Aroma Tiram Aceh di Jakarta

-

- Advertisment -

Aroma Tiram Aceh di Jakarta

“Alasan lain mengapa tiram dikirim dari Aceh, yakni dari aspek kesehatan,” kata Pendiri dan pemilik The Atjeh Connection Amir Faisal Nek Muhammad

KLIKKABAR.COM, JAKARTA– Sehari sebelum mendarat di Serambi Mekkah, pertengahan Februari lalu, orang tua saya sudah membeli tiram dari ‘nyak-nyak’ yang lewat di depan rumah. Dengan menjunjung ember baskom besar berisi tiram, perempuan berkain sarung itu menjajakan tiram hasil tangkapannya dengan berjalan kaki berkilo-kilometer.

Sajian tiram yang diolah langsung oleh orang tua, tentu saja membuat saya sangat senang. Ada nuansa rindu berat karena kurang lebih sudah setahun saya tidak mencicipi masakannya.

Selama pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada Maret 2020, saya hanya bertahan di wilayah yang didirikan oleh putra Samudera Pasai yakni Fatahillah di DKI Jakarta.

“Tiram ini enak. Tidak ada di Jakarta. Bebas pencemaran,” rayu ibu saya, Saleha dengan bersemangat.

“Tiram dari Aceh ada di Jakarta. Kalau mau tiram, saya ke Atjeh Connection. Apalagi kalau ada pemiliknya, bisa gratis,” jawab saya sambil menyendok tiram ke piring dan dibarengi tawa kami kompak.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah di Jakarta tidak ada tiram? Kenapa harus tiram Aceh?  Padahal bisa saja tiram di The Atjeh Connection Resto & Coffee ini menghidangkan tiram dari pinggiran Jakarta atau daerah lain di Jawa.

Apalagi, mengirim tiram dari Banda Aceh ke Jakarta melalui kargo Garuda Indonesia lebih mahal daripada membeli tiram dari Jawa yang lebih murah  diangkut. Dari mana restoran itu menyajikan tiram Aceh dengan koki yang juga berasal dari Aceh?

Adalah mantan juru bicara GAM Teungku Jamaica alias Syardani M Syarif – nama di KTP  – yang rutin mengirim tiram ke Ibu Kota Negara. TJ, panggilan akrabnya, selama ini memang telah membina puluhan ‘nyak-nyak’ tangguh petani tiram di Alue Naga dan Tibang Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. Dulu ‘nyak-nyak’ itu beredam berjam-jam di Sungai Alue Naga menyelami tiram.

Kini di bawah tangan cekatan Jamaica, ‘nyak-nyak’ itu sudah membudidayakan tiram melalui ban-ban bekas yang ditaburkan di sisi sungai sejak 2015. Tiram-tiram bergantungan di ban yang diikatkan di tiang keramba.

Petani tiram pun tak perlu lagi berbasah-basah sekujur tubuh untuk mendapatkan beberapa kilogram tiram. Jamaica menyebut itu dengan konsep Budidaya Tiram Metode Sederhana di waduk Gampong Tibang-Aluë Naga.

Ketua Kelompok Petani Tiram Alue Naga dan Tibang itu juga menyebutkan komoditas tiram selama ini belum dibudidayakan dan dipasarkan secara optimal. Padahal, pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar menyimpan potensi besar untuk budidaya hewan laut yang kaya manfaat itu.

Produksi tiram di Banda Aceh mencapai berat bersih 50-100 kg. Sedangkan permintaan tiram masih tinggi, terutama dari luar kota dan luar negeri.  Gampong Baet, Alue Naga, dan Tibang adalah sentra budidaya tiram di Banda Aceh.

Jamaica menuturkan, The Atjeh Connection Resto & Coffee sudah menjadi langganan tetap tiram hasil buruan nyak-nyak itu. Di sisi lain, Atjeh Connection Foundation memberikan pisau pencongkel tiram, sarung tangan, sepatu karet, sembako,  dan lain-lain untuk mendukung kerja yang aman bagi tangan dan telapak kaki dari goresan kerang tiram.

“Nyak-nyak petani tiram sangat menghargai atas kepedulian Atjeh Connection Foundation yang memberikan peralatan kerja yang lebih baik dan mencegah telapak kaki tergores kerang,” kata Jamaica.

Pendiri dan pemilik The Atjeh Connection Amir Faisal Nek Muhammad punya alasan kenapa harus ‘mengimpor’ tiram dari ujung paling barat Pulau Sumatera.  Pria kelahiran Sigli, Pidie yang besar di Lampriet, Banda Aceh itu terkenang masa kecil ketika orang tua menyajikan tiram di meja makan.

Dia mengisahkan orang tuanya, dr. H. Nek Muhammad – Direktur RSU Sigli serta pendiri dan Direktur pertama RSUD Zainoel Abidin – menjatahi tiram kepada anak-anaknya agar semua kebagian makanan raja-raja di masa lalu.

“Aroma olahan tiram itu masih berbekas dan saya nikmati lagi sekarang untuk diwariskan kepada anak-anak, istri,  dan sahabat-sahabat,” ungkap Amir.

Alasan lain mengapa tiram dikirim dari Aceh, yakni dari aspek kesehatan. Tiram dari Aceh lebih sehat jika dibandingkan dengan tiram yang berasal dari Jawa. Kadar logamnya yang rendah membuat kualitasnya baik dan aman untuk dikonsumsi.

Tidak hanya itu, teksturnya juga berbeda karena tiram Aceh lebih ‘kokoh’ dan tidak pecah ketika diolah menjadi masakan. Sedangkan tiram pada umumnya pecah ketika dimasak. Dan ini jadi keunggulan tiram Aceh. Berbeda dengan tiram dari Jawa yang cenderung sudah tercemar limbah industri.  

Amir juga menuturkan ada beberapa menteri dan elite nasional yang menyukai tiram aceh yang diakuinya sangat renyah, ketika dimasak dengan ala Aceh, entah itu pedas atau tidak.

Malahan jika ada acara di kantor, mereka pesan tiram ini dengan pesan dahsyat bahwa tiram ini bebas dari polutan laut. Tentu tamu yang menikmati itu akan ketagihan untuk mengulangi lagi mencicipinya.

“Maklum, kuliner dari Aceh itu hanya ada enak dan sangat enak,” ungkapnya.

“Tiram aceh jadi salah satu favorit menu di sini. Kuliner lain yang diminati yakni Ade kak Nah. Kami order Ade Kak Nah dari Banda Aceh setiap minggu. Kalau sanger sudah pasti bisa diterima oleh tamu dan sudah jadi tren di Jakarta,” terang Amir.

Menu-menu Tiram Aceh, Ade kak Nah, dan Kopi Sanger selama ini memang sudah menjadi primadona di ibu kota dengan kehadiran sejumlah cabang The Atjeh Connection. Menu-menu tersebut melengkapi menu yang sudah eksis duluan seperti Mie Aceh, Timphan, Kuah Pliek, Ayam Tangkap, Martabak Aceh dan lain-lain. 

“Kita perlu mengekspor kuliner Aceh ke Jakarta, karena ini juga akan membantu meningkatkan taraf perekonomian pelaku usaha kuliner di Aceh. Ini juga menjadi bagian kita memperkenalkan Aceh dengan ‘Diplomasi Kuliner’,” tandasnya.

***

(Artikel ini ditulis oleh Murizal Hamzah dan telah dimuat di serambinews.com pada 22 Maret 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA TERBARU

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda