Jokowi Diminta Berikan Amnesti ke Dosen Unsyiah

-

- Advertisment -

Jokowi Diminta Berikan Amnesti ke Dosen Unsyiah

Ekonom senior Faisal Basri merasa prihatin dosen Universitas Syah Kuala Aceh (Unsyiah) di Banda Aceh Saiful Mahdi kini harus dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Banda Aceh untuk menjalani hukuman 3 bulan penjara di LP Lambaro Aceh Besar karena kasus pencemaran nama baik. Faisal meminta tolong Jokowi.

“Pak Jokowi, tolong berikan Amnesti untuk Saiful Mahdi, dosen korban kriminalisasi UU ITE,”  kata dosen Universitas Indonesia melalui akun Twitter @FaisalBasri, Jumat (3/9/2021).

Faisal mengajak publik menandatangani petisi agar Saiful Mahdi bisa dibebaskan.

“Tandatangani Petisi! https://chng.it/JFhkWpjg lewat @ChangeOrg_ID,” ujarnya.

Dipenjaranya Saiful Mahdi ketika pada April 2020 divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh 3 bulan penjara dan denda Rp 10 juta subsider 1 bulan penjara.  Alumni  S3 dari

Cornell University Amerika ini  terbukti melanggar Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 3 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).  LBH Banda Aceh sebagai kuasa hukumnya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.  Pada Juni 2021, MA menolak kasasi Saiful dan memerintahkan Saiful divonis 3 bulan penjara dan denda Rp 10 juta.

Pendukung Saiful Mahdi yang terdiri dari akademisi, aktivis Pro Demokrasi, dan masyarakat sipil meminta Presiden Joko Widodo memberikan amnesti kepada Saiful Mahdi. Amnesti adalah pengampunan atau penghapusan hukuman yang diberikan kepala negara kepada seseorang atau sekelompok orang yang telah melakukan tindak pidana tertentu.

Istri Saiful Mahdi, Dian Rubianty berharap agar negara hadir sehingga apa yang menimpa keluarganya tidak lagi terulang. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus diperjuangkan dalam rezim manapun.

“Saya ingin sekali negara betul-betul hadir, sehingga cukup keluarga kami yang merasakan jadi korban UU ITE, semoga setelah ini tidak ada lagi keluarga yang merasakan keluarga nya masuk jeruji besi, hari ini saya tagih janji Pak Mahfud untuk SKB,”  ucap Dian menghantarkan suaminya masuk penjara.

Kasus ini berawal dari kritikan Saiful Mahdi terhadap hasil tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk Dosen Fakultas Teknik pada akhir 2018 di Unsyiah, Banda Aceh.

Komentar tersebut disampaikan melalui grup WhatsApp, yang beranggotakan akademisi di Unsyiah pada Maret 2019. Tak terima, Dekan Fakultas Teknik Unsyiah, Taufik Saidi melaporkannya ke polisi.

Kritikan yang dimaksud, disampaikan Saiful pada Maret 2019 di grup WhatsApp ‘Unsyiah KITA’, berbunyi: Innalillahiwainnailaihirajiun. Dapat kabar duka matinya akal sehat dalam jajaran pimpinan FT Unsyiah saat tes PNS kemarin. Bukti determinisme teknik itu sangat mudah dikorup? Gong Xi Fat Cai!!! Kenapa ada fakultas yang pernah berjaya kemudian memble? Kenapa ada fakultas baru begitu membanggakan? Karena meritokrasi berlaku sejak rekrutmen hanya pada medioker atau yang terjerat “hutang” yang takut meritokrasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda