Home / ACEH / Surat Terbuka untuk Rektor Unsyiah Terkait Tembok Darussalam

Surat Terbuka untuk Rektor Unsyiah Terkait Tembok Darussalam

Asrizal H Asnawi (Dok pribadi)

Assalamualikum Wr.Wb.

Salam mulia guru besar,
Perkenalkan saya Asrizal H. Asnawi salah satu masyarakat Aceh yang dulu tahun 1995 sempat ikut tes di Unsyiah, hanya saja tidak diterima.

Tapi, surat ini tidak mewakili siapapun. Tidak juga mewakili saya sebagai Anggota DPR Aceh saat ini, tidak juga mewakili mantan mahasiswa. Ini mewakili saya sebagai orang Aceh.

Guru Besar yang saya hormati,
Surat ini saya tulis dengan penuh cinta dan hormat saya kepada Guru Besar. Anggap saja ini sebagai pelepas rindu dan perajut ukhuwah di bulan yang mulia ini. Surat ini saya tulis karena kegelisahan saya, terkait konflik di Darussalam saat ini.

Sebagaimana postingan saya terdahulu, Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, sebagai “Tanah Suci” tiga Kampus, Universitas Syiah Kuala, Universitas Islam Negeri Ar Raniry, dan Perguruan Tinggi Teungku Chik di Pante Kulu.

Tempat ini dilahirkan dengan keringat Rakyat Aceh untuk Rakyat Aceh sebagai “Jantông Haté Rakyat Aceh”.

Guru Besar yang Mulia,
Saya tidak ragu, Anda selaku Guru Besar yang pernah menjadi Dosen Teladan, apalagi alumni Luar Negeri (Jepang) sebagai salah satu negara yang dulu menjadi cita-cita saya untuk mencari ilmu. Sedikitpun, kapasitas Anda tidak saya ragukan.

Saya tidak ragu, Visi dan Misi Anda untuk membangun pendidikan di Aceh, khususnya Unsyiah sebagai wadah yang Guru Besar pimpin saat ini. Sedikitpun, saya tidak ragu untuk niat mulia itu.

Saya paham, mungkin gelar Guru Besar yang Anda peroleh bukanlah di bidang sejarah. Mungkin, karena itulah beberapa kebijakan Anda mengabaikan nilai sejarah yang sudah ditoreh oleh Rakyat Aceh di masa lalu. Khususnya, terkait polemik tanah di Kota Pelajar dan Mahasiswa, Darussalam.

Guru Besar Yang saya hormati,
Mohon Maaf, surat ini tidak untuk menggurui Guru Besar. Hanya sekedar untuk mengingatkan yang mungkin luput dan lupa dalam ingatan Anda, atau mungkin terlalu sibuk dengan aktivitas akademik hingga Bapak lupa mengkaji dan membaca sejarah, khususnya sejarah universitas yang Bapak pimpin saat ini.

Berdasarkan diskusi saya dengan beberapa teman-teman yang pernah menuntut ilmu di Darussalam, dan teman-teman pegiat sejarah Aceh, saya mendapat informasi bahwa “Tanah Darussalam” yang meliputi tiga kampus itu adalah hasil keringat Rakyat Aceh sebagai konsensus dari perang yang melelahkan (Darul Islam Aceh) pada tahun 1953.

Sehingga, para pemimpin Aceh kala itu berkomitmen untuk mendirikan Darussalam sebagai pusat pendidikan bagi putra putri Aceh.

Para indatu Aceh ingin mengubah mindset Aceh sebagai daerah konflik (Darul Harb) menjadi negeri yang penuh kedamaian (Darussalam).

Mengutip keterangan yang tertulis dalam buku “Jajasan Dana Kesedjahteraan Atjeh”, seluruh elemen masyarakat Aceh ikut serta menyumbangkan hartanya untuk mencapai cita-cita itu.

Masyarakat Simeulu telah menyumbangkan 10 ekor kerbau untuk Darussalam, masyarakat Aceh Utara juga ikut menyumbangkan 1 ekor kerbau, dan Aceh Timur (kampung halaman kita) 1 ekor Kerbau. Masing-masing dengan cara pelelangan.

Tidak hanya itu. Seluruh organisasi pelajar, pedagang, wanita,angkutan, partai dan organisasi massa di Aceh melakukan gerakan besar-besaran untuk penggalangan dana pembangunan Darussalam.

Mulai dari pengumpulan botol kosong, kertas koran, beras dari rumah ke rumah, mengadakan pertunjukan, pasar malam dan sandiwara, bahkan sampai pengutipan wajib dari setiap pelajar sekolah, pengawai negeri dan Aparat Keamanan di Aceh.

Tujuannya hanya satu, menyumbangkan semuanya untuk pembangunan Kopelma Darussalam, tempat Bapak mengabdi saat ini.

Guru Besar Yang Terhormat,
Keringat rakyat Aceh itu tidak bisa dianggap murah dan tidak bisa diukur dengan apapun. Harapan yang dibangun atas darah dan airmata rakyat Aceh di masa lalu.

Tidak hanya itu, Rakyat Aceh juga ikut menyumbangkan emas untuk Darussalam. Mulai dari rencong emas, sanggul emas, kerabu emas, gelang emas, peniti emas, sampai kepada topi emas.

Perlu Guru Besar catat, SMA Darussalam, Tugu Darussalam, Fakultas Ekonomi di Universitas Bapak, rumah di lingkungan Kampus Bapak, semuanya dibangun atas sumbangsih Rakyat Aceh.

Bahkan, karena besarnya rasa cinta kepada pendidikan di Aceh semua korporasi Aceh ikut menyumbangkan perumahan untuk dosen, poliklinik, dan asrama mahasiswa.

Mulai dari Dagang Sepakat, Bank of Sumatera, N.V Permai, CV Leupung, CV. Tiro, sampat Atjeh Kongsi ikut memberikan sumbangannya bagi Darussalam.

Professor Yang Terhormat,
Mungkin ini menjadi pengingat buat kita. Bahwa pendahulu kita menamakan Darussalam sebagai Jantông Haté Rakyat Aceh.

Hati Rakyat Aceh sudah diwakafkan untuk Darussalam yang sama-sama harus dijaga sebagai warisan kepada anak cucu kita di masa depan.

Bukan soal sertifikat dan legalitas. Tapi soal cara pandang kita yang bijak dan berkualitas.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Anggap saja Surat ini sebagai angin yang mampu meneduhkan dan merubuhkan tembok pemisah antara UIN dan Unsyiah serta masyarakat sekitar.

Sehingga perjuangan Aceh dari Darul Harb ke Darussalam tidaklah sia-sia.
Karena “Darussalam bukanlah Yerussalem”.

Jabat Hangat,
Asrizal H.Asnawi