Home / BERITA TERBARU / Bom Masjid di Mesir, Antara Pencatut Nama Tuhan dan Kaum Sufi

Bom Masjid di Mesir, Antara Pencatut Nama Tuhan dan Kaum Sufi

Kondisi di dalam Masjid Al-Rawdah, di Sinai Utara, Mesir, berantakan usai serangan mengerikan pada Jumat pekan lalu. Foto/REUTERS/Mohamed Soliman.

KLIKKABAR.COM – Salat Jumat di Masjid Al-Rawdah, Bir al-Abed, Sinai Utara, Mesir, menjadi salat terakhir dari ratusan jamaah yang meninggal saat bom dan penembakan brutal mengguncang pekan lalu. Sebanyak 305 orang tewas dalam pembantaian di masjid yang dikenal sebagai masjid kaum Sufi itu.

Para korban selamat dan Kejaksaan Agung Mesir telah memberikan laporan, di mana jumlah penyerang sekitar 25 sampai 30 orang. Sebagian membawa bendera hitam khas kelompok Islamic State atau ISIS.

Penyerang tiba dengan SUV. Mereka mengambil posisi di seberang pintu dan jendela masjid, dan tepat saat khatib hendak menyampaikan khotbahnya dari mimbar, para pelaku melepaskan tembakan dan melemparkan granat ke sekitar 500 orang di dalamnya.

Para jamaah menjerit dan menangis kesakitan. Mereka yang selamat berbicara tentang anak-anak yang berteriak saat mereka melihat orang tua dan saudara laki-lakinya dikejar oleh tembakan atau pun  terkena ledakan.

Ketika kekerasan akhirnya berhenti, 305 orang, termasuk 27 anak, telah terbunuh. Tak sedikit orang lainnya terluka.

Para penyerang mencatut nama Tuhan untuk “melegalkan” aksi mereka. Salah satu saksi mata, Ebid Salem Mansour, teringat bagaimana para penyerang meneriakkan “Allahu Akbar” atau kalimat Takbir saat mereka menembaki para jamaah.

Menurut saksi mata, para korban yang masih bergerak atau bernapas pada saat itu ditembaki di bagian kepala  dan dada. Ketika ambulans tiba, para penyerang masih menghujani tembakan sebelum akhirnya melarikan diri.

Meski para penyerang membawa bendera khas ISIS, kelompok teror itu belum mengaku bertanggung jawab atas serangan paling mematikan dalam sejarah Mesir modern.

”Kami tahu bahwa masjid tersebut diserang,” kata Mansour, 38, seorang pekerja di pabrik garam terdekat, yang telah menetap di Bir al-Abed sejak tiga tahun lalu. Dia menderita dua luka tembak di kakinya pada hari Jumat.

”Semua orang berbaring di lantai dan menundukkan kepala mereka. Jika Anda mengangkat kepala Anda, Anda akan tertembak,” katanya. ”Penembakan itu acak-acakan dan histeris di awal dan kemudian menjadi lebih disengaja. Siapa pun yang mereka tidak yakin sudah meninggal atau masih bernapas ditembak mati.”

Apa Salah Kaum Sufi?

Sepekan sebelum serangan, warga desa di dekat Masjid Al-Rawdah sudah mendapat ancaman dari sekelompok orang yang minta agar ritual yang berkaitan dengan kelompok Sufi dihentikan. Namun, komunitas sufi di wilayah sedang menyambut Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Warga dan pejabat yang bekerja untuk keamanan dan intelijen militer yang beroperasi di Sinai mengatakan, pengancam adalah kelompok lokal yang berafiliasi dengan ISIS.

Kelompok itu menganggap praktik Sufi adalah tindakan bid’ah. Ahli pemberontakan Sinai, Ahmed Saqr, mengatakan militan secara terbuka telah mengidentifikasi masjid tersebut, yang juga berfungsi sebagai pusat kaum Sufi, sebagai target pada bulan lalu.

”Pemilihan Masjid Al-Rawdah sebagai target menimbulkan pertanyaan tentang mereka yang membaca, menganalisis dan mengantisipasi di badan keamanan kami, dan apakah ada yang bisa dilakukan untuk mencegah kengerian yang tak terhitung jumlahnya itu,” tulis Saqr di akun Facebook-nya.

”Militan membagikan selebaran beberapa kali untuk meminta penduduk desa agar tidak bekerja sama dengan pasukan keamanan dan untuk meninggalkan tasawuf,” imbuh Mohammed Ibrahim, mahasiswa di desa setempat.

Analis terorisme, Mohannad Sabry mengatakan kepada Sky News, bahwa Sufi Islam telah terbukti menarik bagi kaum muda yang selama ini direkrut ISIS.

”Para sufi berhasil menarik ratusan pemuda dari organisasi teroris dengan cara yang tidak dapat dilakukan militer,” ujar Sabry yang juga seorang wartawan di Sinai.

”Dan saya percaya bahwa yang terpenting untuk ISIS adalah menghilangkan saingan ideologis mereka daripada saingan militer,” katanya.

Praktik Sufi identik dengan berbagai jenis nyanyian dan doa serta rajin memelihara tempat suci untuk mencapai kemurnian, yakni menyaksikan kehadiran Tuhan.

Ada sekitar 15 Juta Sufi di seluruh dunia, termasuk di Al Azhar, lembaga studi Islam tertinggi Mesir. Analis lain, Sami Moubayed, di Huffington Post, menggambarkan pemahaman Sufi yang cerdik untuk membongkar kedok ISIS.

”Hanya Sufi yang memiliki alat keagamaan, keterampilan intelektual, dan kelucuan politik untuk membongkar ISIS,” katanya. ”Itulah mengapa mereka dikucilkan oleh ISIS,” tulis dia. (Sindo)