Foto Mekkah dari luar angkasa
KLIKKABAR.COM – Aceh memang selalu istimewa. Kisah-kisah heroik filantropi memang tak pernah lepas dari masyarakat provinsi berjuluk ‘Serambi Makkah ini’.
Lihatlah, pesawat pertama yang pernah mencatat sejarah dirgantara Indonesia yaitu, RI-001 Seulawah. Dakota RI-001 Seulawah adalah pesawat angkut pertama Indonesia yang dibeli atas sumbangan rakyat Aceh pada 1948 dengan dana yang terkumpul ketika itu sebesar 20 kg emas.
Kedermawanan putra Aceh juga terekam dengan baik dalam sejarah perhajian. Sejak 210 tahun lalu, pada 1224 Hijriyah atau sekira 1800-an masehi, seorang darmawan dan hartawan asal Aceh, Tgk Haji Habib Bugak mewakafkan sebuah rumah di Qusyaisyiah (ketika itu berada di Marwa dan Masjid al-Haram, sekarang sudah berada dalam masjid, dekat pintu Bab al-Fatah).
Rumah tersebut diperuntukkan pada masa itu untuk penginapan orang Aceh yang datang ke tanah suci menunaikan haji serta orang Aceh yang menetap di Makkah sesuai dengan daya tampung rumah tersebut.
Menurut Jamaulddin affan, narahubung Pemerintah Aceh dan Nazir Wakaf Bugak Asyi, sebagai pengganti perumahan wakaf yang terkena dampak perluasan Masjid al-Haram tersebut, asset wakaf diganti dengan dua buah rumah di Jiyad Bir Al Balilah dan satu lagi berada di depan Hotel Syuhada.
Namun, kata dia, sejak pengelolaan haji berganti sistem ke muassasah, rumah tersebut tak lagi ditempati jamaah. Hingga akhirnya pada masa menteri agama alm Maftuh Basyuni, pemerintah Indonesia dan Menteri Arab Saudi, serta nazhir wakaf muncul kesepatan, sebagai pengganti manfaat tersebut, pihak Nazhir Wakaf Habib Bugak Asyi mengganti uang sewa rumah jamaah asal Aceh selama di Makkah yang dibayar pemerintah RI dengan uang sebasar 1.200 riyal.
Jadi khusus jamaah Aceh, berkaf wakaf ini, selain mendapatkan kembalian uang living cost mereka juga mendapatkan manfaat masing-masing orang dari Wakaf Habib Bugak Asyi, sebesar 1200 riyal.
“Ini berlaku untuk tiap jamaah haji asal Aceh tidak memandang etnis, mau Cina atau apa, asal dari Aceh dan memegang kartu penerima manfaat,” kata dia di sela-sela penyambutan kloter pertama jamaah Aceh Embarkasi Aceh (BTC) I di Makkah, Rabu (16/8) malam waktu Arab Saudi.
Wakaf ini, kata dia, bersifat permanen dan tidak bisa diutak-atik dananya oleh siapapun, sekalipun presiden. Pengeluaran satu riyal pun harus sepengetahuan Mahkamah Saudi. Demi kelangsungan semangat dan memberdayakan potensi wakaf tersebut, pihaknya mulai tahun berencana menghidupkan wakaf sebesar 100 riyal per jamaah haji asal Aceh.
”Bayangkan 50 tahun ke depan tentu potensi itu akan dahsyat,” kata dia sembari mengingatkan ada dua wilayah lain yang di Indonesia yang memiliki jejak wakaf serupa di Makkah, yaitu Sumbawa dan Sumedang, namun sayang tidak terurus dengan baik. (REPUBLIKA)
Klikkabar.com Jujur Mengabarkan