Menguak Sistem Kuliah di India

-

- Advertisment -

Menguak Sistem Kuliah di India

Kampus IITB Mumbai. [Foto: Teuku Cut Mahmud Aziz]
Oleh: Teuku Cut Mamud Aziz, S.Fil, M.A
[Penerima Hibat Riset dan Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI Tahun 2018 & Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]
September 2015 menjadi tahun kunjungan pertama saya ke Negara Anak Benua. Penulis bersama Drs Nurdin Abdul Rahman menghadiri konferensi “Look East and Look Indonesia” di Jawaharlal Nehru University (JNU), New Delhi. Makalah yang kami presentasikan berjudul “Indonesia-India Bilateral Culture and Trade.” Yang menjadi panitia konferensi, sebagian besarnya adalah Mahasiswa JNU yang mengambil Kursus Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa internasional yang digemari di JNU. Peminatnya terus bertambah setiap tahunnya.
Ketika sesi istirahat (makan siang) banyak mahasiswa yang mendekati peserta konferensi dari Indonesia. Mereka ingin berkenalan. Mereka mengatakan sungguh senang dapat berjumpa langsung dengan native speaker asal Indonesia karena bisa langsung mempraktekkan bahasa Indonesia.
Terlihat mereka begitu semangat. Ada kejadian lucu sewaktu saya menuju toilet, seorang mahasiswa mengikuti dan menunggu saya di luar toilet. Ketika saya keluar, ia langsung menyapa dan memperkenalkan diri. Bernama Ahmad, Mahasiswa Program Studi Linguistik. Dari penampilan dan pakaian yang dikenakan, kemungkinan ia seorang Jamaah Tabligh.
Ia mengatakan,”Boleh saya bicara kepada Anda? Saya ingin belajar bahasa Indonesia.” Bahasa Indonesianya masih sangat terbatas, ucapannya terbata-bata tapi sungguh mengagumkan, ia terus berbicara. Saya mendengar dengan tekun dan ikut membantu membetulkan ucapannya.
Tiga tahun kemudian, April 2018, Tuhan mentakdirkan saya bertemu kembali dengan Ahmad di satu konferensi di JNU di gedung yang sama. Waktu itu saya dan Dr. Ichsan (Dosen Fakultas Ekonomi Unimal) hadir di konferensi selaku Tim Peneliti BPPK Kemlu RI, untuk melakukan wawancara kepada sejumlah narasumber.
Saya masih ingat dengannya dan ia juga masih ingat kepada saya. Saya sungguh terkesan, bahasa Indonesia sudah lancar. Ia mengatakan,”Bapak, saya sekarang bisa tiga bahasa. Saya belum pernah ke Indonesia atau Malaysia tapi saya bisa bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dan Melayu tidak berbeda sangat. Saya belum pernah ke Arab tapi saya bisa bahasa Arab, dan saya belum pernah ke Israel tapi saya bisa bahasa Ibrani.”
Ungkapnya lagi,”Saya akan belajar terus sampai tua.” Bahasa tubuh yang terpancar darinya, dapat saya rasakan juga ketika berkomunikasi dengan sejumlah Mahasiswa JNU lainnya. Bahasa tubuh yang saya maksudkan adalah gambaran keseriusan dan semangat mereka untuk belajar. Terlihat pancaran wajah anak-anak yang pintar.
India memiliki sejumlah kampus terbaik yang tersebar di sejumlah Negara bagian. Bangunan kampusnya berukuran besar, berarsitektur modern, dan juga bergaya Eropa. Ada sepuluh kampus di India yang dinyatakan terbaik, berdasarkan versi 4icu.org Tahun 2017, yaitu Indian Institute of Technology Bombay (IITB), Indian Institute of Technology Kanpur, Indian Institute of Technology Madras, University of Delhi,  Indian Institute of Technology Delhi, VIT University, Lovely Professional University, Sampurnanand Sanskrit Vishvavidyalaya, Indian Institute of Science, dan National Institute of Mental Health and Neuro Sciences (Kampuscenter.com, 2017).
