20 orang staf Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani dilaporkan terinfeksi COVID-19. Namun, berdasarkan laporan tersebut Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani tidak terindikasi infeksi virus corona.
Salah satu sumber, seperti dilansir dari AFP menyebutkan informasi tersebut dirahasiakan agar tidak menimbulkan kepanikan.
Selain itu, ada 12 orang dari kantor administrasi kepresidenan yang juga terinfeksi covid-19.
Sementara, Juru bicara Ghani, Sediq Sediqqi menolak berkomentar dan meminta wartawan bertanya ke kementerian kesehatan yang juga menolak menjawab.
Dilansir dari Reuters, Presiden Ashraf Ghani saat ini diisolasi dan dibatasi kontaknya dari staf komunikasi digital, menurut sumber.
Diduga sebuah dokumen resmi yang dikirim ke Istana Kepresidenan di Kabul menjadi penyebab beredarnya virus corona di jajaran staf presiden.
Berdasarkan data Worldometer per Minggu (19/4), Afghanistan tercatat memiliki 933 kasus corona dengan 30 kematian. Sebanyak 112 pasien corona sejauh ini sudah dinyatakan sembuh. Sementara itu, 791 orang lainnya masih dalam perawatan.
Saat ini, pemerintah Afghanistan tengah menerapkan penutupan perbatasan atau lockdown yang diperpanjang hingga tiga pekan ke depan. Selama masa lockdown, seluruh kantor pemerintahan tutup.
Sejumlah pihak, termasuk ahli kesehatan khawatir masih banyak kasus corona yang tidak dilaporkan di Afghanistan. Seperti kondisi di beberapa negara lain, Afghanistan juga membatasi skala pemeriksaan corona lantaran keterbatasan sumber daya.






















