Home / ACEH / Dugaan Suap DOK Aceh oleh Sang Captain Cs, Fakta Atau Fitnah!

Dugaan Suap DOK Aceh oleh Sang Captain Cs, Fakta Atau Fitnah!

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH- Kabar mengejutkan datang dari Bumi Serambi Mekah, Hari itu Selasa 3 Juli 2018 malam, dua wartawan Klikkabar.com sedang menikmati makan malam disalah satu warung kopi di kawasan Lampineng, Banda Aceh. Turut ditemani dua rekan dengan profesi yang sama, kala itu menunjukkan waktu baru selesai shalat insya.

Namun sebelum itu, sudah terdengar ada kabar Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK di kota pusaka yang beredar disejumlah group WA, antara percaya dan tidak, wartawan mencoba menghubungi salah satu narasumber di internal Pemerintah Aceh terkait kabar angin tertangkapnya Irwandi Yussuf, Hendri Yuzal,Ahmadi dan T.Saiful Bahri, namun sumber itu belum mengetahuinya.

Para kuli tinta ini, melanjutkan makan malam, meski sebelum melanjutkan sempat hening suasana di meja kami mendengar kabar tersebut, meski belum begitu percaya, kira-kira 5 suap menikmati makan malam dan dua teguk teh hangat, suasana kembali hening saat bunyi HP berdering masuk pesan ke Group Redaksi, lagi-lagi soal informasi tertangkapnya sang Gubernur Aceh.

Spontanitas, gerak cepat, memangil sang kasir dan membayar makan malam kami. Bergegas menuju Polda Aceh bersama sejumlah awak media lainnya guna memastikan benar atau tidak kabar tak baik itu. Sesampai di Polda Aceh ternyata, benar adanya penangkapan orang nomor satu di Aceh, dan bahkan sesampai di Dirreskrimsu Polda Aceh, Irwandi sedang dimintai keterangan.

Lalu-lalang sejumlah pria berbaju kemeja memakai masker dan ber name tag KPK semakin meyakinkan pria yang kerap disapa Tgk Agam lagi ber urusan dengan lembaga anti rasuah.

Jelang tengah malam, anak Irwandi Yusuf Teuguh Metuah datang ke Polda Aceh, awak media semakin ramai diluar ruangan dengan kesibukan masing-masing, sebagian tertidur di teras, dan ada yang nonton piala dunia.

Dini hari jelang azan Subuh, tiba Darwati A.Gani yang masuk entah dari pintu mana, tiba-tiba Darwati nampak berjalan di lantai dua menuju ruang pemeriksaan Irwandi.

Syahdan, pagi itu sekitar pukul 9.00 Wib (lebih kurang) Irwandi dengan pengawalan ketat menaiki barracuda diantar ke bandara SIM Aceh Besar guna diberangkatkan ke Jakarta guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut di gedung merah putih.

Usai menjalani pemeriksaan di KPK, akhirnya Rabu malam 4 Juli 2018, oleh lembaga anti rasuah menetapkan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Bupati Bener Meriah, Ahmadi, sebagai tersangka.

Dalam jumpa pers di kantor KPK Rabu tengah malam, Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan mengumumkan secara resmi Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Bupati Bener Meriah Ahmadi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi, karena diduga menerima hadiah atau janji terkait alokasi dan penyaluran dana otonomi khusus Aceh tahun anggaran 2018 yang berjumlah 8 Triliun lebih.

Selain Irwandi dan Ahmadi, malam itu juga KPK menetapkan dua tersangka lainnya, yakni Hendri Yuzal (ajudan Irwandi Yusuf) dan Syaiful Bahri (kontraktor). Irwandi disebut KPK sebagai penerima. Sementara Ahmadi disebut sebagai pemberi.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan menetapkan empat orang sebagai tersangka, yaitu diduga sebagai penerima adalah IY (Gubernur Provinsi Aceh), HY, TSB merupakan swasta dan ini adalah orang-orang kepercayaan daripada gubernur. Kemudian diduga sebagai pemberi adalah AMD,” ujar Basaria malam itu.

Dalam konstruksi perkara, lanjut Basaria, KPK menduga upaya pemberian uang Rp 500 juta dari Ahmadi kepada Irwandi merupakan bagian dari Rp 1,5 miliar yang diminta oleh Irwandi, terkait komisi ijon untuk proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari dana otonomi khusus Aceh tahun 2018.

Basaria menambahkan dari total dana otonomi khusus Aceh sebesar Rp 8 triliun, diketahui ada pemotongan dana sebesar sepuluh persen. Delapan persen untuk tingkat provinsi dan dua persen untuk tingkat kabupaten.

Lebih lanjut Basaria mengungkapkan tim penyidik KPK dalam operasi tangkap tangan di Banda Aceh dan Kabupaten Bener Meriah Selasa malam itu, telah menyita barang bukti berupa uang tunai pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 50 juta, bukti setoran uang ke sejumlah rekening di Bank Central Asia dan Bank Mandiri, beserta catatan-catatan proyek lainnya.

