Isi dalam bangunan (Bonauli/detikTravel)
KLIKKABAR.COM, SABANG- Aceh disebut Serambi Mekkah salah satunya karena dulu jamaah haji berangkat dari Aceh. Di Pulau Rubiah ada Asrama Haji pertama di Indonesia, namun tinggal puing saja. detikTravel mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Sabang pekan lalu atas undangan dari Kementerian Pariwisata. Menjadi pulau perbatasan, Sabang punya asrama haji pertama di Pulau Rubiah.
Sejarahnya begini, pada zaman kolonial Belanda di tahun 1920-an, jamaah haji Indonesia meninggalkan negara ini untuk berlayar ke Arab Saudi lewat Sabang. Di Pulau Rubiah ini jamaah haji dikarantina dulu pada saat berangkat dan pulang untuk memastikan tidak membawa wabah kolera yang ditakuti saat itu.
Asrama haji ini berada dekat dengan dermaga Pulau Rubiah. Pulau Rubiah sendiri merupakan pulau yang berseberangan dengan Pantai Iboih. Jaraknya hanya 5 menit menggunakan boat.
Treking ke bekas Asrama Haji hanya memerlukan waktu 5 menit. Karena lokasinya berada dekat dengan pelabuhan. Traveler hanya tinggal mengikuti jalur yang sudah di paving blok.
Namun begitu menemukan bangunan Asrama Haji, perasaan kaget dan sedih bercampur menjadi satu. Bangunan ini sudah sangat kusam. Ilalang tumbuh sekitar bangunan dan pintunya sudah hancur. Langit-langitnya yang terbuat dari triplek juga sudah roboh. “Dulu ini asrama haji pertama, semua orang yang mau berangkat haji dikarantina di sini,” ujar Atim, salah seorang pemandu.
Hmmm, bangunannya tidak tampak tua-tua amat. Selidik punya selidik, ternyata, bangunan terbengkalai ini bukanlah bangunan asli. Ini merupakan bangunan renovasi. “Ini bukan bangunan asli, bangunan ini dibuat untuk penanda saja,” jelas Atim
Kalau renovasinya saja sudah hancur begini, yang aslinya bagaimana? Ternyata setelah ditengok detikTravel, sudah hancur dan tertutup dengan rumput liar. Yang tersisa cuma bagian dasar bangunan. Itulah bangunan Asrama Haji yang sejak zaman Belanda itu.
Isi dalam bangunan (Bonauli/detikTravel)
Bukan cuma asrama, di sini pun terdapat banyak makam para jamaah haji yang meninggal dalam perjalanan haji. Namun kuburannya juga sudah menyatu dengan tanah dan pepohonan. “Kalau mau berangkat haji dulu naik kapal, jadi kalau ada yang meninggal sewaktu perjalanan dimakamkannya di sini,” ungkap Atim.
Fasliitas asrama haji ini terbilang lengkap dulunya. Atim berkata kalau dulu sewaktu ia kecil, masih terlihat landasan helikopter di dekat bangunan asrama.
Penampungan air para jamaah haji pun tersedia di atas Pulau Rubiah. Memiliki nasib yang sama, penampungan air ini pun sudah tak berfungsi.
Yang tertinggal hanyalah ruang tampung air yang sangat besar dan kosong. Ular pun senang tinggal di dalam penampungan ini karena tempatnya dingin dan lembab. Jalur-jalur pipa air masih terlihat walaupun tanpa pipa. Semua hanya tinggal jejaknya saja. “Pengunjung datang cuma lihat saja, karena memang sudah tidak ada apa-apa,” tutur Atim.(detik.com)
Klikkabar.com Jujur Mengabarkan
