Jokowi, PKS & PKI

-

- Advertisment -

Jokowi, PKS & PKI

Presiden Joko Widodo. (Zamzami Ali/Klikkabar.com).

Oleh: Andi Irman (pengamat media)
Umat Islam selalu bilang dizalimi oleh penguasa. Anehnya hanya di era Jokowi begitu kencang perasaan terzalimi itu. Padahal sebelumnya lebih terzalimi. Ulama dan tokoh Islam dicekal. Salah bicara dalam dakwah, besoknya sudah ditangkap. Partai beraliran Islam hanya ada satu. Selebihnya dibredel.
Di era Jokowi orang bebas demo dan menghujat presiden. Posisi ulama ditempatkan secara terhormat. Dua petinggi NU dan Muhammadiyah ditempatkan sebagai wantimpres dan ketua penasihat idiologi. Ketika Era SBY yang merupakan presiden alumni dari universitas Orba era Soeharto politik adem.
Tidak ada demo berjilid jilid. Tidak ada aksi ganti presiden. Tidak ada fitnah yang begitu masif seperti era Jokowi. Padahal di era SBY, Habib Riziq dijebloskan ke Penjara, Abu Bakar Basyir dipenjara. Di era Jokowi, Habib Riziq dengan santai berada di luar negeri walau tersangkut banyak kasus. Di mana dizaliminya?
Tahun 2010 pilkada Surakarta, Pasangan Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo diusung oleh PDI Perjuangan, dan mendapat dukungan penuh dari PKS, Partai Amanat Nasional (PAN), serta Partai Damai Sejahtera. Jadi, kalau Jokowi terindikasi Komunis tidak mungkin bisa lolos dari penilaian PKS, PAN yang sangat hebat dalam melakukan verifikasi terhadap calon yang akan diusung sebagai walikota.
Bahkan ketua tim kampanye Jokowi adalah Hidayat Nur Wahid salah satu ketua PKS. Artinya, jauh sebelum Jokowi jadi presiden, yang melambungkan Jokowi ke pentas politik ya Partai yang berbasis Islam seperti PKS dan PAN. Kalaulah Jokowi itu terindikasi Komunis sebelum bertarung sudah hancur di Solo.
Kalau keislaman Jokowi diragukan tidak mungkin PAN dan PKS mau mendukung Jokowi. Karena ketika itu lawannya didukung oleh Golkar dan PD yang menguasai data inteligent siapa yang terindikasi komunis. Mengapa sekarang tuduh Jokowi PKI dan anti Islam?
Seharusnya tahun 2011 sudah terjadi divestasi PT. Freeprort Indonesia. Tetapi Freeport tidak peduli dengan UU Minerba. Tidak ada yang bilang SBY tidak punya nasionalisme. Divestasi Freeport diubah dari 51% jadi 30%. Semua diam dan senang.
Padahal itu amanah UU. Berkali-kali SBY dan elite politik ke China dan menjalin MoU dengan china untuk pembelian Pesawat dan Pembangkit listrik, namun tidak pernah ada ribut soal negeri ini akan dijajah china seperti sekarang.
Proyek Malaka bridge di setujui oleh SBY sebagai kelanjutan proyek OBOR tetapi di era Jokowi dihentikan karena Jokowi tidak ingin Indonesia masuk dalam proyek OBOR sebelum siap bersaing. Mengapa kini Jokowi yang dibilang pro China?
Di era SBY kesepakatan China-Asean FTA (China Asean Free Trade Area) sebagai kelanjutan dari AFTA (ASEAN FREE TRADE AREA) dan kemudian berubah menjadi ME ASEAN. Tidak ada orang bilang SBY pro asing karena membuka Indonesia secara bebas dikawasan ASEAN dan ASIA.
Namun di era Jokowi kesepakatan multilateral di revisi dengan mengambil alih jalur udara selat malaka yang selama ini dikendalikan oleh Singapura. Jokowi merengsek mengembangkan jalur pelayaran strategis alternatif ke dua lewat Selat Lombok ke Pacific yang dikuasai AS agar Indonesia timur dapat berkembang lebih cepat.
Blok Migas Mahakam dan Masela yang sekian puluh tahun dikuasai asing dan kini di ambil alih Jokowi. Tetapi mengapa Jokowi dibilang pro asing ?
Jokowi juga dibilang tukang gali utang. Padahal ketika SBY harga minyak sedang tinggi. Surplus terjadi sejak 2004. Tidak ada yang suruh SBY bayar utang. Malah suruh SBY membakar uang lewat subsidi BBM.
Tidak ada yang bilang SBY tukang utang ketika APBN defisit terjadi. Asalkan subsidi terus diberi. Ribuan triliun uang habis untuk sia-sia selama 10 tahun berkuasa.
Kini di era Jokowi, negara defisit. Tetapi pembangunan terus berlanjut. Bahkan angka kemiskinan bisa turun lebih baik sepanjang sejarah. Walau kita dalam tekanan krisis global dan defisit anggaran namun reputasi Indonesia di pasar uang global semakin tinggi.
Mengapa? Karena makro kita sehat. Di era Jokowi justru program pelunasan hutang dilakukan secara sistematis agar dalam jangka waktu terukur kita bebas dari utang. Tetapi mengapa selalu disikapi miring?
Mengapa ?
Jadi isu Jokowi keluarga antek PKI atau Jokowi anti Islam, antek aseng itu hanya jargon yang dipakai sebagai alat propaganda dengan cara-cara yang dipakai PKI yaitu menciptakan fitnah terus menerus agar menjadi kebenaran itu sendiri.
Mengapa saya katakan fitnah? Tanya aja PKS dan PAN mengapa dulu mereka berkoalisi dukung Jokowi naik pentas politik?
Jadi kesimpulannya, tujuannya isu negatif itu hanya cara merusak reputasi Jokowi secara pribadi. Mengapa? Ya hanya dengan fitnah yang bisa membuat Jokowi jatuh. Di luar itu tidak bisa. Karena Jokowi sebagai presiden jauh dari KKN, patuh terhadap hukum dan UUD.
Secara pribadi, keluarganya harmonis dan setia kepada istrinya. Dan dia secara fisik pria sempurna, tidak invalid. Secara emosional dia stabil.
Sebetulnya pihak oposan sudah kehilangan cara untuk mengalahkan Jokowi dengan berbagai isu. Dari rekayasa kasus seakan ulama dizalimi, diteror, PKI, harga naik, rakyat menderita dan lain sebagainya. Karena rakyat sudah semakin cerdas bersikap. Semuanya dianggap oleh sebagian besar rakyat adalah omong kosong.
Makanya teori terakhir adalah menggiring indonesia masuk dalam wilayah konflik dengan asing. Agar pemerintah lemah.
Tetapi mereka lupa, bahwa Jokowi terlalu cerdas untuk bertikai dengan asing. Orang beradab paham bagaimana mengelola konflik menjadi peluang, mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat. Freeprot bukannya dimusuhi tetapi dirangkul jadi anak angkat dibawah ibu asuh Inalum. “Baik baik ya jadi anak atau tak jewer.”

BERITA TERBARU

- Advertisement -

Berita Populer

- Advertisement -

Mungkin Anda SukaBERITA TERKAIT
Rekomendasi untuk Anda