Dalam kegiatan Market Intelligence BPPK Kemlu RI di India pada Desember 2018, saya dan Dr. Muzailin Affan ke IITB di Mumbai. Dari Chennai sekitar dua jam perjalanan naik pesawat. Dr. Muzailin diundang oleh koleganya, Arnab Das, Executive Officer of International Relations Office of IITB, untuk melihat langsung kampus IITB sekaligus penjajakan kerja sama.
Yang mana sebulan berikutnya, Arnab Das melakukan kunjungan balasan ke Unsyiah dalam rangka menjadi narasumber di salah satu kegiatan Kantor Urusan Internasional Unsyiah. Selanjutnya pada Januari 2019 Unsyiah dan IITB melakukan penandatanganan MoU. Yang rencananya akan diikuti oleh Universitas Almuslim dan Universitas Malikussaleh.
Kegiatan awal yang akan dijajaki yaitu Program Pertukaran Mahasiswa. Jika ini terlaksana maka akan menjadi yang pertama di Indonesia, Program Pertukaran Mahasiswa antara kampus di Indonesia dengan IITB Mumbai. Kampus yang didirikan tahun 1958 dan diresmikan oleh PM India, Pandit Jawaharlal Nehru saat ini merupakan terbaik nomor satu di India. Lulusannya banyak bekerja di luar negeri. Konsep kampusnya seperti Massachusetts Institute of Technology di Amerika. Pendidikannya tidak hanya fokus pada ilmu-ilmu teknik tapi juga ilmu-ilmu sosial.
Ada beragam informasi menarik yang diceritakan Mahasiswa Indonesia yang kuliah di beberapa kampus di India. Seperti dalam sistem mengajar, dosen  masih menggunakan kapur untuk menulis di papan tulis. Tidak menggunakan LCD dan infokus. Bangku kuliahnya pun begitu sederhana seperti bangku sekolah siswa di Indonesia.
Di Aligarh Muslim University, contohnya perkuliahan sering dilakukan di ruang dosen, tidak di ruang kelas. Kalau di Jamia Millia Islamia, proses pembelajaran lebih menekankan pada pembelajaran mandiri. Mahasiswa dituntut untuk banyak membaca, menulis, dan berdiskusi. Penilaian akhir hanya melalui kualifikasi Ujian Akhir Semester. Mahasiswa tidak dituntut harus hadir penuh di perkuliahan.
Tidak ada penilaian kuis, tugas akhir, maupun kehadiran. Namun ada kampus yang menerapkan kualifikasi penilaian berdasarkan tugas akhir dan kehadiran. Masing-masing kampus berbeda metode dan sistem pembelajarannya. Tapi yang menyamakan semuanya adalah kewajiban untuk membaca buku dan jurnal sebanyak mungkin. Kalau kita mendengar, rasanya tidak percaya, jawaban satu soal ujian final ukurannya sama seperti menulis satu makalah. Dapatkah kita bayangkan jika metode ini diterapkan di kampus-kampus di Indonesia?
Sewaktu mendapat informasi dari rekan-rekan di JNU bahwa suasana di JNU semakin malam semakin ramai, maka karena penasarannya, saya dan Pak Nurdin Abdul Rahman mencoba membuktikannya.
Kami diantar oleh mobil KBRI New Delhi sekitar jam sebelasan malam ke JNU. Sungguh terkejut kami, kampus yang luas dengan lingkungan sekitar masih seperti hutan alami, tapi jumlah orang di dalamnya ramai sekali.
Banyak orang berdiskusi, membaca, dan membeli buku. Perpustakaan kampus buka dua puluh empat jam. Mahasiswa di asrama diwajibkan untuk mengadakan diskusi dengan mengundang narasumber.

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda