisa lebih mudah keluar. Proses perekahan hidrolik biasanya juga diiringi dengan gempa mikro, terlalu kecil untuk bisa dirasakan. Proses ini biasanya berlangsun beberapa jam hingga beberapa hari. Setelah itu, insinyur pengeboran bisa mengekstraksi cairan dari sumur yang ada.

Pada 1930-an, konstruksi Bendungan Hoover di Arizona AS mengakibatkan aktivitas kegempaan di kawasan sekitarnya hingga 5 SR.

Di India pada tahun 1963, gempa 7 SR mengguncang waduk di belakang Bendungan Koyna setelah konstruksi berjalan dan menewaskan 200 orang.

Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, dilakukan ekstraksi gas alam di dekat Gazli Uzbekistan. Aktivitas itu mengakibatkan tiga kali gempa mematikan hingga 7,3 SR dan menjadikannya gempa terbesar di Asia Tengah.

Gedung pencakar langit juga bisa mengakibatkan gempa bumi. Pada 2006, dua gempa bumi terjadi di Taipei, Taiwan, setelah pembangunan gedung tertinggi kedua di dunia, yakni Taipei 101 yang tersohor itu. Gedung seberat 700 ribu ton ini diduga telah membuka kembali patahan kuno dan memicu gempa.

Dilansir situs Seismosoc (Seismological Society of America), gempa Wenchuan China 7,9 SR pada 2008 juga disinyalir dipicu oleh aktivitas manusia, yakni aktivitas pengisian Waduk Zipingpu yang berjarak beberapa kilometer saja dari pusat gempa.

Bendungan Zipingpu memiliki ketinggian 511 kaki atau sekitar 155 meter dan mampu menahan 315 juta ton air. Jarak Bendungan hanya 500 meter dari patahan kerak bumi, dan 4 kilometer dari episentrum gempa.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Ada situs Induced Earthquakes yang diawaki oleh Kolaborasi Seismitas Terinduksi Kanada (Canadian Induced Seismicity Collaboration) yang menyediakan data terkait gempa akibat ulah manusia. Data-data mereka peroleh berkat dukungan finansial dari Nederlandse Aardolie Maatschappij BV (NAM) kepada Durham University Inggris.

Hingga 23 Agustus 2018, tercatat sudah ada 774 proyek manusia yang dilaporkan menimbulkan aktivitas kegempaan. 37% gempa akibat aktivitas manusia berasal dari aktivitas pertambangan, 23% akibat pengisian air waduk, 15% akibat minyak dan gas bumi, 8% akibat aktivitas geotermal, dan seterusnya.

Data ini mereka sediakan dalam The Human-Induced Earthquake Database (HiQuake). Dalam data itu terlihat, gempa akibat aktivitas manusia pernah terjadi di Indonesia. Tepatnya di Wayang Windu Jawa Barat, Darajat Jawa Barat, dan di Lahendong Sulawesi Utara.

Gempa di Darajat disebutkan di data mereka terjadi akibat injeksi geotermal, kedalaman aktivitas proyek sampai 1000 hingga 2000 meter, dan kedalaman aktivitas gempa antara 2000 sampai 6000 meter, referensinya dirujuk pada nama Pramono dan Colombo pada 2005.

Gempa di Wayang Windu akibat injeksi geotermal juga, referensinya dirujukkan kepada Mulyadi tahun 2010. Gempa 2 SR di Lahendong akibat sirkulasi geotermal, mereka merujuk pada referensi atas nama Silitonga tahun 2005.

Baca Juga: Gempa 8,9 SR dan Tsunami Ancam Sumatera Barat

[Foto] Kondisi Petobo Palu Usai ‘Amblas Ditelan Bumi’

Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis