Rumah almarhum Keuchik Muklis. (Basri/YARA).
KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) menilai bahwa kematian Muklis, Keuchik Desa Blang Rambong, Kec. Banda Alam, Kab. Aceh Timur, diduga tidak wajar dan terkesan direkayasa. Sebelumnya, Muklis meninggal setelah dua timah panas menghujam tubuhnya, Jum’at, 24 Februari 2017 sore.
Muklis yang diduga oleh pihak kepolisian sebagai bandar narkotika jenis sabu-sabu, disergap di Desa Benteng, salah satu desa di kecamatan yang sama oleh tim Subdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh.
Dugaan tersebut dikatakan oleh Basri, kuasa hukum keluarga korban dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Timur kepada Klikkabar.com melalui telepon selulernya, Minggu, 26 Februari 2017.
Basri mengatakan, banyak kejanggalan yang ditemukan di lapangan terkait kematian Muklis. Status keuchik selaku pimpinan desa yang diembannya menjadi faktor utama yang membuat Basri tidak yakin akan tuduhan bandar narkoba yang dialamatkan kepada Muklis. Keadaan ekonomi di bawah rata-rata juga tidak membuat Muklis terlihat layaknya bandar narkoba yang biasanya terlihat hidup glamour dan bergelimangan penuh dengan harta.
“Bayangkan, rumah seorang bandar narkoba sangat jauh dari kata layak huni. Bahkan, jenazah korban saat dibawa pulang terpaksa disemayamkan di rumah tetangga karena takut rumah roboh, karena tidak mampu menampung beban tetangga dan kerabat yang melayat ke rumah,” kata Basri.
Sebelum kejadian, kisahnya, saksi mata mengaku bahwa Muklis saat itu dicari oleh dua orang yang tidak dikenal dan menelponnya untuk datang menemui mereka di warung. Muklis kemudian datang, menggunakan sepeda motor butut miliknya dengan menggunakan baju kaos dan kain sarung. Ia kemudian ‘ngopi bareng’ dengan dua pria itu. Tiba-tiba, datang pria lainnya menggunakan sepeda motor dan sejumlah pria lain yang menggunakan mobil.
“Mereka langsung mengeluarkan senjata seraya mengatakan angkat tangan. Namun, mungkin karena merasa tidak punya salah dan masalah apapun, Muklis kaget dan menanyakan, ‘peu salah long’ (apa salah saya),” ujar Basri.
Pria pengendara sepeda motor itu lalu berkata ‘Oo hana katepue peu kesalahan kah, jeh pat sabu dalam moto’ (Oo gak tau kesalahan mu apa, itu sabu-sabu di dalam mobil). Dan yang anehnya lagi, kata Basri, pria yang sedari tadi duduk bersamanya, ikut menodongkan senjata ke arah Muklis.
Basri juga mengklarifikasi bahwa, Muklis bukannya lari menghindari sergapan petugas tapi dia terlihat seperti ‘kucing-kucingan’ dengan petugas lantaran takut hendak dijebak. Muklis dikatakannya takut dijebak, karena sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres yanh akan menimpa dirinya.
Setelah ditembak, Muklis jatuh tersungkur di areal persawahan, petugas kemudian memanggil sejumlah warga untuk mengangkat korban dan membawanya ke rumah sakit seraya mengatakan bahwa, jika ada yang menanyai masalah ini, bilang saja kalau mereka tim dari Polda Aceh.
“Muklis berangkat dari rumah, sementara polisi dari arah Kota Idi. Dimana letak penyamarannya, kenapa harus di tempat keramaian (warung kopi) dan barang bukti kenapa harus di mobil terpisah dari lokasi korban,” timpalnya.
Kini, Muklis telah pergi selama-lamanya. Ia meninggalkan istri dan empat orang anak. Mereka harus menanggung beban ketidakadilan setelah tulang punggung keluarga mereka harus pergi dengan cara yang sangat tidak berprikemanusiaan.
“Kejadian ini disaksikan oleh banyak orang, Muklis bahkan sempat diinjak-injak setelah ditembak,” tambahnya.
“Kita akan segera menempuh jalur hukum untuk mendapatkan keadilan dari kejadian ini dan melaporkan kasus ini secepatnya ke Polda Aceh,” pungkas Basri.
REPORTER : ZAMZAMI ALI
KlikKabar.com Jujur Mengabarkan