Home / ACEH / Kesira Bireuen: Rakyat Belum Merdeka Dalam Hal Kesehatan

Kesira Bireuen: Rakyat Belum Merdeka Dalam Hal Kesehatan

KLIKKABAR.COM, BIREUEN – Memperingati hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Ketua Kesehatan Indonesia Raya (KESIRA) Bireuen angkat bicara tentang makna kemerdekaan dalam pelayanan kesehatan selama ini.

“Arti merdeka bisa bermacam-macam, tak hanya lepas dari penjajahan. Buat apa merdeka pada akhirnya kita masih dijajah bangsa sendiri,” kata Ketua Kesira Bireuen, dr Hulaimi Djeunib melalui siaran persnya kepada Klikkabar.com. Rabu 16 Agustus 2017.

Menurutnya, bagi seorang dokter arti merdeka bagi pasien adalah terbebas dari penyakit yang diderita sudah hilang atau dengan kata lain telah sembuh. “Nah, untuk kesembuhan pasien kami dokter bisa melayani secara maksimal tanpa dibatasi-batasi dalam pemberian obat-obatan atau sebagainya,” ungkapnya.

Selain itu kata Hulaimi ada sejumlah fenomena yang menunjukkan ketidakmerdekaan dalam pelayanan kesehatan, seperti biaya berobat walaupun telah gratis, namun biaya perjalanan ke rumah sakit tidaklah gratis, dengan kata lain MRI, CT- SCAN gratis tapi perjalan ke RS Rujukan non emergency tidaklah gratis.

Saat ini, ia mengungkapkan bahwa pemerataan alat kesehatan hanya di kota saja, sehingga mengakibatkan rakyat saat berobat ke faskes lanjutan ada keluarga yang menolak karena tidak ada biaya hidup untuk dirujuk

“Masih ada kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 dalam pelayanan kesehatan, harusnya pelayanan kesehatan itu tanpa sekat, itu baru merdeka, hak pejabat dan rakyat sama aja, jangan hanya slogan waktu asuransi temanya adalah “gotong royong”, namun pas saat pelayanan yang ditanggung negara tetap kelas 3 yang kebanyakan dihuni oleh banyak pasien,” katanya miris.

Oleh karena itu, ia mengajak kepada seluruh dokter untuk menjadi pahlawan, walau profesi dokter tidak pernah disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa.

“Ayo perangi penyakit rakyat, bekali pendidikan (penyuluhan) kesehatan kepada pasien dan rakyat, sehingga yang sakit tidak menularkan ke yang lain, yang sehat mengetahui bagaimana tidak terinfeksi penyakit dari orang sakit,” tutup dr Hulaimi.