Ilustrasi ekspor-impor (Getty Images)
KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Ekspor komoditi nonmigas melalui pelabuhan di Aceh pada September 2016 turun 48,89 persen dibandingkan Agustus 2016 dengan total nilai ekspor 720.858 USD. Pencapaian nilai ekspor pada periode Januari- September 2016 juga menurun 78,57 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015.
Sementara nilai impor Aceh pada September 2016 tercatat sebesar 1.327.451 USD, nilai ini juga turun 25,32 persen dibandingkan Agustus 2016. Pencapaian nilai impor pada periode Januari- September 2016 juga turun 82,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015.
Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin MM dalam berita resmi statistik di kantor BPS setempat, Banda Aceh, Selasa 1 November 2016. Ia menyebutkan ekspor komoditi nonmigas yang menurun di antaranya ikan dan udang.
“Ini pengaruh musim seperti angin, sehingga nelayan yang melaut berkurang, akibatnya hasil tangkapannya pun sedikit menurun. Hal ini yang menyebabkan sebagian penurunan di ekspor,” katanya.
Beberapa kelompok komoditi nonmigas yang diekspor melalui pelabuhan di Aceh pada September, yaitu ikan dan udang, serta bahan kimia anorganik. Sedangkan ekspor komoditi nonmigas terbesar dari Aceh pada September 2016 ditujukan ke Vietnam 495.948 USD dan Malaysia 222.501 USD. Sebagian besar yang diekpor berupa anhydrous ammonia.
Sementara impor menurut kelompok komoditi non migas pada September, kata Wahyuddin yaitu garam, belerang, kapur, plastik, barang dari plastik, serta kendaraan dan bagiannya. Sedangkan impor non migas terbesar berasal dari Malaysia sebesar 224.946 USD dan Thailand 155.400 USD. Namun pada periode Januari-September 2016, peran Jepang terhadap total impor non migas paling besar yaitu 45,83 persen atau 6.652.126 USD.
“Impor nonmigas mengalami penurunan karena kebutuhan kita mulai berkurang pada akhir tahun, seperti untuk mesin dan peralatannya. Selain itu, untuk alat-alat berat kita juga sudah mengimpornya sehingga di akhir tahun ini sudah tidak diimpor lagi,” jelasnya.
Kepala BPS Aceh, Wahyudin juga menyampaikan pada Oktober 2016 Banda Aceh deflasi 0,02 persen, Lhokseumawe inflasi 0,22 persen dan Meulaboh 0,32 persen. Secara agregat untuk Aceh pada Oktober mengalami inflasi 0,10 persen.
Wahyudin menyebutkan dari 84 jenis barang dan jasa di Banda Aceh, 40 jenis barang dan jasa menunjukkan adanya penurunan harga dan 44 barang dan jasa mengalami kenaikan. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga yaitu gembung, cumi-cumi, udang basah, emas perhiasan, cabai rawit, keruk, dan semangka. Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain, cabai merah, angkutan udara, daging ayam ras, beras, tarif listrik, bayam, rokok kretek filter, pir, dan tongkol.(serambinews.com)