Visa Haji di Era Kolonial

-

- Advertisment -

Visa Haji di Era Kolonial

Oleh Hermansyah Yahya [Filolog Aceh-Melayu dan Dosen Kajian Teks Naskah Klasik – Manuskrip]

Sudah dua tahun tertunda niat suci para calon Jamaah Haji Indonesia dan negara-negara lainnya untuk menunaikan rukun ke lima dalam Islam. Semoga wabah yang sedang terjadi cepat berlalu

Ternyata, pada era kolonial Hindia-Belanda, tidak semua orang-orang di negeri ini dapat menunaikan ibadah haji, apalagi di daerah-daerah yang masih bergejolak. Beragam usaha perlawanan dilakukan rakyat di setiap wilayah, tetapi sebaliknya bermacam cara Belanda berusaha untuk mengendalikannya. Termasuk izin pergi ke Mekkah (Reispas naar Mekka) untuk menunaikan ibadah haji. Izin pergi haji atau semacam visa untuk dapat melewati perbatasan di Nusantara dan memasuki Mekkah menjadi wajib. Tanpa izin tersebut akan dapat banyak perkara, orang-orang tersebut yang pulang dari tanah Haram tersebut akan diawasi.

Dua dokumen surat visa di bawah ini menunjukkan usaha-usaha Hindia-Belanda mengontrol masyarakat yang pergi dan pulang dari haji.
Dokumen atas nama L. Mohd. Umar berukuran 47 x 57 cm yang diterbitkan di Surabaya tahun 1906. Ditulis dalam bahasa Belanda dan bahasa Jawa. Kini dikoleksi di Tropen Museum Belanda.

Melihat bukti-bukti tersebut, tentu setiap daerah wilayah yang diduduki Hindia-Belanda memiliki surat izin atau visa haji. Namun, bagaimana proses mendapatkan surat tersebut, dan hal-hal lainnya yang berkaitan. Dan tentu, bagaimana pejuang-pejuang di setiap daerah yang ingin berhaji, bagaimana jalur menuju ke tanah yang diimpikan setiap muslim tersebut. Semoga sudah ada yang mengkajinya.

Akhirnya kami mengucapkan hari raya Akbar “Selamat hari raya Idul Adha”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda