Home / BERITA TERBARU / Geliat Dokter Aceh di Pedalaman Asmat

Geliat Dokter Aceh di Pedalaman Asmat

Saya (jakat merah) dalam perjalanan dengan speedboat. (Foto: Dok. Fajri)

Oleh Dr Fajri  (Dokter di Kabupaten Asmat)

Sabtu, 5 januari 2109, saya (dr.Fajri) bersama 2 perawat laki-laki memberanikan diri kembali ke tempat tugas setelah mendapatkan izin dari kepala Puskesmas Suru-Suru agar bisa kembali untuk pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya di lembah pegunungan tengah di Distrik Suru-Suru, di pedalaman Kabupaten Asmat yang berbatasan dengan  Kabupaten Yahukimo, pegunungan Wamena dan juga dengan pegunungan Kabupaten Nduga.

Sabtu pukul 09.30 Wit, saya yang berasal dari Aceh – ujung barat ke ujung timur – bersama 2 staf meninggalkan ibu kota Asmat ke lembah pegunungan tengah setelah diantar oleh Kepala Puskesmas di pelabuhan fery-Agats, kepala puskesmas belum bisa ikut kembali ke tempat tugas karena ada pengumpulan laporan LPJ pada 7 Januari, dan akan menyusul kembali ke tempat tugas dalam waktu dekat bersama staf yang lagi berlibur natal dan tahun baru.

Kami pergi dengan speedboat 40 PK selama 6-8 jam. Kadangkala saya menyetir speedboat itu biar tidak jenuh.

Setibanya di tempat tugas, malamnya saya memberikan kabar gembira kepada kepala dinas kesehatan Kabupaten  Asmat bahwa beliau sudah di tempat tugas dan harapan serta doa dari kepala dinas kesehatan Kabupaten Asmat, agar kami selalu dalam lindungan-Nya dalam menjalankan tugas yang sangat mulia.

Menjelang pertengahan bulan desember sempat terjadi isu gangguan keamanan di wilayah pelayanan saya dan kawan-kawan serta semua petugas kesehatan mengamankan diri ke ibu kota kabupaten Asmat setelah mendapatkan izin dari kepala dinas kesehatan, dan sebelum meninggalkan tempat tugas kepala dinas kesehatan Asmat mengintruksikan kepada petugas kesehatan di wilayah Suru-suru sebelum meninggalkan tempat tugas agar memberikan kabar kepada tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat mengenai kondisi dan situasi di awal Desember 2018, dan mereka memaklumi situasi untuk sementara waktu meninggalkan tempat tugas dan kami berjanji kepada mereka akan kembali lagi dalam waktu dekat ini.

Dengan tekad keberanian sang dokter bersama rekan-rekannya akan kepeduliannya terhadap  masyarakat di wilayah kerjanya yang membutuhkan pertolongan medis, terutama ibu-ibu yang mengikuti program Seribu Hari Kehidupan Pertama yang sudah mendekati waktunya persalinan di awal pada januari 2019 yang membuat saya tidak tenang ingin kembali secepat-cepatnya ke tempat tugas, dengan niat ingin melayani semua perjalanan yang dilalui berjalan dengan mulus di awal pelayanan pada 2019.

Dan pada 10 Januari, firasat seorang dokter ini terjadi dan mungkin ini menjadi kado terindah di awal tahun 2019.

Tepat pukul 00.15 wit, ada sekelompok warga berdatangan ke puskesmas, dan saya menanyakan kepada warga tesebut,

“Pace ada yg bisa dokter bantu, pasti ada yang mau melahirkan kah..?” tanya saya kepada warga tersebut, dan benar malam itu mereka kedatangan tamu istimewa yaitu, ibu yang mau melahirkan di fasilitas kesehatan Puskesmas Suru-Suru.

Hal yang saya khawatirkan selama ini, dini hari itu tiba. Dengan sigap, saya bersama perawat dibantu kader kesehatan yang sudah terlatih membantu memimpin persalinan dengan lancar.

Saya membantu persalinan di pedalaman Asmat. (Foto: Dok. Fajri)