Sebagai penerima, Irwandi, Hendri, dan Syaiful disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Sebagai pihak pemberi, Ahmadi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001.

Tak berhenti disitu, dalam lalu lintas percakapan yang didapatkan, tim penyidik juga menemukan adanya penggunaan kata sandi, diduga agar pihak penegak hukum terkelabui meski di sadaf.

“KPK telah mengidentifikasi penggunaan kode ‘satu meter’ terkait dengan transaksi yang terjadi,” sambung Febri Diansyah, di Jakarta, Kamis, 5 Juli 2018.

Meski sebelumnya oleh KPK telah mengutarakan sejumlah bukti dugaan suap DOK Aceh, Irwandi, saat keluar dari gedung merah putih menyampaikan kepada awak media bahwa dirinya merasa di jebak oleh oknum tertentu.

“Jadi, dikaitkan dengan saya atau apa, mungkin ada orang yang menyebut nama saya dan didengar oleh KPK,” kata Irwandi usai diperiksa KPK, Jumat 6 Juli 2018.

Ia menceritakan, satu minggu sebelum terlibat dalam kasus ini, ia pernah menangkap seseorang yang sempat meminta uang dengan mengatasnamakan dirinya.

“Dilihat saja, banyak sekali di Aceh begitu. Yang saya tangkap sendiri, satu minggu sebelum kejadian ini ada satu orang. Mengatasnamakan saya, menjual nama saya kepada saya, minta fee. Ada anak-anak muda di sana. Bukan orang gede,” ujar dia.

Menurut Irwandi, orang yang ditangkap waktu itu ternyata pernah ikut menjadi tim suksesnya.

Tak berhenti disitu, tim penyidik KPK juga menemukan pembicaraan yang diduga kuat ada kaitannya dengan dugaan suap Dana Otonomi Khusus Aceh atau DOK Aceh 2018.

“Sempat muncul juga dalam komunikasi, kalimat ‘kalian hati-hati, beli HP nomor lain’. Kami duga hal tersebut muncul karena ada kepentingan yang sedang dibicarakan sehingga khawatir diketahui oleh penegak hukum,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Senin 9 Juli 2018.

Namun sayang nya, juru bicara KPK hingga kini belum bisa menyebutkan siapa saja yang terlibat didalam percakapan itu serta belum bisa dijelaskan secara detail percakapan siapa yang meminta agar ada permintaan mengganti nomor HP tersebut.

KPK punya SOP, meski Irwandi telah menyebutkan dirinya di jebak, dan membantah menerima suap dan memintan suap, lembaga anti rasuah terus melakukan pengembangan, dan bahkan telah memeriksa 15 saksi dari berbagai unsur, mulai dari pejabat hingga pegawai bank, pemeriksaan dilakukan di Polda Aceh belum lama ini.

Belum lagi saksi yang diperiksa selain 15 orang itu,ada 4 orang saksi yang bahkan telah dijegal ke luar negeri, mereka adalah, Fenny Staffy Burase selaku teman dekat gubernur Aceh, Nizarli kepala ULP Aceh, Rizal Aswandi dan Teuku Fadilatul.

Aliran dana ke Aceh Marathon dan Hubungan Irwandi

Tenaga Ahli Aceh Marathon, Steffy Burase menjalani pemeriksaan di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Rabu kemarin, 18 Juli 2018.

Kuasa Hukum Steffy, Fahri Timur mengatakan, sepanjang pemeriksaan kliennya dicecar dengan 60 pertanyaan. Semua pertanyaan seputar hubungan Steffy dengan Irwandi serta aliran suap DOKA.

Fahri juga mengatakan bahwa Steffy Burase mengakui menerima aliran dana suap dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Diduga, uang itu berasal dari bancakan suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018.

“Aliran dana itu memang ada, tapi Ibu Steffy sendiri tidak pernah tahu (asal) dana itu,” kata Fahri Timur seperti dilansir metrotvnews.com, Kamis 19 Juli 2018.

Kata Fahri, dari hasil pemeriksaan, sebagian suap DOKA bakal digunakan untuk membiayai kegiatan marathon, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh.

Sementara, Steffy menyebut total uang yang bakal dialirkan ke acara marathon itu mencapai Rp13 miliar. “Medali sendiri mencapai Rp500 juta, untuk bajunya ada Rp300 sampai Rp400 juta, pokoknya untuk total event mencapai Rp13 miliar,” kata Steffy.

Steffy menjawab diplomatis saat disinggung hubungannya dengan Irwandi. “Kalau kira-kira hubungan profesional ada nikah siri enggak,” singkat Steffi.

Dari sejumlah saksi-saksi yang telah dimintai keterangan oleh tim penyidik, Juru bicara KPK mengaku semakin memperkuat pembuktian yang dimiliki penyidik dan sejumlah temuan awal (bukti) semakin terkonfirmasi dari beberapa keterangan saksi-saksi, demikian Febri.