42,6% Balita di RI Terpapar Minuman Pemanis

-

42,6% Balita di RI Terpapar Minuman Pemanis

Dokter spesialis anak Kurniawan Satria Denta mengatakan bahwa 42,6 persen balita di Indonesia sudah terpapar Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Menurut dia ini sangat berbahaya sekali.

“Semakin dini seseorang terpapar minuman berpemanis, semakin tinggi kemungkinan risikonya menghadapi kondisi obesitas,” kata Kurniawan dalam Forum for Young Indonesians (FYI) bertajuk Dunia Tipu-tipu Minuman Berpemanis Dalam Kemasan, Sabtu (17/9/2022).

Selain risiko obesitas atau kelebihan berat badan, risiko penyakit lain juga bisa timbul pada orang yang gemar mengonsumsi MBDK. Penyakit-penyakit tersebut termasuk diabetes, penyakit jantung, ginjal, pembuluh darah, kanker, stroke, gangguan cemas, gangguan perilaku, dan demensia atau pikun.

“Masih suka agak-agak lemot? Coba dikurangi gulanya,” ujarnya  dikutip dari liputan6.

Kurniawan menuturkan, bagi sebagian orang konsumsi gula berlebih dapat membuat mereka resisten terhadap insulin. Akibatnya, jika terkena COVID-19 maka gejalanya lebih parah.

“Jadi yang namanya penyakit tidak menular sebenarnya tidak berdiri sendiri. Berbeda dengan penyakit menular,” katanya.

“Keduanya berkesinambungan. Ketika kita memiliki penyakit yang tidak menular, kita lebih rentan menghadapi penyakit menular yang lebih berat,” Kurniawan menambahkan.

Gula menjadi biang kerok dari berbagai penyakit tidak menular. Sebab, gula, butiran-butiran kecil dari tebu, dan gula sintetik bekerja dalam tubuh tidak hanya di level permukaan tapi hingga level molekuler, seluler.

“Hingga level terkecil dalam tubuh kita yaitu DNA,” dia menekankan.

Kinerja gula dalam tubuh yang mencapai level DNA membuat pengaruhnya menjadi sangat sistemik. Tak hanya membuat gigi berlubang, tapi jantung pun bisa berlubang akibat gula.

“Pengaruhnya bisa jadi sangat sistemik, enggak cuma bisa bikin gigi bolong tapi juga bisa bikin jantungnya bolong. Tidak hanya bisa memporakporandakan ginjal, tapi juga bisa memporakporandakan hati atau liver kita,” katanya.

Lantas, apa yang dilakukan gula dalam tubuh?

Menjawab pertanyaan ini, Kurniawan memberikan perumpamaan pada kenop yang biasa digunakan untuk mengatur tinggi rendahnya volume.

“Cara kerja gula di level molekuler seperti kenop volume, apa yang diatur oleh gula adalah risiko-risiko kita terhadap diabetes,” Kurniawan menjelaskan.

Jika kenop diputar ke arah kanan maka volume akan lebih tinggi atau nyaring. Sebaliknya, jika diputar ke arah kiri maka volume akan semakin rendah bahkan bisa sampai tidak terdengar.

Ini sama halnya dengan gula dalam tubuh. Yang bisa ‘memutar kenop’ ke arah kanan adalah konsumsi gula berlebih. Sehingga risiko diabetes semakin tinggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda