Home / ACEH / Ini Permintaan Akmal Usai Dilantik Sebagai Bupati Abdya

Ini Permintaan Akmal Usai Dilantik Sebagai Bupati Abdya

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf melantik Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat Daya Periode 2017 – 2022, Akmal Ibrahim dan Muslizar MT
di Aula DPRK Abdya, Senin, 14 Agustus 2017

KLIKKABAR.COM, ABDYA- Akmal Ibrahim, seusai dilantik sebagai Bupati Aceh Barat Daya meminta beberapa hal kepada Gubenrur Aceh Irwandi Yusuf. Di antaranya adalah pembangunan Pelabuhan Surin dan pembangunan pabrik kelapa sawit. Permintaan tersebut diutarakan Akmal untuk mewujudkan Abdya sebagai bagian dari keinginan Irwandi, yaitu Aceh Hebat.

Pembangunan Pelabuhan Surin sebagai lokasi lalulintas barang dan jasa sebenarnya sudah digulirkan oleh Akmal saat ia menjadi bupati daerah ini pada 2007 lalu. Akmal bahkan sudah membangun infrastruktur pendukung, pada saat itu.

Dengan pembangunan Pelabuhan Surin, lalulintas barang akan semakin mudah dan efisien. Di mana seperti diketahui ada sekitar 40 pabrik kelapa sawit di daerah ini. Puluhan pabrik itu menghasilkan sekitar 3000 ton Clude Palm Oil (CPO) per harinya.

“Bayangkan jika setiap harinya 3000 ton CPO sawit diangkut lewat darat. Selain merusak badan jalan dan juga cost ekonomi tinggi,” kata Akmal. “Karena itu kami tawarkan Surin sebagai gerbang regional dan gerbang internasionalnya Aceh.”

Surin merupakan sebuah danau kecil di pinggiran laut Babahrot Aceh Barat Daya. Meski lautan Abdya berada di kawasan lautan Hindia yang terkenal dengan ombak besar, namun Akmal memastikan teluk Surin tetap bisa dimasuki oleh berbagai kapal dengan ragam ukuran. “Surin itu berada di darat. Kita hanya membuka mulut ke laut dan tentu tidak pengaruh dengan cuaca di laut,” kata Akmal.

Selama ini, hasil alam Abdya dan sekitarnya seperti CPO sawit serta pinang dibawa ke Belawan Medan untuk kemudian diangkut ke berbagai negara khususnya India Pakistan dan Banglades. Pelintasan ke negara itu, juga dilalui melalui laut Aceh. “Kenapa tidak kita langsung buat pelabuhan sendiri.”

Jika pelabuhan Surin selesai, Akmal yakin Aceh akan kembali menjadi daerah yang masuk dalam tatanan ekonomi dan pergaulan dunia. “Abdya siap menjadi operator Aceh hebat.”

Selain itu Akmal meminta agar Irwandi melanjutkan pabrik kelapa sawit. Akmal juga meminta agar Pemerintah Provinsi mengintervensi harga beli sawit pabrik petani. Karena, meski negara telah mengintervensi harga beli sawit, yaitu paling rendah 20 persen dari harga CPO, hal itu belum lagi diterapkan di Abdya.

“Saya berharap, ke depan penentuan harga sawit diintervensi oleh pemerintah sesuai dengan instruksi menteri pertanian,” kata Akmal. Berkaca dengan apa yang telah diterapkan di Riau, yaitu pencabutan izin bagi pabrik yang tidak membeli sawit seharga yang telah ditetapkan, hal itu juga akan diterapkan di Abdya. “Kita juga akan cabut kalau ada instruksi gubernur.”

Permintaan Akmal langsung disahuti oleh Irwandi. Gubernur bahkan akan mencarikan investor untuk segera merealisasikan hal tersebut. “Pabrik kelapa sawit akan kita lanjutkan,” kata Irwandi. “Tidak lagi bicara pabrik CPO, langsung pabrik  refinery (pengolahan minyak sawit) yang akan kita bangun.” Irwandi meminta Akmal untuk segera mempersiapkan lahan untuk pembangunan tersebut.

“Mudah-mudahan dapat terjadi tahun 2018. Ekspor hasil refinery InsyaAllah akan terjadi di tahun 2021,” kata Irwandi.

Terkait Surin, Irwandi menyebutkan pelabuhan tersebut bisa menjadi pelabuhan penghubung. “Saya akan minta Menteri Susi agar pelabuhan ekspor tidak hanya di Belawan Medan tapi juga ada di Aceh. Saya akan adu argumen dengan Ibu Susi.”

Dengan pertimbangan pembangunan Pelabuhan surin, Irwandi meyakini bahwa pembangunan pabrik refinery di Abdya  akan lebih besar.

Kepada Akmal, Irwandi berpesan agar pembangunan daerah yang berbatasan dengan Nagan Raya dan Aceh Selatan itu, tidak hanya berpangku pada hasil sawit namun juga pada potensi lain seperti perikanan dan pariwisata.

“Potensi perikanan dan pariwisata di sini sangat tinggi. Tinggal macam mana menangkap dan menjaga kelestariannya,” kata Irwandi.

Selain itu, Irwandi berpesan agar Akmal menjaga hutan Leuser. Barang tambang yang ada di Lauser diminta untuk tidak diotak-atik. “Jangan hanya karena ada barang tambang di bawahnya kita sikat hutannya.” Barang tambang di perut bumi Aceh, lanjut Irwandi, merupakan warisan anak cucu sehingga harus senantiasa dilindungi.

Apalagi, banyak pengusaha tambang yang meminta Irwandi memberikan izin eksplorasi dengan menjual kabar deposit emas Aceh yang melebihi Irian. “Saya jawab untuk 4,7 juta rakyat aceh saya tidak perlu mengeruk perut bumi. Biar itu untuk anak cucu kami,” kata Irwandi.

Irwandi mengimbau kepada Akmal dan seluruh masyarakat Abdya untuk menjaga alam dan tidak mengambil dari alam melebihi dari kebutuhan.

“Jaga hutan dan lingkungan agar lestari aneka ragam hayati di hutan kita,” kata Irwandi.

Sementara itu, Zaman Akli, Ketua DPR Kabupaten Aceh Barat Daya, menyebutkan pasangan Akmal Ibrahim – Muslizar merupakan pilihan rakyat lewat Pilkada yang demokratis. Mereka berdua, kata Zaman merupakan sosok yang tidak asing dalam pemerintah Abdya.

Akmal diketahui pernah memimpin Abdya pada 2007 hingga 2012 lalu. Sementara Muslizar merupakan pimpinan DPRK dua periode berturut-turut. Pengalaman tersebut, ujar Zaman Akli bisa menjadi sebuah awal yang baik untuk menjadikan daerah penghasil pala ini menuju daerah yang mandiri dan pembangunan yang merata menuju Abdya yang sejahtera.

“Kami akan mengawal kebijakan bupati dan wakil bupati sebagaimana visi-misi mereka dulu,” kata Zaman Akli.

Kepada seluruh masyarakat Abdya, Zaman meminta agar diberi dukungan “upakan perbedaan dalam pilkada. Tidak ada lagi bupati dari kelompok tertentu.”

Dalam pilkada 15 Maret lalu, semua kandidat merupakan putra terbaik Aceh Barat Daya. Karena itu, Zaman Akli meminta agar pasangan lain mendukung pemerintahan Akmal dan memberikan sumbangan pikiran untuk kemajuan Abdya.