Pemerintah Aceh Jangan Hancurkan Niat investor; Kasus KIA Ladong & Pabrik Semen Laweung

-

- Advertisment -

Pemerintah Aceh Jangan Hancurkan Niat investor; Kasus KIA Ladong & Pabrik Semen Laweung

Ketua DPP, Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Aceh, H Jamaluddin menyebutkan Aceh tidak memiliki keistimewaan dalam bidang investasi.

“Aceh memiliki keistimewaan dalam bidang Agama, Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi sesungguhnya, keistimewaan itu tidak menjadi investasi yang dapat mensejahteraan masyarakat Aceh. Disaat dana otsus sedang tinggi ditengah keistimewaan, tapi pengangguran dan kemiskinan juga sedang berada di puncak. Apa jadinya kalau tidak ada dana Otsus dan keistimewaan,
 kata  Ujar Jamaluddin dalam diskusi publik “Apa Hambatan Investasi di Aceh?” yang diselenggarakan Hurriah Foundation, Kamis (23/9/2021) di Banda Aceh.

Jamaluddin menuturkan  dengan keistimewaan yang dimiliki Aceh, memudahkan investasi. Faktanya kestimewaan di bidang pendidikan tidak memiliki korelasi dengan kesejahteraan, begitu juga keistimewaan bidang agama juga tidak ada investor dari Timur Tengah misalnya. Harusnya keistimewaan harus menjadi kebanggaan untuk kemajuan Aceh.

Jamaluddib  menyorot sistem kelembagaan pengurusan investasi di Aceh harus satu pintu. Sistem kelembagaan harus jelas dan kontrik untuk memudahkan investasi. Karena investor itu membawa uang, sudah sepatutnya birokrasi untuk berpikir untuk kebaikan Aceh. Kultur masyarakat harus disesuaikan dengan rencana investasi.

“Prinsip investasi itu dapat mengatasi persoalan sosial. Saat ini, mengenai investasi yang diperlukan adalah kesungguhan dari pemerintah Aceh. Komitmen yang di ucapkan dengan perbuatan harus sama. Seharusnya tidak boleh pemerintah menghancur calon investor. Bukti kegagalan pabrik Laweung dan KAI Ladong terdapat kontribusi Pemerintah Aceh menghancurkan niat calon investor,” ungkapnya.

Bertahun-tahun Pemerintah Aceh menurut catatan Jamal. Gubernur dan pejabat birokrasi di Aceh kampanya investasi dengan biaya APBA ke luar negeri. Tapi berapa yang realisasi? Nyaris hampir tidak sebanding dengan biaya perjalanan mereka. Tapi Ketika putra-putra terbaik sendiri dari Indonesia mau berinvestasi di Aceh. Malah harus keluar karena bahasa yang digunakan birokrasi di Aceh tidak membahagiankan para investor.

“Ada persoalan integritas yang mengurus investasi di Aceh. Begitu banyak MoU yang dilakukan, tapi nyaris tidak ada hasil. Tidak malu mereka, dari tahun ke tahun terus terjadi, paradigma ini harus diperbaiki,”  pungkas Jamaluddin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda