KLIKKABAR.COM. JAKARTA: Ketika penjualan Starbuck turun, kedai kupi itu melakukan inovasi dan restrukturisasi bisnis agar bisa bertahan.
“Kecepatan inovasi yang relevan bagi pelanggan harus dipercepat. Untuk mencapainya, lakukan perubahan cara kerja pemimpin di semua bidang perusahaan,” jelas CEO Starbucks Kevin Johnson seperti dikutip Bloomberg News, Sabtu (20/10/2018).
Perubahan kepemimpinan di Starbucks, katanya, dimulai sejak akhir September 2018 hingga November mendatang. Perubahan ini termasuk PHK. Dikutip dari smartmoney, hingga Oktober 2017, Starbucks setidaknya mempekerjakan 10 ribu karyawan di seluruh dunia. Karyawan tersebut bekerja di fasilitas-fasilitas pendukung, pengembangan toko, serta operasi distribusi, pergudangan dan manufaktur.
Perubahan sistem kerja dan restrukturisasi bisnis ini merupakan respons pada perlambatan penjualan. Penjualan Frappucino terus melambat akibat pesatnya pertumbuhan kedai kopi.
Penurunan penjualan menyebabkan harga saham Starbucks jatuh. Dari awal tahun, mengacu data Bloomberg, saham Starbucks di indeks Standars&Poor 500 Consumer Discretionary sudah turun 18% sejak awal tahun.
Untuk antisipasi penurunan penjualan lebih jauh lagi, Starbucks menambah menu baru di lebih dari 28 ribu gerai di seluruh dunia. Juni lalu misalnya, Starbucks menambah menu Frappuccino Strawberry dan Chorizo Sous Vide Egg Bites.
Selain inovasi di menu, Starbucks mendorong inovasi di bidang lain termasuk otomatisasi sistem inventaris demi mengurangi limbah serta membiarkan staf meluangkan lebih banyak waktu dengan para pelanggan.
Perusahaan ini bekerja sama UberEats di lebih dari 100 lokasi di Miami, AS. Starbucks bekerja sama Alibaba untuk menawarkan layanan di Tiongkok yang mulai berkembang pesat tahun ini.
“Kita memiliki peluang untuk memprioritaskan dengan lebih baik dan bergerak lebih cepat. Kita harus menumbangkan segala hambatan dalam pengambilan keputusan,” kata Kevin.
Sejak Juni lalu, Starbucks sudah beberapa kali mengalami perubahan penting. Salah satunya keputusan Howard Schultz, pendiri Starbucks, yang mundur sebagai CEO. Peristiwa ini memicu kekhawatiran investor tentang masa depan perusahaan.

KlikKabar.com Jujur Mengabarkan